Sabtu, 10 Maret 2012

Air Tak Hanya Datang Dari Satu Akar

Pola pikir kita terbentuk dari berbagai macam sumber yang kita terima dalam benak kita. Ideologi-ideologi yang tersalur pada kita tersaring melalui kecocokan pada diri masing-masing. Sumbernya bisa bermacam-macam. Entah itu buku, tokoh, ormas, adat, dan lain sebagainya. Dan yang menjadi bisa berbahaya adalah ketika anda hanya melihat dari satu sudut pandang saja.

Pernahkah anda membaca sebuah buku yang berisi tentang pengajaran, entah tentang apa, lalu anda terpikat dengan tulisan tersebut lalu mejadi mengidolakannya? Ya, rasa suka dan pas terhadap sebuah pola pikir bisa berujung pada pengidolaan terhadap seorang tokoh ataupun suatu ajaran. Itu tidak salah. Mengidolakan seseorang tidaklah salah. Namun yang sering terjadi adalah, ketika ajaran ataupun dokma diterima secara blak-blakan dan terus menerus dihisap dan dierami, itu semua akan menjadi semacam pola pikir yang dominan bahkan menjadi jalan pikir seseorang.

Karena sudah menerima dari satu sumber tersebut maka seseorang hanya akan menggunakannya sebagai pola hidup dan berpikir. Semua aspek kehidupan hanya dilihat dari satu sisi yang diketahuinya saja, yang terkadang sangat terbatas. Tak jarang pemikiran tersebut dipandang sebagai idealismenya dan menjurus ke fanatisme. Ketika itu sudah terjadi maka akan sulit untuk bisa menerima ajaran dan pemikiran-pemikiran lain yang ada di luar.

Padahal yang perlu kita ingat adalah begitu banyak sumber yang bisa kita serap dan pakai dalam menjalin sebuah kehidupan harmonis bersama orang lain ataupun hubungan berbangsa. Dengan masyarakat yang sangat multikultural seperti di negara kita ini kita tidak bisa mengesampingkan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda yang ada di masyarakat. Justru dengan perbedaan-perbedaan yang ada maka seharusnya kita menjadi kaya karena menyerap begitu banyak pemikiran-pemikiran yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh sebuah negara yang hanya terisi oleh satu-dua jenis ras ataupun kelompok masyarakat tertentu. 

Namun yang terjadi saat ini tidaklah demikian. Bukannya menyerap dulu ajaran ataupun pemikiran dari kelompok lain, kita malah mencari-cari kesalahan yang ada dari pihak lain. Ya, yang dicari-cari dari ajaran lain adalah kesalahannya. Seakan-akan ingin menjatuhkan semua pemikiran yang berbeda dengan milik kita dan hanya kita sajalah yang benar. Padahal menurut saya, setiap ajaran tentu saja memiliki kekurangan.

Tokoh-tokoh yang mewariskan ajaran mereka kepada kita hidup pada zaman yang berbeda dengan kita. Tentu saja ada perbedaan-perbedaan mendasar dalam kehidupan masyarakatnya dibanding dengan zaman kita. Selain itu negara serta kondisi bangsa dari tokoh-tokoh itu juga berbeda dari kita. Tidak bisa kita menyamakan kehidupan masyarakat dan lingkungan kita dengan mereka. 

Seraplah kata-kata mereka jika anda memang mengiyakannya, namun jangan hanya menyuap hanya dari satu jenis makanan saja. Kunyah dan telanlah juga pikiran-pikiran yang lain yang ada di dunia sehingga anda menjadi sehat dan kaya.

Seorang aktivis juga tidak bisa hanya menerima satu referensi saja dalam otaknya. Ia harus banyak membaca agar tahu semua ajaran dan mengambil sari-sari penting dari tiap-tiap pemikiran. Jika seseorang hanya berpedoman pada satu ajaran atau pemikiran saja, sama saja ia memakai kacamata kuda yang hanya bisa melihat ke depan tanpa melihat kanan-kirinya.

Jadilah pencuri. Curilah semua ajaran maupun pengetahuan sebanyak yang anda bisa agar anda bisa melihat dunia dalam persfektif yang luas. Seorang pencuri tidak akan peduli dengan barang-barang yang tak penting dan jelek. Ia hanya akan mencari barang-barang bagus dan berharga untuk dirinya. Maka ambilah semua informasi dan pengetahuan yang penting dan baik adanya agar anda menjadi kaya.

Terkadang doktrin dari orangtua, keluarga, ataupun lingkungan sekitar entah itu adat ataupun agama memenjarakan pikiran kita. Pemikiran menjadi sempit karena selalu membawa unsur kedaerahan atau keagamaan. Rasa sinis seperti telah diprogramkan pada otak kita sejak belia. Cobalah mulai sekarang pelajari adat-istiadat lain ataupun agama lain agar anda tahu seperti apa sebenarnya mereka. Jangan cari tahu dari lingkungan kita tapi pelajarilah langsung dari mereka yang memang berasal dari latar-belakang berbeda. Namun jangan pelajari dengan niat mencari kesalahannya, karena kalau seperti itu tidak ada gunanya dan semakin dangkallah anda..

Kita seringkali langsung menerima saja deskripsi kelompok lain dari kelompok kita tanpa mau secara langsung mengenal kelompok lain tersebut. Padahal tak jarang penjelasan dari kelompok kita itu salah dan cenderung sok tahu. Langsung mengiyakan doktrin dari kelompok kita membuat kita seringkali picik dan dangkal. Sejarah memang ada, tapi waktu terus berjalan dan tak berhenti hanya pada satu masa.

Jangan langsung mengiyakan sebuah perkataan hanya karena meyakinkan atau terdengar benar. Banyaklah membaca. Perbanyaklah teman dari latar-belakang yang berbeda. Keluarlah dari zona aman anda. Pelajarilah banyak ilmu sebisa anda. Jangan mudah terpancing provokasi tak mendasar. Jika anda melakukan itu semua, anda akan menjadi manusia yang dibutuhkan bangsa ini. Manusia yang cinta negerinya, bukan hanya cinta agama, suku, ras, atau kelompoknya saja.

Tak setuju dengan saya? Bagus, jangan langsung menerima sebuah perkataan adalah benar. Karena bagaimanapun juga, ini hanya opini saya. 

Kamis, 01 Maret 2012

Otak Balita

All men who have achieved great things have been great dreamers. - Orison Swett Marden

Saat saya masih kecil saya sangat senang berkhayal. Setiap kesempatan saya bermain pastilah saya berkhayal. Tentu saja anda semua pasti demikian di usia belia anda. Imajinasi kita begitu hidup. Tak ada yang membatasi angan-angan kita. Kita seperti memiliki dunia kita sendiri. Namun dengan bertambahnya usia, tidakah anda merasa bahwa imajinasi itu perlahan pudar?

Manusia memang dalam usianya yang telah dewasa atau lanjut tetap bermimpi, berangan-angan, ataupun berharap terhadap sesuatu. Namun dalam setiap pengembangan diri yang mereka lakukan, imajinasi itu perlahan tidak digunakan lagi karena berbagai macam alasan yang mengotak-ngotakan pikiran mereka.

Mereka yang telah cukup lama hidup di dunia akan terbawa dengan apa yang disebut realitas. Mereka membatasi otak mereka dengan kenyataan-kenyataan yang ada di dunia mereka. Angan-angan dan imajinasi mereka perlahan hilang dikarenakan pikiran yang mulai kaku. Berimajinasi dianggap hanyalah barangnya anak kecil atau muda saja. 

Menurut saya itu adalah kelemahan mereka generasi tua. Mereka terlalu membatasi diri. Semua hanya berjalan sesuai pada alur yang begitu-begitu saja. Penggunaan imajinasi sebagai sebuah alat untuk berkembang tidak lagi digunakan. Bahkan tak jarang imajinasi dan bayangan generasi muda dibatasi dengan doktrin-doktrin yang diberikan. Mereka menganggap apa yang sudah bertahan dan berjalan lama berarti sudah benar.

Perkembangan hanya bisa terjadi jika mereka mau berubah dan tahu ingin berubah seperti apa serta melakukannya. Kalau mereka tidak membayangkan sesuatu maka tidak ada bayangan yang diimpi-impikan. Khayalan-khayalan anak muda kadang hanya ditertawai dan menjadi gurauan saja. Dan mereka yang imajinasi serta khayalan mereka ditertawai lama kelamaan seperti merasa disadarkan dan menjadi realistis. Tapi apa sebenarnya realistis? Apa memang ada yang disebut realistis? Kalau iya kenapa banyak orang berkata 'tak ada yang tak mungkin di dunia ini' ? Seseorang yang berkata negara ini masih ada harapan namun dilain kesempatan berkata bahwa ia realistis? Bagaimana bisa?

Generasi tua terlalu banyak berteori. Dan lama-kelamaan ditularkan ke generasi muda. Mereka menganggap dengan usia yang lebih tua maka mereka merasa lebih tahu dengan dunia. Anda merasa itu benar? Kalau saya merasa tidak juga. Mengapa? Memang usia mereka lebih tua, namun zaman telah berubah. Zaman mereka tumbuh berbeda dengan zaman kita tumbuh. Dan kita berkembang di zaman yang jauh berbeda dengan mereka. Sesungguhnya kita sama saja dengan mereka, mereka mengetahui apa yang mereka ketahui di zaman mereka dan kita mengetahui apa yang ada di zaman kita. Siapa kira Obama bisa menjadi presiden AS padahal dia kulit hitam yang dahulu sangat tidak diterima oleh kulit putih disana? Itu semua karna zaman telah berubah dan tidak berhenti begitu saja.

Manusia berimajinasi untuk bisa terbang di udara. Maka ada di antara populasi manusia ini yang menghasilkan secara nyata imajinasi itu dengan menemukan pesawat. Apakah anda berpikir itu terjadi begitu saja? Tentu tidak. Seseorang bermimpi dan mengimajinasikan negaranya kembali menguasai Eropa dan sekitarnya, maka hiduplah seorang Hitler, sosok yang begitu ditakuti saat itu. Ada khayalan dan ada kemauan untuk menghasilkan sesuatu dari imajinasi itu. Masalah bagaimana dan dengan cara seperti apa imajinasi itu dituangkan, semua orang berhak memilih jalan mereka masing-masing. Bermimpi. Ya semua berasal dari mimpi kita.

Anda yang sampai usia remaja atau dewasa masih menyenangi film-film kartun atau animasi serta komik sebenarnya tak perlu malu. Justru hal-hal seperti itu sesungguhnya merangsang imajinasi kita. Kita dibawa berkhayal dengan cerita-cerita mustahil tersebut. Otak kita menjadi tidak terbawa oleh pikiran-pikiran kaku yang membosankan. Tidakah anda merasa demikian? Namun seringkali mereka yang masih menggemari hal-hal seperti itu ditertawai dan dianggap anak kecil. Padahal menurut saya tak ada hubungannya sama sekali. Mereka adalah orang-orang bebas yang dengan leluasa menikmati imajinasi mereka yang begitu luas. Sejujurnya hidup mereka begitu indah karena tak ada batasan-batasn dalam pemikiran mereka.

Bukan berarti saya mengajak anda semua bertingkah seperti anak kecil terus-menerus. Imajinasi seorang anak balita lah yang perlu kita pertahankan. Mereka dengan bebasnya melihat segala sesuatu dari segala sudut pandang. Tak ada kata benar atau salah di benak mereka. Yang mereka pikirkan hanyalah berimajinasi sejauh yang mereka mau. Dan kita yang telah mampu melakukan apa yang kita mau diberi kekuatan untuk membuat nyata imajinasi itu. 

Toh sampai saat ini tak ada yang mengenakan biaya untuk anda berimajinasi. Karena itu jangan berhenti untuk bermimpi, imajinasikan keinginan anda. Tentu saja jangan hanya hal yang bertentangan dengan norma sosial saja yang anda bayangkan. Meski saya merasa di negara ini mereka yang menggunakan imajinasi mereka dengan baik adalah para palaku kriminal. Kenapa? Karena mereka dengan fleksibel memikirkan keinginan mereka dan mengimajinasikannya, lalu melakukannya. Mereka yang mengatur jalannya negara ini terlalu kaku dan berkepentingan sehingga mereka tidak tahu lagi harus apa karena impian dan bayangan mereka telah pudar. Orang yang memiliki imajinasi tinggi akan mengalahkan dan selangkah lebih maju dibanding mereka yang hanya berkutat pada peraturan dan doktrin-doktrin kaku yang bahkan tidak tahu mana yang benar dan salah.

Sekarang ini sudah banyak sekali generasi muda yang ikut-ikutan berpikiran kaku. Saya ingin mengatakan bahwa janganlah terlalu terbawa oleh pemikiran-pemikiran yang terlihat tegas dan benar. Lihatlah dari semua sudut pandang yang ada di dunia ini. Karena menurut saya itulah enaknya menjadi orang muda. Kita bisa bebas melihat dunia ini. Jangan sia-siakan usia muda anda dengan menjadi orang yang kaku. Santailah sejenak dan banyaklah mencari referensi. Imajinasikan angan-angan anda dan jangan hapus mimpi anda.

Einstein juga mengiyakan betapa imajinasi itu lebih penting dibanding pengetahuan yang anda punya. Jadi untuk apa membatasi imajinasi anda? Jika negara ini mau berubah maka negara ini membutuhkan generasi muda yang masih berani berimajinasi untuk memperbaiki apa yang sudah ada. negara tidak butuh lagi tambahan orang-orang yang putus asa terhadap negara sendiri. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Rabu, 22 Februari 2012

Ramah? Maaf Anda Lebih Muda

Seorang anak dengan langkah kecilnya mengantre dengan menggenggam sehelai uang sepuluh ribuan. Gadis mungil ini tertutup oleh dua orang dewasa dengan tubuh tiga kali lipat atau bahkan lebih dibandingnya.

Orang terdepan telah selesai dengan pesanannya dan membawa nampannya ke tempat duduk. Orang kedua maju dan memulai pesanan. Gadis kecil ini mulai memasang muka riang di wajah halusnya. Ia begitu senang karena sebentar lagi bisa memesan es krim kesukaannya dan menghabiskannya di siang yang panas itu.

Orang kedua pun telah selesai memesan dan dengan segera membawa pesanannya dari meja kasir. Dengan riang gembira si gadis mungil ini melangkah mendekati meja kasir yang menutupi tubuhnya menyisakan pita rambutnya yang terlihat mengintip.

Ia dengan susah payah mengacungkan uangnya dan mencoba mengatakan pesanannya ke wanita yang menjaga kasir restoran siap saji itu. 

Namun si wanita penjaga kasir itu malah mempersilahkan Bapak bertubuh besar di belakang anak itu untuk mengatakan pesanannya. Uang lembaran sepuluh ribu rupiah yang diacungkan oleh si gadis mungil itu tidak digubrisnya. 

Setelah Bapak bertubuh besar itu selesai, bukannya melayani gadis kecil itu, si kasir itu malah mempersilahkan orang berikutnya untuk memesan. Begitu sampai tiga orang setelahnya.

Ibu dari gadis cilik itu memperhatikan dari kejauhan. Melihat anak manisnya susah payah berjinjit-jinjit untuk memberikan uangnya yang bahkan tidak dilayani sama sekali. Si penjaga kasir hanya sekali memberikan senyuman kecil ke gadis kecil itu sambil berkata, "Sebentar ya Dik!"

Si ibu yang tidak tahan lagi melihat anaknya tidak dilayani menghampiri anaknya itu dan langsung menggendong anaknya naik ke atas meja kasir sambil berkata, "Mbak! Anak saya mau pesan es krim satu!"

Si wanita kasir itu terkejut dan langsung memberikan pesanan gadis kecil itu sambil memasang senyum-senyum kecut.

Setelah mendapatkan es krimnya si gadis kecil memasang senyuman terlebar yang bisa dibuatnya dan langsung menjilati lelehan es krim putih itu. Sang ibu menuntun anaknya itu keluar dari restoran dengan raut wajah kesal yang masih dipertontonkannya.

Dari kisah singkat di atas, apa yang bisa anda tangkap? Tentang perjuangan seorang gadis cilik untuk membeli es krim kesukaannya.

Tanpa harus disanggah, itulah budaya di negara kita ini. Kita terbiasa menomorduakan yang lebih muda atau yang dianggap masih anak-anak. Pelayanan terhadap yang lebih tua jauh berbeda dengan yang masih muda atau masih kecil. Namun jangan disamakan jika si anak bersama dengan orangtua.

Terkadang yang lebih tua begitu sombong dan angkuh terhadap yang lebih muda. Lihat saja seorang satpam yang begitu jagoan di depan anak-anak muda dibanding di depan bapak-bapak atau ibu-ibu. Gaya berbicara sangat berbeda. Mereka yang bertugas melayani entah kenapa hanya bisa melakukan kinerja maksimalnya di depan orang dewasa saja. Apa alasannya? Sebagai konsumen ataupun mereka yang perlu dilayani, yang tua dan yang muda hanya berbeda di usia saja bukan?

Jika terjadi sesuatu antara yang muda dan yang tua, pastilah yang pertama akan disalahkan adalah yang lebih muda. Entah ia benar atau salah, yang muda pasti akan kena disalahkan. Unsur-unsur seperti tidak sopan atau tidak menghargai orang yang lebih tua seringkali dijadikan embel-embel.

Saya tidak mengatakan bahwa anda semua boleh kurang ajar. Disini saya ingin mengatakan bahwa untuk melayani, kita harus sama kepada semua usia. Jangan hanya hormat kepada yang lebih tua saja ataupun atasan saja.

Jangan hanya layani mereka yang lebih tua atau bos-bos saja dan berlaku sombong dan kurang ajar kepada yang muda-muda. Ingat, kekurangajaran bukan hanya dilakukan oleh yang muda ke yang tua, namun juga yang tua ke yang muda. Kesopanan tidak bisa dihubungkan dengan tingkat usia.

Memang tidak semua seperti itu. Tentu saja di tempat-tempat elit atau mahal atau tempat-tempat tertentu seperti bank, para pelayan atau mereka yang ditugaskan untuk melayani pasti akan berlaku sama kepada semua usia. Namun tempat seperti itu hanya terbatas sekali. 

Melayani tentu saja kepada siapa saja. Kalau memang mau ramah, maka ramahlah ke semua orang tak terkecuali. Peraturan memang ada, dan jalankan ke semua usia. Jangan hanya menghukum yang muda-muda, namun takut ke yang tua-tua. Karna menurut saya yang mudapun juga ingin diberikan keramahan dan pelayanan yang sama baiknya. Saya sebagai orang muda melihat fenomena ini terjadi di setiap keseharian saya meskipun bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Selasa, 07 Februari 2012

Membersihkan Sisa Orang Lain

Apa yang terpikir oleh anda ketika melihat seorang pelayan di sebuah restoran membersihkan meja makan yang kotor atau mengepel lantai yang kotor tepat di depan mata anda. Mungkin tidak sedikit di antara anda yang merasa iba dan merasa pekerjaan seperti mereka itu sangat rendah dan dipandang sebelah mata. Saya juga termasuk yang pernah dan tak sekali juga merasa kasihan pada mereka yang membersihkan nampan dan lantai di depan saya yang dengan asik makan di depan matanya. 

Ada pengalaman yang ingin saya bagikan kepada anda tentang pengalaman saya bekerja di sebuah restoran siap saji di daerah pusat Jakarta. Sebuah pengalaman yang sedikit banyak membuka pandangan saya tentang nilai sebuah pekerjaan.

Saat saya melamar di restoran siap saji itu saya berpikir untuk menjadi bagian yang memasak makanan saja. Itu karena saya senang memasak dari kecil. Bahkan saat masih kecil, di saat anak laki-laki sebaya saya senang main mobil-mobilan, saya lebih senang main masak-masakan. Mungkin orangtua saya khawatir saya akan salah arus saat dewasa karna saya malah lebih suka permainan yang mereka lihat lebih cocok untuk maianan anak perempuan. Selain itu saya merasa pekerjaan memasak itu seru dan keren dibanding pekerjaan lain di restoran itu.

Ternyata kenyataan yang saya dapat di restoran itu tidak seperti yang saya pikirkan. Saya berpikir bahwa nanti akan ada pembagian kerja yang jelas sesuai kemahiran para pekerja. Dan ternyata tidak demikian. Saya diajari semua ketrampilan yang diperlukan untuk menjalankan restoran tersebut. Semuanya termasuk menyiapkan bahan-bahan masakan, memasaknya, mencuci peralatan, sampai pada mengepel atau membersihkan meja di area makan. Dan tugas setiap karyawan di rotasi setiap harinya.

Saya sedikit kaget karna tak terpikir harus menjadi tukang bersih-bersih juga di restoran itu. Namun tetap saya jalankan semua pelatihan dengan seksama. Ketelitian yang sangat tinggi diperlukan untuk bekerja di restoran siap saji seperti itu. Bahkan banyak sekali peraturan dan standar yang harus diafalkan oleh semua pekerja disana. Tidak hanya karyawan yang bekerja full time, namun saya yang hanya menjadi part timer juga harus mengetahui keseluruhannya.

Bagian pekerjaan yang paling membuat saya tegang bukanlah saat saya ditugaskan untuk memasak makanan. Melainkan saat saya harus menjaga di area makan. Kenapa? Tentu saja karena ada rasa malu di dalam diri saya jika nanti saya bertemu dengan orang yang saya kenal, bahkan dengan orang yang tidak saya kenalpun saya akan malu. Topi dan seragam yang saya kenakan tampaknya tidak cukup untuk menyamarkan diri saya. Setiap menit saya menjaga area itu terasa sangat lama karena rasa khawatir saya itu.

Rasa takut dilihat orang lain itu timbul karena pendangan saya yang telah tertanam di dalam diri saya saat saya kasihan melihat pelayan restoran yang bekerja seperti saya sekarang. Dari yang dulu saya kasihan melihat seorang pelayan membersihkan sisa-sisa makanan yang tercecer di bawah lantai atau meja, sekarang itu yang harus saya lakukan. Dari yang biasanya saya melihat orang dan merasa kasihan, sekarang sayalah yang dilihat dan mungkin saja diberi rasa kasihan.

Awal-awalnya saya selalu menundukan kepala dalam-dalam ketika akan membersihkan meja, lantai, ataupun saat sedang mengepel. Malu. Ya, sehebat apapun saya berusaha menutupinya, rasa malu menjadi orang yang mengepel di restoran tetap saja timbul. Kalau saat saya bertugas di dapur saya dengan santai melakukan pekerjaan itu. Mungkin karena tak ada yang bisa melihat saya. Berbeda ketika saya harus menjaga area makan. Semua pengunjung bisa menatap saya dan memperhatikan segala tingkah laku saya. 

Satu hal lain yang saya pelajari adalah tentang menghargai makanan. Dengan bertugas membersihkan meja makan, saya secara otomatis akan melihat sisa-sisa makanan yang ditinggalkan mereka yang telah selesai makan. tak jarang hanya secuil potongan makanan yang dihabiskan dan seteguk minuman yang dihabiskan. Alhasil, tumpukan makanan paket yang hampir tak berubah bentuknya tersisa begitu saja. Dan yang berat adalah, saya harus membuangnya.

Sungguh pengalaman yang tak akan saya lupakan. Bekerja dengan pekerjaan yang dianggap remeh oleh orang banyak. Namun ada yang saya ingin bagikan kepada anda para pembaca. Mungkin anda berpikir bahwa pekerjaan demikian adalah sungguh kasihan. Menurut saya tidak demikian.

Kalau dilihat dari segi gaji, tempat saya bekerja tidaklah berbeda dengan gaji rata-rata yang didapat karyawan kantoran. Bahkan sama-sama saja standarnya. Lalu apa bedanya? Tentu saja pekerjaannya dan gengsinya. Menjadi karyawan kantor bagi kebanyakan orang lebih terpandang dibanding bekerja di restoran atau sejenisnya. Namun kalau penghasilan? Bisa saja sama-sama saja. Jenjangnya? Sama-sama ada tingkatannya.
Ketika kerabat anda berkata "Cari kerja tuh susah" ketahuilah, itu kata-kata pemalas yang akan selalu kalah.

Mengapa? Karena mencari pekerjaan itu tidaklah susah. Ada ratusan jenis pekerjaan diluar sana yang bisa dicari untuk mencari uang. Lapanngan kerja terbuka lebar dimana-mana. Masalahnya adalah apakah kita sudah berniat dan benar-benar mencarinya. Masalahnya disini bukanlah tentang uangnya, tapi tempat bekerjanya. Orang memilih apa pekerjaan yang ingin diambilnya. Yang membedakan adalah jenis pekerjaan seperti apa yang ingin diambil dan dijalankan. Anda mau pekerjaan yang santai saja, yang butuh tenaga saja, yang menguras otak, atau apa saja semua tinggal pilihan anda. Karena ujung-ujungnya, uang adalah tujuan utama.

Dari pengalaman saya bekerja di restoran itu saya belajar dan mengalami pekerjaan yang membutuhkan lebih kepada tenaga. Dan tantangan terbesar untuk anak muda seperti saya, menyingkirkan rasa malu. Berbeda dengan pekerjaan saya sekarang yang lebih kepada otak yang selalu harus memandang ke arah komputer. Semua berbeda dan tinggal kita memilih mana yang ingin kita lakukan dan mana yang akan dengan enjoy kita lakukan.

Saat ibumu berkata "Cari duit tuh susah" percayalah, tak ada dusta sedikitpun di dalamnya. Ini saya tujukan pada anda semua anak-anak muda yang merasa hidup anda begitu nyaman dan tak ada masalah sama sekali.
Mencari uang untuk anda sehari-hari orangtua anda perlu menguras tenaga dan waktu. Tak jarang mereka harus bermandi keringat hanya untuk jutaan, ratusan ribu, atau bahkan puluhan belasan ribu rupiah yang bisa mereka dapatkan.

Di usia saya ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengecap rasa lelah itu. Saya ingin mengajak anda semua mengahargai pekerjaan orangtua anda. Serendah apapun pekerjaan orangtua anda di depan orang banyak ataupun di pikiran anda sendiri, ketahuilah bahwa pekerjaan itu mulia adanya. Uang yang didapat itu tidaklah semudah memintanya untuk ongkos anda pergi jalan-jalan bersama teman-teman, atau untuk belanja dan hura-hura. 
Ya, merasakan membersihkan sisa-sisa makanan bekas orang lain, dipanggil "Mas" untuk dimintai tolong mengambil atau membersihkan sesuatu, atau pekerjaan apapun yang dipandang rendah bisa membuat kita lebih merunduk dan melihat ke bawah. Ke bagian yang terbiasa tidak kita lihat karena selalu mencondongkan kepala ke atas. Tapi saya tidak menyuruh anda untuk mencoba pekerjaan seperti itu juga, karna bagaimanapun juga ini hanya opini saya.





Selasa, 24 Januari 2012

Elegi Hembusan yang Mudah Hilang

Apa anugrah paling besar yang anda pernah dapatkan dalam hidup ini? Mungkin anda akan menjawab orangtua, keluarga, kekasih, sahabat-sahabat, kekayaan, prestasi, gelar, dan lain-lainnya sesuai dengan apa yang anda rasakan dan alami sampai saat ini. Semuanya itu adalah benar adanya sebagai sebuah anugrah yang begitu indah, apapun kepercayaan anda. Namun tahukah anda bahwa ada anugrah yang lebih besar daripada itu semua? Yang ini seringkali terlupakan sebagai sebuah pemberian terbesar dan lebih dari apapun juga. Hidup.

Ada yang mengatakan hidup itu mudah, ada yang mengatakan hidup itu berat. Mudah mungkin saja karena kita berpikir hidup seperti sebuah hal yang memang sudah seharusnya dan berjalan begitu saja. Sedangkan sulit dilatarbelakangi oleh kesulitan-kesulitan sosial yang dialami. Namun bagi saya, benar adanya bahwa hidup itu sulit. Yang mudah itu adalah, mengakhiri hidup. Baik hidup kita sendiri ataupun hidup orang lain.

Baru-baru ini kita semua dihebohkan oleh kasus Xenia maut yang menurut berita terakhir yang saya dapat menelan 9 korban jiwa. Siapa yang menyangka akan tertabrak saat berjalan di atas trotoar bersama teman-teman? Beda soalnya kalau kita memang sengaja menantang bahaya dengan misalnya berjalan di tengah jalan atau menyebrang dengan asal tanpa melihat kendaraan yang berlalu-lalang. Siapa juga yang menyangka ada perempuan yang dalam efek obat terlarang menyetir dan tiba-tiba masuk trotoar dan menabrak orang-orang tak bersalah? Semua terjadi begitu saja. Nyawa dengan mudahnya hilang begitu saja.

Banyak orang diluar sana mencaci, menghujat dan sebagainya. Aparat dan badan hukum langsung mengolah kasus serta memberikan hukuman pada pelaku itu. Semua pihak dari masyarakat biasa sampai tokoh-tokoh politik mengecam pelaku kasus itu. Saya tidak akan menuliskan cacian dalam post ini, namun saya ingin mengajak anda semua melihat dari sisi yang lain. Sisi dimana kita sebagai manusia, menghargai hidup kita yang sungguh berharga ini.
Dari kasus Xenia itu kita bisa belajar bagaimana hidup bisa begitu mudahnya selesai dengan cara yang tak terpikirkan sama sekali. 

Bagi anda yang membaca post ini yang merasa bahwa hidup anda biasa-biasa saja dan tidak ada spesialnya sama sekali, cobalah lihat apa yang anda punya sekarang. Bagi anda yang merasa hidup anda tak berguna sama sekali, ataupun sudah putus asa dengan hidup anda saat ini, cobalah lihat tangisan orang-orang yang kehilangan orang yang mereka cintai untuk selamanya. Hidup ini adalah seperti sebuah petualangan yang tak kita ketahui dimana garis finish-nya. 

Saya seringkali menganggap diri saya ini adalah seorang tokoh utama sebuah film. Dimana film itu adalah kehidupan saya yang saya jalani sampai saat ini. Sebagai seorang tokoh utama saya juga bergerak sebagai sang sutradara. Saya merencanakan semua cerita dalam film ini sekaligus memainkan perannya. Dalam film tersebut ada tokoh-tokoh antagonis dan protagonis yang membentuk karakter saya. Juga tokoh-tokoh tambahan yang datang silih berganti dalam setiap fase cerita itu.

Saya ingin mengajak anda semua menjadi tokoh utama dalam film anda masing-masing. Jangan hanya menjadi tokoh figuran yang melihat kagum pada kehidupan orang lain sepanjang hidup. Jangan selalu menjadi tokoh pendukung sepanjang hidup yang hanya menyokong cerita orang lain. Anda harus memaknai hidup anda sendiri dan menjadi tokoh utama yang bermain dalam film yang memiliki makna didalamnya.

Jika anda berpikir 'masih ada besok' di benak anda, saat itu juga hilangkan pikiran seperti itu. Tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di esok hari kehidupan kita. Bahkan satu jam, semenit, atau sedetik berikutnya dari kehidupan kita saat ini kita tak bisa memprediksikannya. Yang bisa kita lakukan adalah menghargai waktu yang kita punya.

Jangan pernah berpikir bahwa korban tsunami Aceh atau Yogyakarta dulu hanyalah bernasib sial. Bencana bisa datang kapan saja. Kita bisa saja memprediksi bencana, namun kapan datangnya siapa yang tahu? Siapa juga yang berpikir pemuda-pemuda kasus Xenia itu akan meninggal tertabrak padahal mereka berjalan di trotoar dengan benar. Teman-teman pelaku juga mungkin tidak menyangka bahwa temannya akan sampai oleng saat menyetir setelah mereka pesta narkotika? Mungkin mereka hanya berpikir untuk kesenangan mereka saja tanpa memprediksi bahwa penggunaan obat mereka bisa saja berpengaruh pada orang lain bahkan sampai nyawa orang lain.
Begitulah adanya. Hidup ini bisa dengan mudahnya disudahi. Beribu-ribu macam cara untuk mengakhiri hidup seseorang. Dari yang paling sederhana hingga yang begitu terencana. Ya, tak perlulah kita memperkarakan mengenai kematian atau semacamya. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita memaknai dan mempertahankan hidup ini.

Ada dimana seorang yang sudah rentan ataupun penyakitnya sudah begitu menyiksa orang tersebut, namun tetap saja dilakukan berbagai macam cara untuk mempertahankan hidupnya selama mungkin. Mengapa tidak langsung saja diberi suntikan untuk mengakhiri hidupnya seperti yang dipakai tak sedikit orang? Itu karena hidup begitu bermakna. Baik memperpanjang setahun, sebulan, sehari, sejam, semenit, atau bahkan sedetik, mempertahankan keberadaan kita di dunia memiliki nilai yang tak terbatas.

Pesan saya, hargailah hidup anda. Pakailah waktu anda dengan sebanyak mungkin tindakan yang berkualitas. Nikmatilah hidup anda. Begitu banyak menikmati hidup yang bagi saya sangat seru ini. Sekali lagi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita setelah ini. Syukuri setip nafas yang anda hirup, setiap pemandangan yang terpantul di retina anda, setiap rasa yang terkecap di lidah anda, setiap sentuhan dari orang yang anda sayangi, setiap tawa bersama sahabat-sahabat anda, setiap tetes keringat dari perjuangan anda, setiap kehangatan yang dipancarkan matahari lagsung pada anda, dan setiap detik waktu yang terjadi dalam hidup anda. Karna hidup adalah sebuah anugrah terindah bagi kita sebagai bagian kecil dari dunia yang bahkan tak kita ketahui batasnya ini. 

Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Peniru Ulung

Pernahkah anda meniru? Tidak? Saya pastikan anda adalah seorang pembohong jika anda mengatakan tidak. Mengapa? Kita semua manusia adalah peniru. Hal yang tidak kita tiru hanyalah bawaan insting kita. Insting untuk bertahan hidup, makan, ataupun seksual. Sisanya? Semuanya hanyalah sifat ataupun sikap yang tanpa kita sadari adalah tiruan dari hal-hal yang kita lihat ataupun kita terima.Cara untuk mendapatkan ketiga hal di ataspun juga merupakan bentuk tiruan dari lingkungan kita.

Dari sejak lahir kita telah didoktrin oleh tindakan-tindakan yang dirasa benar oleh orangtua kita. Saat kita dewasa kita berusaha mencari jalan kita sendiri, atau sering disebut mencari kebenaran. Namun jika anda menyadarinya, sesuatu yang anda anggap benar itupun adalah input dari pihak lain yang anda serap dan cocok dengan diri anda. 

Manusia hanya membutuhkan rangsangan dari luar untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya namun terpendam dalam diri. Hanya butuh satu orang yang memulai, maka manusia akan dengan berani melakukan hasratnya yang ternyata sejalan dengan pikiran orang lain yang telah melakukan tindakan tersebut. Saya akan mengajak anda untuk melihat dari kasus pemerkosaan di angkutan umum yang belakangan terus terulang.

Kasus pemerkosaan di dalam angkutan umum pertama terjadi di dalam mikrolet. Tentu saja saat kejadian itu terjadi, masyarakat ribut membicarakannya. Angkot jurusan yang sama sempat sepi karena penumpang takut dan masih trauma atas kejadian tersebut. Kita berpikir bahwa kejadian seperti itu hanyalah sekali terjadi. Namun tidak demikian.

Kejadian yang sama terulang tidak lama setelahnya. Dan kembali terulang seperti tidak ada jera sampai sekarang. Terakhir bahkan seorang wanita digilir lima orang termasuk supir mikrolet tersebut. Aparat telah melakukan kebijakan yang dirasa bisa mengurangi tindakan pemerkosaan dengan penegasan dalam seragam supir. Namun apa hasilnya?

Saya sendiri tidak menemukan suatu penyelesaian dengan menyuruh supir berseragam. Apakah dengan berseragam berarti mereka adalah supir dengan pribadi yang baik yang tidak akan melakukan tindakan asusila? Memangnya setelah berseragam maka mereka akan berhenti memerkosa? Bukan itu masalahnya. 

Masalahnya bukan pada berseragam atau tidak, masalahnya adalah nafsu binatang yang telah ada dalam otak para pelaku maupun calon pelaku. Seragam tidak akan menutupi atau meredam hasrat mereka. Tindakan pemerkosaan itupun juga tak bisa kita kesampingkan dari dugaan adanya perencanaan sebelumnya. Supir angkot yang turut serta dalam pemerkosaan itu juga bisa membuat indikasi perencanaan tersebut kuat.

Satu saja yang memulai maka hasrat terpendam akan mencuat ataupun memunculkan hasrat baru. Para pelaku kedua , ketiga, atau setelahnya mungkin berpikir "Oh, ternyata bisa begitu ya" dan tinggal melakukan eksekusi. Dan memang pribadi masyarakat kita di jalanan sana sudah begitu rusak. Dan sekalinya tindakan seperti itu dilakukan, akan banyak peniru yang melanjutkannya. Polisi? Tak ada takut-takutnya mereka dengan polisi.

Meniru tindakan yang buruk adalah keahlian kita semua. Meski saya sendiri sampai saat ini tidak tahu apa itu yang sebenarnya baik dan mana yang benar-benar buruk. Namun tentu memerkosa tidak ada sisi baiknya bukan?

Melihat sifat meniru pada manusia, saya merasa diri saya yang sekarang inipun bukanlah diri saya yang murni dari diri saya. Sikap, tingkah laku, gaya bicara, gerak tubuh, semuanya ada unsur tiruan dari orang lain. Sering juga saya menyadarinya. Melihat sebuah gerakan tubuh yang menurut saya cocok dengan diri saya, maka setelahnya secara tidak sadar akan saya praktekkan dan terus menjadi kebiasaan diri.
Gaya bicara ataupun tutur kata paling mudah untuk ditiru. Kenapa kita bisa membedakan kelas seseorang dari cara bicaranya? Karena mereka sudah memiliki ciri-ciri gaya bahasa tersendiri sehingga kita bisa membedakannya. Dan itu berarti ada kesamaan yang berasal dari peniruan dari gaya bahasa dari kelas yang sama. Apakah itu disengaja? Tidak. Itu terjadi begitu saja karena sifat meniru manusia telah dibawa dari dalam diri masing-masing sejak lahir.

Kita hanya perlu tinggal di suatu lingkungan maka secara tidak langsung atau kita sadari akan terbentuk pribadi yang kita sebut diri kita sendiri yang merupakan hasil dari perkembangan kita bersama orang-orang sekitar. Lingkungan yang mengajarkan keburukan dan hanya menganggap wanita itu 'barang' akan dengan mudah membentuk pribadi yang bisa dengan santainya memerkosa wanita yang ingin pulang naik angkot seperti biasa.

Tirulah mana yang bisa membangun pribadi anda menjadi pribadi yang lebih baik dan bermartabat.  Bersikaplah dengan baik agar mereka yang akan meniru andapun akan menjadi pribadi yang baik di tengah lingkungannya. Namun sekali lagi, bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Senin, 09 Januari 2012

Prolog Petualangan Baru

2012, tahun penuh kontroversi yang telah diperbincangkan dari beberapa tahun terakhir akhirnya kita masuki juga. Menapaki tahun yang baru seperti memasuki sebuah periode kehidupan yang baru. Kita telah melewati titik aman 2011 sehingga bisa memasuki tahun 2012. Hal yang telah lewat bukanlah sebuah momok melainkan sebuah pengajaran, hal yang akan dilewati bukanlah ancaman melainkan harapan.

Pada awal tahun 2012 ini, ibukota dan sekitarnya diguyur hujan badai dimana-mana. Hujan yang turun deras sampai pada hari ini membuat udara di dalam kota terasa begitu nyaman. Rasa panas seperti terasingkan untuk sesaat. Namun tak selamanya cuaca seperti ini menguntungkan. Pohon-pohon yang tumbang karena diterpa hujan serta angin yang berhembus kencang membuat lalu lintas tersendat di beberapa sudut kota. Badan yang tak memiliki daya tahan baikpun akan riskan diterjang cuaca yang ekstrim, tak terkecuali saya.

Selain diguyur hujan yang deras, kita juga diguyur oleh berita tentang mobil buatan anak bangsa. Esemka memberi warna awal tahun 2012 ini. Kita patut mengapresiasi serta mendukung mobil-mobil buatan anak-anak SMK ini. Jadikanlah mobil Esemka ini sebagai motor peningkatan produksi dalam negeri. Tak ada yang tak bisa kita lakukan dengan sumber daya manusia kita. Tinggal bagaimana kita mau melakukan dan keseriusan dalam mengembangkannya. 

Ada pihak yang cukup pesimis karena menganggap mobil ini nantinya akan bernasib seperti mobil Timor. Menurut saya janganlah kita melihat ke belakang. Lihatlah apa yang ada sekarang. Lihat apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Semangat adik-adik SMK yang memproduksi mobil Esemka ini harus terus dipicu dan jangan dibiarkan memudar. Berikanlah kesempatan untuk naik ke level yang tinggi lagi. Jangan jadikan semangat mereka percuma dan hanya menjadi pemanis sementara saja. 

Produksi seperti mobil ini sangat memerlukan dukungan dari konsumen dalam negeri. Karena bagaimanapun juga, kita sendirilah masyarakat Indonesia yang harus menjadi pengguna mobil tersebut. Dan menurut saya itulah tantangan terbesar dari para produsen mobil tersebut jika nanti mobil ini sudah bisa diproduksi secara massal. Di berita-berita terdengar respon positif dari berbagai pihak dan semoga saja mereka akan benar-benar menjalin kerjasama yang baik untuk pemakaian mobil ini. Dan tantangan berada pada Gubernur. Dengan adanya mobil ini maka bisa saja jumlah mobil akan semakin banyak bertebaran, bagaimana pemerintah daerah akan mengatasinya?

Di tahun yang telah berlalu pastilah memuat peristiwa-peristiwa yang akan teringat. Yang paling bisa kita ingat adalah yang paling menyenangkan dan yang paling menyedihkan. Sebuah peristiwa yang terjadi tak akan terulang sama persis, karena itulah kita bisa mengingatnya. 

Waktu akan berlalu. Peristiwa akan lewat begitu saja. Orang-orang akan ada yang pergi dan datang. Rasa bahagia akan berlalu dengan rutinitas yang dilewati, namun rasa duka akan terus hinggap jika tak ada keinginan untuk menengadah. Bencana tak akan memberikan salam sebelum datang, keberuntungan hanyalah sudut pandang dari keberhasilan. Tak ada yang tak bisa diubah selama itu berada pada wilayah kita manusia. Tahun baru yang kita lewati dengan orang maupun cara yang kita pilih masing-masing pastilah memendam harapan di hati kita yang terdalam. Namun tanpa kita sadari itu semua hanyalah pilihan.

Anda punya resolusi tahun ini? Atau setidaknya harapan akan sesuatu? Saya punya resolusi dan harapan saya sendiri dan seperti banyak orang di luar sana, saya sangat berharap. Namun semua tak akan terjadi jika kita hanya berharap tanpa ada usaha nyata. Janganlah membuat yang berbeda hanyalah digit angka pada tahun, melainkan juga pada kehidupan kita. Tidakkah hidup akan menjadi membosankan jika tahun demi tahun dilewati begitu saja tanpa adanya perubahan? Tak perlulah memikirkan kiamat atau semacamnya di tahun ini. Tapi jika anda menganggap demikian, bagaimana kalau anda memadatkan tahun ini dengan persembahan terbaik dari anda. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.