Kamis, 15 Desember 2011

Sejarah Itu Berada di 502

Di posting kali ini saya ingin berbagi kisah kesialan saya. Tepatnya hari Sabtu minggu lalu, sekitar pukul setengah 12 siang, saya kecopetan. Itu merupakan pengalaman yang akan saya catat seumur hidup saya. Mengapa? Karena itu pertama kalinya saya kecopetan seumur hidup saya. Hari yang bersejarah.

Kesal, sedih, dan pasrah. Itulah yang bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika harus menerima kepergian BB saya. Ya, barang yang dirogoh oleh pencopet adalah BB saya. Betapa kejamnya mereka mencopet BB saya yang bahkan cicilannya pun belum lunas. Bahkan barang itu belum lebih dari dua bulan saya pakai. Miris memang.

Saya ingin berbagi kepada anda pengalaman kecopetan saya itu. Semoga bisa berguna bagi anda.

Hari itu teman wanita saya sedang ngambek. Saya dengan maksud baik ingin mengajak berdamai dengan menghampiri tempat lesnya di bilangan Salemba. Saya yang sedang berada di daerah Menteng ingin menemuinya setelah jam pulang lesnya. Maksud saya ingin tampak keren dengan tiba-tiba menghampiri dia saat keluar dari tempat les.

Saya naik kopaja 502 dan berniat untuk turun di depan RS St. Carolus. Sebelum naik saya tidak memiliki firasat buruk apapun. Dengan tenang saya menghentikan 502 yang melintas dan naik ke dalam kopaja tersebut.

Saat saya naik saya langsung mencari-cari tempat kosong yang bisa saya duduki. Tiba-tiba para lelaki yang duduk di bagian belakang saling bergeseran untuk memberikan saya tempat untuk duduk. Tapa berpikir apa-apa saya langsung menduduki tempat yang diberikan itu. 
Posisi duduk saya seperti ini, satu orang lelaki di sebelah kanan saya, dan dua orang lainnya di sisi kiri saya. Mereka tampak sudah bapak-bapak dengan kisaran usia 30-40 tahun.

Sejauh ingatan saya, saya hanya sekali memeriksa kantong saya dimana BB saya simpan dengan meraba kantong saya. Setelah memastikannya ada saya tidak lagi memegang-megang kantong saya sampai saya turun.
Ketika sudah mendekati Carolus, saya pun berdiri untuk bersiap-siap turun. Namun saat saya berdiri, seketika juga pria di sebelah kanan saya juga ikut berdiri dengan posisi tubuh seperti mendesak saya ke arah kiri. Saya hanya berpikir kalau dia terburu-buru dan ingin keluar dari kopaja lebih dulu dari saya.

Saya mendekati pintu keluar bagian belakang kopaja tersebut. Saat saya berniat turun tiba-tiba orang yang tadi duduk selang satu orang dari saya di sebelah kiri berdiri dan menghalangi pintu keluar. Orang ini tadinya duduk di bagian paling kiri sehingga paling dekat dari pintu.

Orang itu seperti menutup jalur keluar, namun sekali lagi saya hanya berpiir ia juga ingin keluar dari kopaja. Posisi saya terjepit karena dempetan orang di kanan dan kiri saya itu.

Setelah semakin mendekati Carolus, orang yang tadi menutup jalur saya tiba-tiba duduk kembali seperti salah mengira tempat turun. Saya pun merasa tindakan orang itu menyebalkan. Tadi menghalangi saya, namun ternyata tidak jadi turun. Sungguh menyebalkan. Saya pun turun dari kopaja itu.

Saat menuruni kopaja itu sya merasa seperti ada yang keluar dari kantong celana saya. Dan benar saja.

Saat baru menginjakan kaki di aspal, saya langsung meraba kantong kiri celana tempat terakhir BB saya simpan. Saya terkejut ketika ternyata kantong saya sudah kosong. Saya langsung menaiki lagi kopaja yang masih berhenti itu. Saya berteriak ke orang-orang di dalam "Woi! Copet-copet! Saya kecopetan! Copet!" Saya berteriak dalam kepanikan. Namun saya langsung terfokus pada orang-orang yang tadi duduk di samping-samping saya.

Tiba-tiba orang yang tadi berada di sebelah kanan saya berkata "Baju merah! Tuh kaos merah tuh!" Ia berkata demikian sambil menunjuk jauh ke arah luar. Seketika orang-orang yang tadi berada di sebelah kiri saya juga berkata demikian dan menyuruh saya mengejar orang berkaos merah.

Saya sempat beberapa detik memikirkan kata-kata orang itu dan melihat ke arah luar. Dan dengan sangat bodoh saya turun lagi dari kopaja itu dengan berniat mengejar orang berkaos merah yang bahan saya tidak tahu yang mana orangnya. Ketika saya telah turun dan ditinggalkan oleh kopaja yang telah melaju saya baru sadar, saya ditipu. 

Orang-orang yang tadi meneriakan orang berkaos merah adalah komplotan yang mencopet BB saya. Saya yakin demikian karena sadar bahwa sebelum saya turun, tak ada orang yang turun di tempat itu, apalagi berkaos merah. Saya mentah-mentah dicopet sekaligus ditipu oleh komplotan itu.

Orang di sebelah kanan dan orang yang berada paling dekat dengan pintu bertugas untuk mengapit serta membatasi ruang gerak saya. Dengan tubuh saya yang terjepit maka respon saya menjadi berkurang. Dan orang yang duduk tepat di samping kiri sya tentu saja yang bertugas untuk merogoh BB saya. Dia saya yakini mengambiol BB saya saat saya sedang terjepit oleh kedua orang lainnya. Pembagian tugas yang sangat cerdas, cerdik, dan penuh perhitungan

Saya begitu kesal dengan kebodohan saya. Kebodohan menghilangkan kesempatan di depan mata untuk menangkap pencopet BB saya. Saya telah diberikan kesadaran seketika oleh Tuhan namun tidak bisa berpikir secara jernih. Padahal kalau saya pikirkan sekarang, orang-orang itu sudah tampak panik ketika saya berteriak kecopetan. Satu orang secara spontan dengan rasa takutnya berusaha mengacaukan tuduhan saya ke mereka dengan mengalihkan subjek diikuti dengan yang lainnya. Namun saya malah mempercayai omongan mereka. Ya, kebodohan yang sangat memalukan.

Kalau diibaratkan situasi saya itu seperti acara satu lawan banyak yang sempat ada di salah satu stasiun TV. Daya pikir saya dikalahkan oleh tekanan psikologis dari beberapa orang, yang tentunya para pencopet itu.

Saya yang tadinya berniat tampak keren saat bertemu pasangan saya malah sangat murung dan emosi. Saat bertemu bukan kata maaf atau semacamnya yang terucap, melainkan 'BB Gani dicopet...' Saya tidak tahu apa perasaan pacar saya itu saat mendengar demikian. Kalau saya jadi dia, saya pasti tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Saya ingin berbagi beberapa saran untuk menjaga keamanan barang anda ketika di dalam angkot berdasarkan pengalaman saya ini, antara lain:
1. Jangan mengeluarkan barang-barang berharga anda seperti hp saat berada di dalam angkot.
2. Usahakan sebelum naik angkot, taruhlah barang-barang berharga anda di dalam tas jika anda membawanya. Jangan taruh di dalam kantong karena akan memudahkan untuk dicopet.
3. Jangan duduk di bagian belakang yang dipenuhi oleh orang-orang laki-laki yang seperti dalam satu kelompok apalagi jika mereka memberikan tempat duduk. Atau turun saja dari angkot ketika ada gerombolan yang masuk dan tampak mencurigakan.
4. Sebisa mungkin jika memungkinkan, pilihlah kendaraan lainnya selain kopaja atau sejenisnya. Keamanan anda dipertaruhkan.

Itu beberapa saran dari saya yang telah menjadi korban pencopetan. Karena kejadian ini mungkin saya akan menjauhi naik angkot untuk beberapa saat. 

Perlu saya akui, para pencopet itu sangat pintar. Andai saja kepintaran para pencopet itu untuk merencanakan aksi pencopetan yang begitu terencana itu digunakan untuk hal yang lebih baik. Sayang rasanya keterampilan mereka malah digunakan untuk mencopet. Tapi tetap saja, saya benci mereka.

Saya harap anda yang membaca posting ini belajar dari pengalaman saya ini. Setidaknya ketidakberuntungan saya ini bisa berguna untuk anda agar bisa lebih berhati-hati. Di luar sana, tak ada jaminan untuk keamanan anda.

Ada satu lagi yang menjadi pelajaran bagi saya. Dengan pengalaman itu saya membuktikan bahwa pengorbanan untuk berdamai dengan pacar itu sangat mahal. Saya harus kehilangan BB saya untuk bisa berdamai dengan pacar saya. Sungguh mahal bukan? Yah, bagaimanapun juga ini hanya kesialan saya.

Jumat, 09 Desember 2011

Dengar Tapi Tuli

Ada orang yang dibilang cerewet. Ada juga yang begitu suka untuk ngomong tak berhenti-berhenti. Entah karena memang hobinya itu berbicara, senang melihat orang lain mendengar ceritanya, atau faktor lainnya. Banyak orang seperti itu, yang bisa berbicara dengan sangat lama. Namun , bisakah  orang mendengar dengan sangat lama?

Mendengar lebih sulit daripada berbicara. Orang lebih sulit untuk dinasehati daripada dinasehati. Ini ada realita yang tak perlu untuk ditutup-tutupi. Mulut kita begitu aktif dipergunakan dibandingkan dengan telinga kita. Kita hanya mau untuk didengar, tapi jangan harap mau mendengar. Kita semua, termasuk saya, termasuk yang bersikap demikian, entah sering ataupun jarang.

Anak muda seringkali sangat tidak ingin untuk didikte dalam perilakunya. Omongan orangtua seringkali tidak digubris. Walaupun saya juga setuju kalau omongan orangtua itu pasti baik dan jika tidak dijalankan akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Namun sikap memberontak dari seorang anak muda akan membuat pendengaran mereka sangat buruk untuk hal nasehat-nasehat. Tapi apakah itu berarti orangtua lebih mau mendengar? Tidak juga.

Semakin bertambahnya umur seseorang tidak menjamin dia lebih dewasa untuk mau mendengar. Malahan tak jarang mereka yang sudah tua lebih keras kepala dan tidak mau mendengar perkataan orang lain. Mereka akan terus memakai pemikirannya sendiri dan tidak akan ada satupun yang bisa merubahnya. Meskipun perilakunya sudah jelas-jelas salah atau harus diperbaiki, orang itu akan ngotot. Apalagi jika yang menasehati mereka adalah orang yang lebih muda, tak akan berhasil.

Pertengkaran antar pasangan juga salah satu contoh buruknya kemauan untuk mendengarkan. Suami-istri yang sering bertengkar salah satunya adalah karena masing-masing pihak tidak bisa saling mendengar. Tidak mendengar akan mengakibatkan tidak mengerti keinginan dari pasangan. Nantinya akan berdampak pada pertengkaran yang tak jarang masalahnya itu-itu saja. Padahal jika salah satu mau untuk mendengar, mungkin akan lain ceritanya. Hal ini juga termasuk dalam hubungan pacaran. Mendengar adalah satu bentuk perhatian bukan?

Di luar sana, budaya mendengarkan yang buruk terdapat di segala ruang kehidupan. Entah itu di sekolah, masyarakat, atau pemerintahan. Guru meminta didengarkan oleh siswanya, namun kadang guru tak peduli keinginan muridnya. Kelompok masyarakat tertentu tak mau mendengar penjelasan kelompok yang lain karena menganggap kelompoknyalah yang paling benar. Pemerintah meminta dukungan dari rakyat sedangkan keluhan rakyat tidak mau didengarkan.
Saat orang lain sedang berbicara, yang kita lakukan seringkali bukanlah mendengarkan perkataannya, melainkan hanya menunggu orang itu sampai selesai dengan pembicaraannya sampai akhirnya giliran kita untuk berbicara. Benar demikian? Anda bisa membuktikannya sendiri dari gelagat orangtua anda saat berbicara satu sama lain. Kenapa tidak dari gelagat kita sendiri? Karena kita seringkali menutupi kekurangan diri kita. Biar orang lain menjadi cermin bagi diri kita.

Saya terkadang juga capek mendengar politisi yang sedang berdebat ataupun berdiskusi di TV. Mereka berkoar-koar dengan pendapatnya namun banyak di antaranya malah begitu ingin memotong pembicaraan orang sehingga ia mendapat kesempatan untuk berbicara. Terkadang hal yang dibicarakan sebenarnya itu-itu saja namun diputar-putar dengan gaya bahasa semau mereka. Terkesan bahwa mereka hanya ingin terlihat berbicara padahal isinya ya itu-itu saja. Dengarlah dahulu pendapat orang, cerna, lalu baru tanggapi dengan pemikiran yang benar. Kalau sama saja, tak perlulah berkoar-koar hanya untuk mencari muka.

Bagaimana bangsa ini bisa maju jika para politisi ataupun pemerintah hanya mau berbicara tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Yang ada hanyalah pertengkaran dan saling curiga antara satu sama lain. Padahal jika mau lebih mendengar pasti akan tercipta suatu pendapat bersama yang bisa dipakai unutk kepentingan bersama.

Mari kita mulai belajar untuk mendengar. Mulailah dari hal-hal kecil seperti di dalam keluarga atau di sekolah maupun di kantor. Jika ada orang lain sedang berbicara hargailah dahulu perkataannya, cermati dahulu sebelum anda memotong pembicaraannya, dengarkan dahulu maksud dari kata-katanya sebelum anda memikirkan kata-kata yang ingin anda keluarkan berikutnya saat orang itu selesai dengan perkataannya, dan lihat wajahnya saat ia sedang berbicara karena itu berarti anda menghargai orang yang sedang berbicara tersebut. Dengan didengarkan, orang akan merasa diterima. Jika anda ingin merasa demikian maka lakukanlah itu kepada orang lain.

Bagi anda yang memiliki pasangan cobalah mulai untuk lebih mendengarkan pasangan anda. Itu adalah cara termudah untuk melatih diri untuk mau mendengarkan, karena ada alasan tertentu yang seharusnya membuat kita lebih mau untuk mendengarkan perkataan orang yang kita sayangi. Dengarkanlah keluhannya atau apapun. Mungkin anda bisa lebih baik dalam hal mendengarkan. Untuk yang tidak punya pasangan, carilah pasangan agar bisa berlatih mendengarkan dengan cara itu.

Itulah sifat kita sebagai manusia. Hal kecil namun sangat penting dalam suatu relasi dengan orang lain, mendengarkan. Ya, memang sulit namun bisa untuk dilakukan. Jangan jadikan telinga anda 'tuli' dengan perilaku anda. Kita diberi telinga ini bukan hanya untuk mendengar ucapan mulut kita sendiri namun juga untuk mendengar perkataan, keluhan, permintaan, nasehat, atau hal lainnya dari orang di sekitar kita. Tapi sekali lagi, bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Senin, 05 Desember 2011

Serunya Petak Umpet Aspal

Siapa di antara anda yang waktu kecilnya tidak pernah main petak umpet? Saya rasa semua di antara kita pernah. Kalau anda tidak pernah saya patut prihatin kepada anda dan semoga suatu saat nanti ada yang membuat game petak umpet untuk ipad agar anda bisa bermain. Arena petak umpet bisa dimainkan dimana saja, asal ada tempat-tempat yang memungkinkan untuk kita mengumpet dari yang bertugas menjaga. Dan ternyata salah satu arenanya adalah jalan raya.

Peserta petak umpet di jalan raya tak lain dan tak bukan adalah para petugas yang dibilang adalah penjaga keamanan masyarakat yaitu polisi dan kita masyarakat semua pengguna jalan. Namun yang unik dari petak umpet jalan raya ini adalah si polisi bertindak sebagai yang ngumpet, sekaligus si penjaga. 

Begitu banyak polisi lalu lintas bertebaran di luar sana. Dan begitu banyak polisi lalu lintas yang menangkap pengendara kendaraan bermotor yang dianggap menyalahi aturan lalu lintas. Banyak sekali polisi yang menghukum pengendara. Tapi untung saja polisi kita itu baik-baik sehingga tidak menilang kita. Mereka malah menawarkan 'damai' dengan kita. Baik sekali bukan?

Menurut saya ada yang salah dengan cara kerja polisi lalu lintas. Pandangan saya adalah polisi bertugas untuk mengayomi masyarakat kita. Kemudian jika masih ada yang melanggar barulah di tangkap. Namun tidak demikian yang ada. Tidak terlihat tindakan mengayomi masyarakat untuk menjadi lebih baik lagi dalam perilaku di jalan raya. Mereka hanya menangkap atau muncul di jalanan yang sedang sumpek karena macet sambil mengayun-ayunkan tangan tanpa berbeda dengan pak ogah. Mungkin bedanya polisi tidak dikasih receh, sedangkan pak ogah iya.

Banyak polisi justru menempatkan diri di tempat yang membiarkan pengguna jalan untuk melanggar dahulu. Dan tentu saja mereka sering menempatkan diri secara tak terlihat sehingga bisa secara tiba-tiba menghentikan laju pengendara. Pengendara yang kena sial hanya bisa pasrah sambil mengingat-ingat jumlah uang yang mereka bawa di dompet. 

Menurut saya polisi seharusnya menempatkan diri di tempat yang terlihat sehingga masyarakat lebih teratur. Kalau sekarang ini masyarakat tidak akan belajar untuk mematuhi lalu lintas. Yang mereka takutkan bukanlah melanggar lalu lintas sehingga bisa mengakibatkan hal buruk di jalan, melainkan takut kena tangkap polisi. Polisi ingin mengatur masyarakat atau menjadi momok masyarakat?

Tidak memberikan tilangan kepada pelanggar lalu lintas juga tidak mendidik. Masyarakat justru tambah tidak takut untuk melanggar karena tahu hanya akan diajak 'damai' oleh polisi. Paling-paling mereka hanya akan kesal karena kehilangan 50 ribu atau 100 ribu yang diberi ke polisi. Tindakan 'damai' mereka juga malah bisa memberikan persepsi di masyarakat bahwa polisi kalau di jalan itu hanya sedang cari duit saja. Mereka sendiri yang telah merusak citra mereka di masyarakat. 

Perubahan semestinya dilakukan. Lebih tegas lagi. Bukan hanya tegas meminta uang 'damai'. Menilang tidak ada salahnya karena yang salah harus dihukum. Kalau mau menciptakan masyarakat yang teratur harus dimulai dari para petugas yang memang bisa secara tegas dalam bertindak. Lebih mengatur di jalan dibanding hanya mencari-cari pelanggar lalu lintas. Tempatkan diri di tempat yang memang memungkinkan mengatur, bukan tempat yang enak untuk tiba-tiba menghentikan laju kendaraan yang melanggar.

Itulah kenyataan yang terlihat di jalanan sana. Kita semua terlibat di dalamnya, atau mungkin salah satu korban aksi 'damai' yang tersebut di atas. Yang sama dari petak umpet saat kita kecil dan petak umpet jalan raya itu adalah, kita sama-sama tidak ingin ketahuan. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Rabu, 30 November 2011

Seksualitas Merah Putih

Bertepatan dengan hari pertama di bulan Desember ini, kita memperingati hari AIDS sedunia. Banyak dari antara kita menyatakan dukungan anti AIDS di hari ini melalui tulisan-tulisan di twitter atau facebook. Ataupun banyak juga yang memakai pita merah serta memasang logo anti HIV/AIDS. Posting saya kali ini tidak akan membahas mengenai seluk beluk penyakitnya karena saya bukan ahlinya, namun ingin melihat bagaimana  seksualitas di negara kita.

Apakah anda pernah mendapatkan sex education? Jika pernah, kapan anda mendapatkannya? Saat SMP? SMA? Universitas? Atau di luar itu? Beruntunglah anda jika anda pernah mendapatkannya. Karena di luar sana banyak saudara-saudara kita yang tidak berkesempatan mendapat ilmu tentang hal itu dengan benar. Kenapa dengan benar? Karena begitu banyak pencarian ilmu tentang hal itu yang salah.

"Ngapain ngajarin anak tentang seks? Toh nanti mereka akan belajar dan mengerti sendiri!" Ungkapan seperti ini tidak sedikit dikeluarkan oleh para orangtua. Saya pribadi miris jika mendengarnya. Ini bukan masalah mengerti dengan sendirinya, tapi masalah mengerti akan yang mana yang benar dan mana yang tidak benar. Banyak orang menganggap hal yang berkaitan dengan seks itu tabu, padahal menurut saya tidak sama sekali.

Kenapa seks itu harus dikaitkan dengan hal yang tabu? Bagi saya seks adalah hal yang manusiawi. Bisa dikatakan seks adalah naluri manusiawi kita sebagai makhluk hidup. Semua orang merasakannya. Masalahnya disini adalah apakah kita cukup dewasa untuk mengerti dan memahaminya. Dan disitulah letak edukasi diperlukan. Jangan sampai kita tak ada bedanya dengan seksualitas binatang.

Sangat disayangi banyak anak-anak di masyarakat kita harus mengenal hal-hal yang berkaitan dengan seks dari segi yang kasarnya. Saya cukup prihatin dengan hal itu. Pendidikan yang rendah semakin membuat mereka tidak bisa berpikir yang lebih baik. Tidak ada pendewasaan dalam hal ini.  Semakin dini diajarkan, maka pendewasaan masyarakat akan semakin cepat bisa terjadi.

Salah satu hal yang saya maksud hal yang kasar di atas adalah mengenai umpatan. Ya, manusia sangat suka mengeluarkan umpatan dengan memakai aktivitas seks yang anda sudah tahu disebut seperti apa. Anak-anak justru mengenal hal-hal demikian dari orang dewasa yang secara tidak langsung mencontohkan. Jujur saja, saya lebih tersinggung diumpat dengan kata-kata binatang dibanding dengan kata aktivitas seks itu. Kalau binatang berarti saya diumpamakan sebagai binatang tersebut, tapi kalau yang aktivitas seks itu? Saya tidak tahu di sisi mananya yang berbau menghina saya. Karena itu saya sampai sekarang tidak nyaman menggunakan aktivitas seks itu sebagai umpatan dan lebih menyukai binatang.

Internet tidak perlu disangkal sangat membantu untuk mendapatkan hal-hal seperti ini di jaman kita sekarang. berbeda dengan mereka dari generasi yang lebih tua, mereka lebih kesulitan mendapatkan hal-hal tentang ini, khususnya pornografi. pemerintah ingin menghapus situs-situs semacam itu? Tidak mungkin.

Seorang anak yang tidak pernah mendapatkan edukasi seks sangat mudah termakan pikirannya untuk hal ini. Pikiran polos mereka bertemu video pornografi, apakah seperti itu cara mereka untuk mengetahui tentang seks? Saya rasa tidak. Kita sudah tidak bisa menghalau hal-hal berbau pornografi. Yang bisa kita lakukan adalah mendewasakan diri agar tidak terjerumus terhadap hal yang salah. Tanpa perlu munafik, saya juga pernah membuka situs semacam ini.

Yang mau saya katakan adalah berikanlah adik-adik kita tameng terhadap hal-hal semacam ini dengan informasi dan pembelajaran dini tentang seks sebelum mereka bertemu dengan hal-hal pornografi. Tameng untuk apa? Agar saat mereka menemui hal-hal semacam ini pikiran mereka tidak langsung termakan dan bisa lebih dewasa bersikap.

Di luar sana tidak sedikit pula pernikahan dijadikan hanya semacam cara untuk bisa memuaskan kebutuhan seks. Memang betul salah satu tujuan pernikahan adalah membuat keturunan, namun apakah sesempit itu? 'Gak perlulah pacaran-pacaran, langsung kawin aja!' Ungkapan seperti ini begitu banyak di luar sana. Karena itu pula mungkin nikah-cerai dengan mudahnya dilakukan. Pernikahan tidak didasarkan pada rasa cinta, namun hasrat seks. 

Kadang saya merasa negara ini sungguh munafik terhadap hal seksualitas. Di luar sana begitu banyak PSK yang siap bekerja di setiap malam. Kalau merasa hal semacam itu dikatakan tabu untuk budaya kita yang dikatakan sebagai orang Timur ini, kenapa tidak ada kemauan untuk diberantas? Beberapa negara tetangga sudah membuat wanita penghibur sebagai sebuah profesi yang diakui atau bisa dibilang dihalalkan. Itu karena mereka sadar akan kabutuhan itu di masyarakat mereka. Kalau di negara kita, hal semacam itu kita tahu ada tapi dicoba ditutup-tutupi.

Kenapa pula film-film berbau pornoaksi dibiarkan saja beredar di Indonesia? Kalau mau mengharamkan hal semacam itu jangan tanggung-tanggung, nantinya malah menunjukan kemunafikan kita sendiri. Bagaimana generasi setelah ini bisa berkembang jika yang tua saja tidak bisa memberikan edukasi yang baik bagi mereka. 

Orangtua memegang peranan penting untuk mengontrol anak mereka. Jangan biarkan anak-anak mencari informasi sendiri yang cenderung ke arah yang salah. Sebagai orang terdekat, seharusnya keluarga menjadi tempat pembelajaran yang baik agar tidak terpengaruh efek negatif di luar sana.

Saya merasa beruntung mendapat edukasi seks saat SMP. Dan saya merasa semakin dini diberikan edukasi maka semakin cepat kedewasaan itu tercipta. Tindakan asusila bisa menjadi akibat dari pendidikan seks yang kurang dini. Rasa ingin tahu disalurkan dengan tindakan yang salah.

Berbicara tentang seks akan selalu mengundang kontroversi dan perdebatan. Selalu ada yang menganggap itu benar dan di kelompok lain menganggap itu salah. Namun yang saya tahu pasti, seks adalah karunia dari Tuhan bagi kita makhluk ciptaannya. 

Pesan terakhir saya, jauhilah narkoba dekatilah kondom. Perangilah virusnya, namun suportlah penderitanya. Yang kita perangi adalah AIDS, bukan penderita AIDS. Saya yakin ada diantara anda yang berpendapat berbeda dengan tulisan saya. Tak apa, karena bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Minggu, 27 November 2011

Mata dan Telinga yang Terpuaskan

Jarak, sesuatu yang terkadang menjadi sesuatu yang dibenci oleh banyak orang. Jarak juga begitu erat dengan masalah waktu. Dua dimensi itu sering dikatakan pemisah antara satu sama lain dan menjadi sebuah tembok pemisah antara kehidupan. Semua itu dirasakan adalah saat kita jauh dengan orang-orang yang kita sayangi. Entah itu keluarga, kekasih, atau pun sahabat.

Mana yang paling membuat anda puas, mendengar? Melihat? Atau keduanya dengan orang yang anda sayangi? Saat ini perkembangan internet sangat membantu kita semua para penggunanya untuk masalah tersebut. Skype merupakan salah satu contoh. Ada cerita yang ingin saya bagikan.

Keluarga besar saya dari ibu setengahnya tinggal di Australia. Jarak tersebut sungguh sangat terasa bagi saya dan keluarga saya. Opa dan Oma saya tinggal di Australia juga. Saya juga bukan berasal dari keluarga yang kaya raya atau berlebihan yang bisa dengan mudah pergi keluar negeri dan menengok mereka. Bertahun-tahun kami tidak bertemu sampai akhirnya waktu benar-benar memisahkan.

Adalah Opa saya meninggal dunia saat saya di kelas tiga menjelang ujian akhir. Saya mendengar kabar itu saat bangun pagi dan di hari pertama saya ujian praktek. Tentu air mata langsung membasahi mata yang sebenarnya juga belum terbuka dengan baik. Kakak perempuan saya langsung membuka internet sambil teriakan dari ibu saya, "Cepet! Cepet buka internet! Skype! Skype!" Teriakan itu dibarengi tangisan yang tak tertahankan lagi. Saya masih sangat ingat suasana pagi itu. 

Skype dibuka dan langsung terlihat oleh kami muka Oma saya yang sudah sangat sepuh tampak pada layar. Paman saya yang tinggal bersama mereka yang biasa menyetelkan internet untuk Oma saya. Kami semua terutama ibu saya sangat sedih hanya bisa melihat tubuh Opa kami tercinta dari layar komputer kami. Dari webcam yang diarahkan pada jenasah beliau kami bisa melihat tubuhnya yang tak bernyawa lagi. Juga tampak wajah pasrah dan sedih mendalam dari Oma saya yang hanya bisa duduk menghadap layar komputer disana.

Kami memang tidak bisa semua kesana. Hanya ibu saya yang pergi kesana saat itu. Namun teknologi itu telah membantu kami melihat jenasah terakhir dari Opa kami. Kalau tak ada skype kami hanya bisa menangis tanpa bisa melihat kondisi terakhir disana. Mendengar dan melihat mereka dari layar entah kenapa begitu memuaskan hati. Dibanding hanya bisa mendengar berita menyakitkan itu.

Yang ingin saya katakan adalah begitu pentingnya mendengar atau pun melihat seseorang yang kita sayangi. Terlebih bertemu. Rasa kangen mendalam terkadang membuat kita begitu ingin meski sebentar mendengar atau melihat wajah orang yang kita sayangi. Orang-orang yang berhubungan cinta jarak jauh juga seperti itu. Menelpon melalui handphone atau pun skype saat ini begitu berarti untuk mereka. Ya haruslah kita berterimakasih akan kemajuan teknologi ini.

Sampai saat ini skype sangat keluarga saya gunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga kami disana. Itu sangat membantu rasa kangen ini yang terpisah lautan. Dulu kami sering bertukar surat, namun sekarang bisa langsung bertemu muka lewat layar komputer. Kenapa masih ada saja orang yang apatis terhadap perkembangan internet?

Tak ada sesuatu yang tidak memiliki sisi negatif. Namun terkadang negatif itu adalah karena kita sendiri yang menyalahgunakan. Namun tak perlu kita ingkari itu sangat membantu kita sekarang ini.

Jarak dan waktu menjadi semu saat ini. Hanya fisik kita yang tak bisa bersentuh, namun pendengaran, penglihatan, dan perasaan kita menjadi dekat. Pengalaman keluarga saya hanyalah salah satu dari begitu banyak cerita lainnya tentang pertolongan dari internet. Kalau cerita anda seperti apa? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.


Kamis, 24 November 2011

Calo Pahlawanku

Di posting kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya menonton pertandingan final Sea Games hari Senin kemarin. Final yang saya tonton adalah final untuk cabang sepakbola. Ya, saya ingin menyaksikan secara langsung permainan Egi dan kawan-kawan di Gelora Bung Karno. 

Saya mengajak salah satu teman saya yang bernama Daniel untuk bersama-sama menonton secara langsung. Kami memesan tiket dari teman kami agar lebih mudah dalam pembeliannya. Teman yang kami titipkan itu ternyata menitipkan lagi tiket itu kepada seseorang yang tidak saya kenal. Kami memesan tiket ke teman kami itu pada hari Minggu. Karena sudah memesan maka kami dengan tenang bersiap untuk menonton pertandingan final esok harinya.

Pertandingan itu dilangsungkan hari biasa dan tentu saja hari kerja. Saya sebagai pekerja yang tidak baik tidak mungkin bolos kerja. Dan sayapun adalah suporter yang baik sehingga tidak mungkin bolos nonton pertandingan Indonesia. Dengan perkiraan hiruk pikuk di dalam stadion juga kemacetan di jalan raya sekitar senayan maka saya keluar dari kantor lebih cepat dari biasanya. Bisa dikatakan sedikit berbau kabur. Tentu saja hal ini jangan dicontoh. Dicontoh boleh saja, asal jangan lapor ke atasan saya. Saya serius.

Saat saya sudah berhasil kabur dari kantor, berita buruk datang. Ternyata teman yang dimintai tolong oleh kami tidak berhasil mendapatkan tiket untuk kami. Tapi yang membuat kesal adalah dia tidak membertahu saya lebih dahulu dan harus saya yang menanyakannya kepadanya. Dan yang lebih membuat kesal adalah dia ternyata mendapatkan tiket. Harap perilaku teman saya ini jangan anda tiru karena tidak bertanggungjawab. Yang ini sungguh jangan dicontoh.

Saya dan teman saya sempat putus asa tidak bisa menonton pertandingan. Namun kami berubah pikiran dan nekat pergi ke GBK. Kami ternyata masih punya harapan untuk bisa menonton pertandingan itu, calo. Ya, calo adalah tempat kami menggantungkan harapan untuk bisa melihat Okto bermain di lapangan itu. Dengan semangat yang tiba-tiba timbul kami berlari ke arah Senayan setelah sebelumnya kami berkumpul di Semanggi. Berlari? Ya, kami sungguh berlari ke arah Senayan. Dikarenakan waktu yang tinggal sebentar dan kami ketakutan tidak dapat tiket dan terlambat menyaksikan pertandingan.

Sesampainya di GBK saya dan teman saya itu langsung meneliti sekitar kami. Kami mencari calo. Saya menyuruh teman saya untuk memasanag muka orang yang mencari tiket. Kami mendeskripsikan jenis muka itu sesuai persepsi kami masing-masing.

Kami berjalan dan tidak kami temukan sama sekali tanda-tanda adanya calo yang ingin menawarkan tiket. Jika biasanya mereka banyak tapi dihindari, sekarang saat dicari mereka tidak muncul sama sekali. Waktu mulai pertandingan sudah semakin dekat, dan kami belum juga bertemu si calo. Tiba-tiba saat kami sedang dalam keadaan putus asa di depan kami ada seorang bapak-bapak yang memegang telpon genggam berbicara seperti ini, "Kategori satu." Dia berbicara tanpa menengok kepada kami tapi kami tahu bahwa dia sedang berbicara kepada kami.

Saya langsung mengiyakan tawaran orang itu, dan kamipun akhirnya mendapatkan tiket kami. Ya harganya memang membuat kesal dan emosi. Lebih dari dua kali lipat harga asli! Saya dan teman saya sudah malas untuk menawar. Kami diajak ke pinggir untuk melakukan transaksi. Bapak itu cepat-cepat dengan alasan  takut ketahuan petugas. Setelah mendapatkan tiket itu kami langsung menuju gerbang masuk stadion.

Saat mengantre saya mencoba-coba melihat tiket orang lain yang dipegang masing-masing oleh orang yang ingin masuk. Ternyata ada perbedaan dengan tiket yang kami dapat dari calo itu. Tiket orang-orang memiliki dua sisi yang bisa dirobek, sedangkan kami hanya satu bagian. Saya panik, teman saya juga. Kami mulai menyimpulkan bahwa kami ditipu dengan tiket palsu. Kami keluar dari barisan dan mulai kebingungan. Teman saya menjadi putus asa dan mengajak saya untuk keluar dan menonton dari layar kaca saja. Tapi saya tidak mau. Saya merasa perjuangan untuk menonton Indonesia ini sudah kepalang tanggung. Akhirnya saya mendorong teman saya untuk nekat masuk barisan dan sukur-sukur kami bisa masuk stadion.

Antrian di gerbang sangat kacau balau. Semua orang berdesak-desakan. Pintu masuk hanya dibuka sangat kecil oleh petugas dan sering kali ditutup sementara. Saya tidak tahu alasannya kenapa. Yang pasti karena itu kami semua tersiksa dengan desak-desakan. Tak sedikit diantara kami adalah wanita, juga anak-anak. Bahkan di sebelah saya ada anak kecil yang wajahnya sudah mulai pucat karena tergencet. Saya menyuruh laki-laki yang bersamanya agar anak itu digendong saja, kasihan dia.

Emosi para suporter yang mengantre sangat meluap-luap karena gerbang yang tak kunjung dibuka. Mereka berteriak-teriak sambil mengangkat tangan mereka yang menggenggam tiket, "Woi! Buka pintunya!! KAmi punya tiket!! Woi buka!!" Teriakan-teriakan itu berlangsung bersamaan dengan dorong-dorongan selama hampir 30 menit lebih. Saya meras itu adalah suatu perjuangan para suporter yang begitu ingin menonton Indonesia.

Perlahan kami satu-persatu mulai masuk. Saya dan teman saya akhirnya masuk stadion. Kami berlari menuju tempat duduk. Rasa puas di dada saat akhirnya berhasil melihat lapangan hijau sepakbola di depan mata. Kami mencari tempat duduk. Saat sudah menempati tempat duduk kami berdua berteriak bersama seperti orang yang baru saja berhasil meraih juara. Kami berhasil menonton langsung!

Pertandingan itu memang dimenangkan Malaysia. Ada kekecewaan karena kekalahan itu. Tapi tetap saja puas karena berhasil menonton langsung partai final. Sebelumnya saya hanya pernah menonton langsung di stadion untuk pertandingan penyisihan-penyisihan atau pertandingan persahabatan. Untuk final baru kali ini. Sehingga saya sangat gembira dan puas. Mendukung dan menyaksikan negara berjuang di lapangan membuat saya berdebar-debar. Menurut saya itu adalah salah satu bentuk bela negara yang bisa saya lakukan saat ini, mendukung Indonesia!

Euforia itu telah berakhir. Meski cabang sepakbola hanya mendapat perak, tapi kita juara umum! Apresiasi setinggi-tingginya patut kita berikan kepada para atlet. Namun keprihatinan kepada para korban yang tewas saat ingin menonton pertandingan sepakbola juga patut menjadi perhatian kita.Sikap dan perilaku suporter harus lebih dibina. Jangan sampai mereka yang ingin mendukung malah harus mempertaruhkan nyawa mereka. Indonesia beruntung memiliki para pendukung yang tetap setia menyorakkan 'Indonesia!' setiap saat. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya. 

Jumat, 18 November 2011

Adaptasi Super Makhluk Sosial

Semua makhluk hidup dikaruniai kemampuan beradaptasi. Dengan kemampuan itulah yang membuat makhluk hidup bisa terus mempertahankan hidupnya. Baik tumbuhan, hewan, ataupun manusia, semua memiliki caranya masing-masing untuk beradaptasi dengan kehidupannya. Dan manusia memiliki kemampuan adaptasi lebih dari yang lainnya karena akal budi kita.

Suatu hari saya seperti biasa berangkat pergi ke kantor menggunakan busway. Saya transit di halte Grogol 2 untuk naik yang jurusan PGC ataupun Pinang Ranti karena kantor saya berada di bilangan Palmerah. Kebetulan bus yang saya naiki sangat kosong dan saya memilih duduk di kursi terdepan di bagian sebelah kiri. Dengan posisi itu saya bisa melihat situasi jalanan melalui kaca depan bus.

Semuanya baik-baik saja dan tak ada yang spesial sampai pada akhirnya saya melihat sesuatu yang saya rasa luar biasa.

Tepat di depan kami ada sebuah truk sampah yang terbuka. Tidak seperti truk sampah umumnya yang sangat besar dan berwarna oranye di bagian belakang, truk ini bagian belakangnya hanya terbuat dari kayu-kayu dan terlihat sudah rapuh. Yang membuat saya berpikir itu adalah truk sampah adalah isi dari bagian belakang truk itu yang adalah sampah yang bertumpuk-tumpuk.

Ketika saya mencermati tumpukan sampah itu ada sesuatu yang aneh. Saya melihat sebuah plastik hitam yang menutupi sesuatu dengan posisi tertidur. Dan itu adalah manusia. Saya semakin yakin setelah melihat orang itu yang ternyata terlihat berjenis kelamin pria, bergerak-gerak seperti mencari posisi nyaman untuk tidurnya. Saya melongo melihat pria itu, begitu juga dengan orang-orang yang duduk di dekat saya yang ternyata juga menyadari adanya seorang pria yang tidur di atas tumpukan sampah.

Saya sering melihat truk sampah, namun baru kali itu saya melihat ada orang tidur di atas tumpukan sampah. Saya sering pula melihat orang mengorek-ngorek sampah untuk mencari makan, tapi saya tidak pernah melihat orang tiduran di atas sampah. Apakah menurut anda itu biasa saja atau sudah sewajarnya? Bagi saya itu tidak biasa, itu luar biasa.

Sejenak saya berpikir kenapa orang itu tidak tidur di bagian depan saja bersama si supir? Apakah sudah penuh di bagian depan? Ataukah teman-temannya begitu jahatnya membiarkannya sendirian di bagian belakang truk bersama sampah-sampah. Kalau saya jadi orang itu tentu saja saya tidak akan mau untuk tiduran di atas sampah, bagaimanapun caranya saya akan mencari tempat yang lebih nyaman dibanding di atas sampah. Duduk di atas sampah saja tidak mau, apalagi tiduran?

Perilaku orang itu adalah salah satu adaptasi yang dilakukan masyarakat kita. Terkadang dengan keterbatasan kita akan dengan sendirinya memikirkan cara-cara yang tidak biasa untuk bisa bertahan. Dan sering kali hal itu tidak biasa untuk orang lain. Banyak lagi macamnya bentuk adaptasi yang orang-orang lakukan. Kebanyakan sering kali membuat kita tercengang dan berpikir 'bagaimana bisa?' .

Sekarang apa perasaan anda jika melihat pria itu tadi? Sedih? Takjub? Terkesan? Prihatin? Atau apa? Ada teman yang setelah saya ceritakan berkata itu miris. Ya, memang miris. Tidak terbayang aroma busuk serta kotornya sampah-sampah itu, kuman-kuman juga bersarang di sana. Tapi orang itu malah memilih tidur di atasnya. 

Saat saya melihatnya perasaan pertama yang muncul adalah miris. Kedua adalah prihatin. Namun saya merasakan ada perasaan terkesan dalam diri saya. Terkesan dengan kehebatan pria itu berdamai dengan situasi di sekitar dirinya. Dia menunjukan pada saya bagaimana manusia diberkahi kemampuan luar biasa untuk bisa bertahan dalam segala kondisi. Manusia hanya sering merasa tidak mampu dan tak berdaya terhadap lingkungan yang kadang membebani. Padahal manusia bisa mengalahkan semua keterbatasan situasi yang ada.

Hai kalian para empunya pemerintahan dan berkoar-koar mewakili bangsa, bagaimana tanggapan kalian kalau melihat pria itu tadi? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.