Minggu, 28 Oktober 2012

Tanyakan Kepada Darah dan Tulang


Ingatkah anda ada apa dengan hari ini? Apakah anda tahu sedang terjadi apa pada tanggal ini berpuluh-puluh tahun yang lalu? Apakah anda merasa merupakan bagian dari bangsa ini? Sudahkah anda meninggikan bahasa ibu anda? Darah yang mengaliri kehidupan sampai pada tapak terakhir ini, apakah sudah membeku? Puluhan tahun lalu mereka bersumpah, dan puluhan tahun setelahnya masih ada kita, jawaban dari sumpah mereka yang disebut pemuda. Indonesia.

Kita yang dengan bangga membeli jersey sepakbola yang berlogo garuda, anda yang masih menyanyikan lagu Indonesia Raya meski hanya satu sehari di bulan Agustus, atau pun saya yang bisa dengan tegas mengatakan merah dan putih adalah lambang negara, semua adalah hasil dari sebuah langkah awal dari banyak pemuda yang memiliki inisiatif. Inisiatif itulah yang membuat Sumpah Pemuda begitu besar kaitannya dengan terciptanya kedaulatan atas Sabang sampai Merauke. Ribuan pulau menjadi satu kesatuan di bawah payung Pancasila dan UUD 1945. Sebuah sumpah yang menjadi pondasi dari tiang-tiang penopang bangsa, Sumpah Pemuda.

Mereka yang bersumpah tidak berasal hanya dari satu suku. Mereka juga tidak berdoa dengan cara yang sama. Daerah mereka dilahirkan berbeda-beda bahkan berbeda pulaunya. Raut wajah atau cara mereka berbicara pun terdiferensiasi sesuai sosialisasi yang mereka dapatkan dari lingkungannya. Unsur perbedaan, apakah mereka memperdulikannya?

Peringatan adalah hal yang biasa dari sesuatu yang bersejarah. Peringatan terhadap hari Sumpah Pemuda bisa dilakukan dengan upacara bendera. Bisa dengan menulis di kolom-kolom surat kabar, spanduk, atau televisi dengan menempelkan logo partai masing-masing. Membuat status terbaru seputar peringatan Sumpah Pemuda di social media. Atau hanya menikmati hari Minggu seperti biasa. Sesungguhnya sebuah peringatan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, adalah bentuk penghargaan kita dan rasa hormat. Bentuk dari rasa ingat akan sesuatu yang bersejarah, entah itu karena memang ingat atau teringat oleh orang lain terlebih dahulu. Jika yang kedua, cobalah mengingat mulai dari sekarang.

Perbedaan kita saat ini mungkin lebih beragam dibandingkan dengan mereka yang menyusun Sumpah Pemuda. Diferensiasi pekerjaan membuat masing-masing kita semakin sibuk dengan peran masing-masing di dalam masyarakat. Namun apakah benar kita mengambil peran untuk masyarakat? Ataukah kita mengambil peran untuk diri kita bisa bertahan di dalam masyarakat? Apakah upaya mempertahankan negara ini memang ada dalam diri kita? Lebih jauh lagi, apakah memang kita masih ingin negara ini ada?

Pemikiran pragmatis yang ada di setiap sudut kota dan desa menjauhkan kita dari upaya dan pandangan jauh mau dibawa kemana negara tercinta. Setiap orang terlibat perkelahian dalam di atas ring yang disebut lapangan kerja. Kemajuan teknologi semakin meninggalkan mereka yang tidak mampu untuk mengejar yang bahkan untuk mempertahankan hidup pun masih sukar. Ketika kebingungan masih melanda bagaimana cara untuk mempertahankan posisi diri dan kehidupan, bagaimana bisa kita menganggap mempertahankan persatuan bangsa adalah kewajiban kita?

Budaya demokrasi yang ada seakan-akan membawa kita semakin terlena. Demokrasi yang merupakan alat untuk membangun negara ke jalur yang benar justru membuat banyak arus yang tak sejalan. Mereka yang tak kunjung naik dari kasta terendah mendambakan kembalinya Orde Baru dalam hidup mereka. Masa yang 'enak' tiap golongan berbeda. Bagaimana dengan anda? Seberapa besar keleluasaan demokrasi yang telah anda gunakan untuk pergerakan ke arah yang lebih baik dari negara ini?

Lihatlah jauh ke depan sana. Kalau perlu mintalah mereka yang berbahu besar menggendong anda agar bisa terlihat lebih jauh jangkauan pandangan anda. Terlihatkah oleh anda di seberang sana? Sebuah bukit Asia dimana merah putih berkibar di puncaknya? Terlihatkah juga oleh anda di balik tembok beton sana, benua-benua yang tadinya berkuasa  mencoba untuk mendapatkan jabat tangan dari kita? Apakah anda melihat, atau anda tertawa?

Anda boleh saja mengkritik mereka yang duduk di kursi tertinggi saat ini. Anda boleh menertawai keadaan saat ini dimana penghargaan terhadap agama serta etnis lain masih terjadi. Anda boleh mengelus-elus dada ketika mendengar kekonyolan-kekonyolan yang dibuat oleh anak-anak bangsa. Namun daripada itu semua, anda juga bisa menghujat diri anda ketika diri anda diam saja melihat itu semua. Tertawailah diri anda ketika anda adalah satu di antaranya. Dan suruhlah orang lain mengelus-elus dadanya untuk anda karena tak ada yang bisa anda lakukan untuk berkonstribusi merubah itu semua.

Sebutlah diri anda nasionalis. Sebutlah diri anda Islamis. Tapi saya akan memberikan jabatan tangan paling erat kapada anda yang merasa optimis. Biarkanlah mereka yang suka dianggap pintar dengan cara mengkritik, kita semua lebih butuh pengubah. Sudah cukuplah jumlah pengkritik yang hanya menghujat tanpa memberikan solusi. Ketika anda hanya mengkritik, apakah itu cukup untuk membuat sebuah perubahan? Apalagi ketika anda hanya bergumam antara teman anda, apakah itu bisa terdengar dan mengusik mereka yang memiliki kekuasaan menjalankan perputaran kebijakan? Optimis hanya untuk mereka yang merasa harus ada perubahan dan yakin bahwa ada kemampuan untuk melakukan itu meski sekotor apapun lawan yang akan dihadapinya.

Jadikanlah kemuakan anda terhadap masa kini dengan sebuah aksi nyata dan penuh solusi untuk perbaikan negeri. Rasakanlah keresahan dalam diri anda, ketika anda menemukannya berarti anda merasa ada sesuatu yang seahrusnya dilakukan. Dan itu bisa dilakukan dari dalam diri sendiri terlebih dahulu.  Inisiatif apa yang bisa anda lakukan. Mungkin para pemuda hanya beride untuk berkumpul dan menghasilkan Sumpah Pemuda. Namun lihatlah hasil yang mereka dapatkan dengan melakukan itu. Jangan remehkan inisiatif dan langkah awal untuk sebuah tujuan panjang akan sebuah perubahan. Karena semua berawal dari sebuah langkah pertama yang penuh inisiatif.

Sekarang mari kita tanyakan kepada bendera yang saat ini berkibar di atas tiang, “Mengapa mereka tak lagi bergetar melihat kau, darah dan tulang, dikerek ke pucuk tiang di atas sana?” Kira-kira apa gerangan jawabannya?

Bagaimana pun juga ini hanya opini saya.

Hari ini adalah harinya kita! Selamat Hari Sumpah Pemuda! 

Senin, 15 Oktober 2012

Jadi Nomor Satu Itu Menarik?

Pernahkah anda berpikir untuk menjadi nomor satu? Atau setidaknya pernahkah anda berpikir untuk menjadi yang terdepan di antara yang lainnya? Menjadi nomor satu adalah sebuah motivasi yang sangat diperlukan dalam setiap diri manusia untuk bisa melangkah ke depan, ke fase selanjutnya dalam hidup. Fase disini adalah tingkatan seseorang untuk menggapai di luar batas yang saat ini menutupi pandangan mata, melampaui apa yang mereka rasa adalah batas maksimal mereka.

Namun tak semua orang merasa dirinya perlu untuk menjadi nomor satu. Tak semuanya mau berkompetisi. Menjadi urutan teratas hanyalah bumbu dari kehidupan yang dilakukan seaman mungkin, atau sebisa mungkin menghindari hal-hal yang menyulitkan. Menghindar dari kesulitan adalah tabiat yang secara tidak sadar menjamuri kita, generasi muda yang pada titik tertentu akan menjadi kelompok usia yang paling berkuasa di negeri ini.

Kita generasi muda, sebut saja kelompok usia 25 tahun ke bawah, terbiasa dengan kemudahan yang sering menimang-nimang kita. Revolusi teknologi secara besar-besaran terus memanjakan kita, kita yang juga berdamai dengan rasa malas. Ditambah lagi jika anda berasal dari keluarga mampu yang memiliki supir atau pembantu. Kemudahan-kemudahan itu membuat kita terbiasa dengan hal-hal yang praktis dan mudah, bisa dikatakan tidak mau repot atau direpotkan. Kesenangan-kesenangan anak kecil terus dipelihara seakan-akan hanya tubuh saja yang menua. 

Umpamakan kita sebagai seorang pelari. Saat pelari berlari di atas lintasan maka ia akan mengerahkan otot-ototnya untuk menggerakkan kaki secara cepat, melebihi lawan-lawan lainnya. Kita akan berlari lurus ke depan dan memaksa jantung berdetak tak karuan. Pandangan kita lurus ke depan ke garis finish. Tapi apakah benar demikian? Apakah kita selalu melihat lurus ke depan?

Seringkali kita memalingkan pandangan ke lawan-lawan kita di samping. Saat kita berada di posisi terdepan akan ada rasa takut bahwa kita akan tersusul oleh yang lain. Rasa takut akan jantung yang tak kuat untuk berdetak lebih cepat dan kepercayaan terhadap kaki sendiri mulai diragukan. Ketika kita kembali memalingkan muka ke belakang, terlihat orang-orang lain sedang berlari sekuat mereka, dengan pikiran mereka masing-masing, dengan motivasi masing-masing. Rasa was-was semakin besar, garis finish seakan menjauh dari jangkauan.

Itu jika anda berasa di posisi terdepan. Saat anda berada di posisi kedua, ketiga, keempat, atau bahkan terbelakang di antara yang lainnya, apa yang akan anda lakukan? Apa yang akan anda lakukan ketika sekuat apa pun anda berlari kaki anda tak mau bergerak sesuai yang anda kehendaki dan bayangkan anda bisa lakukan? Orang-orang di depan anda tak punya waktu untuk memperhatikan anda di belakang mereka, tujuan anda dan mereka juga sama, garis finish. Garis finish seakan menjadi sangat mustahil diraih ketika lawan-lawan lain tidak mengurangi kecepatan mereka. Namun garis finish benar-benar sudah pergi hanya ketika anda merasa bahwa memang anda tak ingin menjangkaunya.

Apa yang anda dapat dari ilustrasi tersebut? Ya, menjadi terdepan itu sulit. Itulah mengapa banyak di antara kita yang lebih memilih untuk menjadi si nomor dua, si nomor empat, atau tidak sama sekali. Lebih baik diam dibanding harus berkeringat untuk sesuatu yang belum pasti diraih. Berkompetisi adalah hal yang melelahkan. Sekarang mana yang kita pilih, menjadi salah seorang calon yang berada di urutan teratas, atau mereka yang bahkan menginjak garis start pun tak mampu.

Yang terpenting bukanlah tingkat kesulitan untuk meraihnya, melainkan proses kita dalam meraihnya. Apakah kita sudah memberikan yang maksimal? Apakah kita benar-benar ingin menjadi yang terdepan? Tanyakan itu ke diri kita masing-masing. Tanyakan apakah garis finish tadi benar-benar adalah tujuan kita atau hanya imajinasi anak kecil terhadap sesuatu yang dirasa hebat. Jika seseorang di urutan kedua atau keempat tidak membuang waktu untuk menoleh ke sampingnya atau membuang waktu memikirkan kata 'kalah', maka garis finish akan mendekat dengan sendirinya. Ketika seseorang yang memang sudah berada di posisi terdepan tidak mengizinkan lehernya untuk memalingkan kepala melihat ke belakang dan membuka pintu keraguan, maka ia akan semakin menjauh meninggalkan ketakutan dan keraguannya ke belakang.

Mereka yang pernah mejadi orang-orang besar di negerinya adalah mereka yang berani untuk menjadi nomor satu di bidangnya masing-masing. Ketika keberanian itu dibarengi dengan niat dan kerja keras maka dimana pun lintasan mereka maka kaki mereka akan dengan mudahnya diperintah untuk berlari. Para pendiri bangsa ini adalah mereka yang merasa bahwa masyarakat Indonesia adalah yang seharusnya menjadi penguasa negeri ini maka mereka berani menjadi yang terdepan dan menjadikan garis finish mereka tercapai, Indonesia merdeka.

Salah satu olahraga yang saya sukai adalah lari. Mengapa? Karena saya adalah orang yang tidak suka berada di belakang orang lain. Saat berlari seorang pelari akan berusaha menjadi yang terdepan. Bagi saya itu adalah hal paling menarik dari olahraga itu. Bagaimana kita berusaha dengan otot dan mental kita untuk menjadi yang terdepan. 

Ada saatnya kita meraih garis finish dari perjuangan kita dengan posisi terdepan, dan ada kalanya kita harus mengakhirinya dengan posisi di belakang yang lain. Ketika kita berhadapan pada kekalahan itu maka itu bukan berarti kita tidak mampu atau tak ditakdirkan menjadi nomor satu. Ketika kita telah memilih sebuah track dalam hidup kita, berarti kita yakin bahwa kita mampu untuk berdiri disana dan menghadapi semua tantangan yang akan menghampiri kita di sepanjang lintasannya. Selanjutnya adalah bagaimana kita melakukan usaha maksimal dari kita. Karena menjadi terdepan adalah baik adanya. Bagaimana menurut anda? Apakah menjadi nomor satu itu menarik bagi ada? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Selasa, 09 Oktober 2012

Kami Bayar Bukan Nyumbang


Ketika kita membayarkan sesuatu, kita berhak atas apa yang menjadi alasan kita membayar. Entah itu sebuah barang atau pun jasa pelayanan. Itulah hakekat dari kita membayar. Seperti halnya kita membeli siomay dengan harga lima ribu rupiah kita bisa mendapatkan lima siomay, pasti kita akan protes atau bahkan sampai memarahi si tukang siomay ketika kita hanya mendapatkan empat siomay. Hal ini umum di setiap saat kita membayar sesuatu, termasuk membayar kuliah. Kalau dalam hal perguruan tinggi, mahasiswa adalah konsumen utamanya.

Jika anda adalah seorang mahasiswa, tentu anda akan menjalankan tanggungjawab awal yakni membayar uang masuk universitas atau pun uang kuliah semester. Anda membayarkan itu dengan harapan mendapatkan pelayanan pendidikan yang maksimal dari pihak universitas. Biaya kuliah yang tinggi saat ini semakin membuat ekspetasi kita terhadap apa yang akan kita dapat dengan membayar ke pihak universitas semakin tinggi. Tak terkecuali di Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Indonesia.

Tidak seperti era sebelumnya dimana biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri sangat murah, saat ini biaya yang dikeluarkan tak jauh berbeda dengan biaya masuk universitas swasta. Bahkan ada kelas-kelas yang dibuka di Perguruan Tinggi Negeri yang memakan biaya yang melebihi biaya masuk universitas swasta. Dahulu selain mencari kualitas yang terjamin dari universitas negeri orang-orang juga mencari biaya kuliah murah dengan masuk universitas negeri, kalau sekarang?

Saya saat ini berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Seperti yang saya utarakan di atas, biaya yang saya keluarkan cukup tinggi. Biaya yang tinggi itu sudah termasuk biaya masuk kuliah, uang semester, dan biaya lainnya yang tak disebutkan satu-persatu oleh pihak universitas. Untuk itu semua saya merogoh kocek sampai belasan juta rupiah.

Masalahnya ada ketika sebagai mahasiswa, saya atau setidaknya angkatan saya tidak mendapatkan hak kami secara maksimal. Sebagai contoh ada satu mata kuliah wajib universitas saya yang memakai 5 buku cetak yang seharusnya dibagikan oleh pihak universitas. Sampai saat ini buku-buku yang menjadi hak kami itu belum kami terima. Padahal menengok ke tahun-tahun sebelumnya, buku tersebut sudah bisa didapat dari awal masuk kuliah. Tapi untuk tahun ini, sampai mendekati UTS kami belum bisa mendapatkannya.

Masalah buku itu hanya salah satu hal di antara berbagai macam persoalan yang saya rasa tidak bisa diterima alasan apapun untuk menjelaskannya. Seperti kartu mahasiswa yang baru didapatkan setelah lewat berminggu-minggu dari masuk kuliah, fasilitas komputer mahal yang canggih yang tidak bisa berfungsi dengan baik, dll.

Dengan kasus-kasus semacam itu bisa saja muncul kecurigaan terhadap penyelewengan uang yang dibayarkan oleh mahasiswa. Sah-sah saja ketika mahasiswa mencurigai hal itu ketika mereka tidak mendapatkan hak yang sewajarnya. Seperti rakyat yang tak mampu mempertanyakan uang dana BOS untuk anak mereka yang tidak mereka terima. Adalah wajar untuk mempertanyakan hak kita.

Kita perlu menganggap hal ini sebagai hal yang serius. Jika memang kita ingin universitas kita mendapatkan apresiasi yang lebih tinggi di mata internasional atau setidaknya dicap berkualitas internasional, hal-hal semacam ini tidak sepatutnya bisa terjadi. Jika pihak universitas saja tidak bisa memenuhi kewajibannya memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik kepada mahasiswanya, bagaimana bisa pihak luar menilai kita dengan lebih baik?

Hal yang masih kurang dalam pengelolaan dana di Perguruan Tinggi Negeri salah satunya adalah transparansi terhadap dana yang dibebankan ke pihak mahasiswa. Ketika seorang mahasiswa membayar dana sebut saja sebesar lima belas juta rupiah, maka sudah sepatutnya mahasiswa mengetahui kemana perginya uang yang dibayarkan itu. Ini ada baiknya juga untuk hubungan yang baik antara fakultas dengan mahasiswa yakni meminimalisir kecurigaan yang akan berdampak negatif dalam berlangsungnya perkuliahan. Akuntabilitas pihak universitas masih patut untuk dipertanyakan.

Mahasiswa sekarang juga harus bisa bersikap kritis terhadap masalah semacam ini. Dari lingkungan saya sendiri, atau jika dipersempit dalam sebuah kelas, banyak yang tidak menyadari akan adanya hal yang tidak berjalan semestinya, dalam hal ini masalah buku tadi. Mungkin mereka mengeluh namun merasa hal itu bukanlah hal yang penting untuk ditindaklanjuti. Pihak universitas bisa saja membiarkan hal ini terjadi berlarut-larut karena dari mereka sendiri tidak merasa ada tekanan yang mengharuskan mereka untuk melakukan perubahan. Mahasiswa harus tetap responsif agar bisa terus mengingatkan pihak universitas jika terjadi hal yang tidak semestinya. 

Adalah tanggungjawab kita sebagai mahasiswa untuk mempertanyakan dan melakukan tindakan terhadap hal semacam ini. Dana pendidikan yang berasal dari rakyat sudah sepatutnya dipertanggungjawabkan, dan kita sebagai mahasiswa memiliki peran kontrol karena kita yang secara langsung merasakan apakah dana itu sudah dipakai dengan maksimal atau tidak. Kita sendirilah yang harus bertindak jika terjadi hal yang keluar pada jalur yang semestinya. Kalau bukan kita yang bergerak, maka siapa lagi? Pihak lain tak punya dorongan atau kepentingan untuk bergerak seperti kita. 

Seperti ungkapan di awal tulisan ini, kita ini membayar. Beda soal kalau kita menyumbang. Ketika menyumbang kita tidak mengharapkan imbalan atau timbal balik kepada kita yang setimpal. Sedangkan ketika kita membayar maka kita harus menuntut hak kita secara maksimal sesuai yang telah kita lakukan dalam kewajiban kita. Sudahkah anda mendapatkan hak anda? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Kamis, 20 September 2012

Ketika Kelingking Jakarta Menjadi Ungu

Jari kelingking telah dicelupkan. Warna ungu menempel di kulit yang kasar atau pun halus. Kertas-kertas penuh bolongan dihitung satu persatu sebelum menjadi tumpukan sampah yang entah akan dibakar atau ditimbun. Ibu-ibu rumah tangga mengajak anak kecilnya duduk-duduk di kursi tamu sambil menyaksikan orang-orang, mulai remaja sampai yang sudah sepuh, berlalu-lalang mengotori jari kelingking mereka dengan tinta seperti sebuah pertunjukan sesaat di sebuah kampung yang sumpek dengan bau selokan yang menyengat. Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua telah dilaksanakan.

Pesta demokrasi itu telah diikuti oleh ribuan remaja dan dewasa, oleh mereka mengenal calon dari siaran televisi, mereka yang tahu karena diceritakan oleh orangtua, atau mereka yang mengikuti jalannya kampanye calon sambil dengan seru berdebat dengan kawan-kawannya setiap kali menyinggung perbincangan seputar pemilukada DKI Jakarta. Bahkan warga Jakarta yang sedang berkelana di luar kota atau luar negeri yang tidak bisa turut serta dalam pemilukada ini sangat antusias mencari tahu hasil quick count.

Dalam hasil quick count yang telah dimumkan di TV sampai tweet para remaja di twitter, Jokowi-Ahok memenangkan perolehan suara di putaran kedua ini. Sebuah hasil yang bagi banyak orang tidaklah mengagetkan. Fauzi Bowo kalah dalam adu popularitas. Ya, popularitas. Bagaimana kemudian dengan perang visi misi? Apakah betul Foke kalah ketimbang Jokowi?

Pada rentang waktu putaran pertama dan putaran kedua masyarakat bukanlah disajikan sebuah pertarungan visi misi yang menggiurkan untuk dipikirkan sebagai bahan memilih calon pemimpin mereka. Masyarakat malah dipertontonkan perang SARA yang membawa unsur agama dan ras. Apakah anda melihat itu indah adanya? Atau mungkin kita sebagai masyarakat Jakarta malah lebih tertarik dengan pertarungan macam itu? Bisa saja demikian karena unsur yang berbau SARA terkadang sangat menarik untuk diperdebatkan dan menarik minat untuk membawa konflik ke permukaan.

Menurut Samuel P. Huntington, interaksi politik dunia saat ini bukanlah berasal dari perang ideologi. Dunia saat ini lebih digerakkan oleh konflik antar peradaban yakni agama dan ras. Agama terutama, merupakan penggerak yang paling kuat dalam mengatur sebuah masyarakat sampai pada taraf politis. Dan hal itu bisa kita lihat dengan apa yang terjadi dalam masa pemilihan calon gubernur baru DKI Jakarta ini.

Kalau konsep dunia yang diungkapkan oleh Huntington kita sempitkan sebatas lingkup DKI Jakarta saja maka kita bisa melihat bagaimana memang kita sebagai masyarakat sangat terpengaruh dengan isu ras dan agama. Bila kita bayangkan secara sederhana saja maka saya bisa mencontohkan sebagai berikut. Banyak di antara kita yang tiba-tiba mengikuti jalannya pilkada karena ada isu SARA yang naik ke permukaan. Apakah anda satu di antaranya? Apakah sebelumnya anda mengikuti dan telah mengenal visi misi dan program para calon? Jika memang anda menjadi tertarik dengan berita seputar pilkada karena ada unsur SARA yang menurut anda sangat seru berarti anda sendiri sebagai masyarakat akan sulit untuk melihat seorang pemimpin secara objektif.

Itu semakin diperparah oleh media yang memang saat ini sangat diuntungkan dengan berita-berita semacam ini dan tentu saja semakin membuat panas suasana yang ada di tengah masyarakat. Majunya social media juga semakin membantu percepatan informasi termasuk provokasi. Calon yang diuntungkan hanya tinggal duduk sambil tersenyum melihat masyarakat yang ternyata belum bisa berpikir maju mudah terprovokasi.

Jika tak ada kesalahan dalam perhitungan quick count maka bisa dipastikan bahwa Jokowi adalah pemimpin baru Jakarta. Banyak orang-orang yang tidak rugi telah membeli baju kotak-kotak di pinggir jalan atau di mobil-mobil keliling yang berhenti di tempat-tempat secara acak. Apakah janji-janjinya dan kredibilitasnya yang katanya telah teruji di kota Solo mampu merubah Jakarta sesuai keinginan masyarakat?

Yang menarik disini bagi saya adalah kekalahan Foke berarti juga kekalahan Demokrat. Secara tidak langsung DKI Jakarta akan dipimpin oleh partai oposisi. Seperti yang kita tahu Jokowi-Ahok adalah pasangan yang diusung oleh PDIP dan Gerindra. Sangat menarik untuk diikuti karena Jakarta adalah kota yang di dalamnya berisi inti pemerintahan negara. Negara yang dikuasai Demokrat dan Jakarta yang dipimpin lawannya. Akan menjadi seperti apakah perpolitikan di Jakarta kedepannya?

Pemerintahan Jokowi nanti tentu saja akan dipengaruhi oleh partai pengusungnya. Melihat dasar ilmu Jokowi yang kehutanan tentu akan sulit bagi dirinya jika tidak dibantu oleh para ahli perkotaan dalam menata kota Jakarta. Dan bantuan itu bisa saja dan tidak mungkin akan dimonopoli oleh partai-partai pendukungnya. Ini bisa saja menjadi tantangan warga Jakarta untuk turut berpartisipasi mengawasi jalannya pemerintahan di Jakarta agar tidak menyeleweng ke kepentingan kelompok tertentu atau hanya sebagai alat penjaring kekuasaan semata.

Namun pada dasarnya siapapun yang terpilih akan mengemban amanat dan harapan dari masyarakat Jakarta yang telah lelah, basah, dan frustasi karena macet, banjir, dan kesenjangan sosial yang menyelimuti setiap saat ketika panas udara Jakarta mengenai kulit kita yang mulai menghitam. Bukan tidak mungkin memimpin Jakarta adalah awal untuk pada nantinya mengambil bagian dalam jajaran penguasa Indonesia. Sekali lagi, bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Selasa, 18 September 2012

Waktu: Harta dan Dilema

Seperti yang tertulis di judul posting saya yang kali ini, kali ini saya ingin membicarakan mengenai waktu. Dalam pandangan saya waktu adalah harta dan sekaligus dilema. Waktu adalah sesuatu yang menyelimuti kita setiap saat sekaligus pengingat dan pengawas kita. Waktu terus berjalan serentak dengan setiap derap langkah dan tetesan keringat yang menceritakan pengalaman pertumbuhan seorang bayi yang telah menjadi sepuh nan tua.

Waktu adalah harta kita. Apakah anda merasa demikian? Jika anda merasa saat ini anda sangat kekurangan dan putus asa karenanya, ketahuilah bahwa anda masih memiliki salah satu harta yang sangat bernilai yakni waktu. Anda membutuhkan waktu untuk menghasilkan sesuatu atau pun untuk tumbuh dan berkembang. Waktu adalah pedoman kita untuk melihat sekaligus mengamati sebuah perkembangan. Setiap kejadian ditandai dan diingat berdasarkan waktunya. Waktu adalah penanda kehidupan dan eksistensi.

Berharganya waktu akan kita rasakan saat kita membutuhkannya untuk menghasilkan sebuah karya atau penegasan-penegasan keberadaan diri. Kita tak akan bisa memandang harga dari sebuah waktu tanpa sebuah hasil dari apa yang kita kerjakan. Semua hal yang kita kerjakan atau hasilkan adalah buah dan harga yang dibayarkan dari waktu yang tak kelihatan itu. Jadi anda hanya bisa mengatakan anda menghargai waktu ketika anda melakukan sesuatu yang menghasilkan, apapun itu.

Di balik itu, waktu ternyata adalah pengawas kita yang paling setia. Waktulah yang selalu mengingatkan kita sudah sampai dimanakah langkah kita saat ini dan apa saja yang sudah berhasil kita perbuat untuk diri sendiri dan orang lain. Kita berjalan pada sebuah kolom waktu yang berparalel dengan kolom-kolom yang lain. Dari kolom-kolom itu kita akan saling bergesekan dan beririsan dengan jalur orang lain yang membuahkan suatu keterikatan waktu antar sesama kita.

Ketika anda merasa kosong dan tak merasakan apapun, cobalah ingat timeline hidup anda sejenak. Sudah berapa cek point kehidupan yang telah anda lewati sampai pada detik ini. Rasakanlah bahwa waktu enggan untuk menunggu anda. Enggan untuk melihat kemampuan dan keterbatasan anda untuk berlari bersamanya. Ia tak mau untuk menemani anda mendapatkan lagi suasana nyaman saat itu hilang. Ia tak perduli jika anda sampai harus menyeret kaki anda yang jarang menjadi pijakan itu untuk bergerak, berlari bersamanya.

Terkadang kita dibatasi oleh waktu yang secara tak sadar kita bentuk sendiri. Kita dikejar oleh jenjang waktu yang kita ciptakan maupun yang diciptakan oleh tuntunan peran kita. Pembagian waktu menjadi hal yang penting sekaligus penting. Pada saat seperti itu, anda akan merasakan bagaimana sebuah waktu pada dasarnya berjalan dengan sangat cepat.

Salah satu hal yang membahagiakan bagi seorang pemuda adalah bahwa ia masih memiliki banyak waktu. Tentu waktu yang banyak tersebut adalah modal yang sangat besar untuk menjadi, menghasilkan, atau berbuat sesuatu. 

Waktu adalah kesempatan. Hidup kita adalah sebuah rentang waktu yang merupakan kesempatan yang terus bergulir. Setiap detik secara tidak sadar merupakan kesempatan kita. Kesempatan untuk melakukan sesuatu. Sadarkah sudah berapa banyak kesempatan yang anda lewatkan dengan membuang beribu-ribu jam yang anda buang percuma?

Jadikanlah waktu hidup anda sebagai pernyataan eksistensi anda, keberadaan anda. Waktu adalah harta anda yang bisa membayar segala hal di dunia. Di sisi lain, semua hal memerlukan waktu baik secara langsung maupun tak langsung. 

Ya, saya hanya mengajak anda lebih menengok ke sesuatu yang kita sebut sebagai waktu. Sebentar menepuk sahabat kita yang bernama waktu dan berkenalan. Sesuatu yang bahkan jarang kita sebut itu. Sesuatu yang sering tak kita pedulikan yang ternyata adalah kunci dari segala hal. Kenalilah waktu anda, dan rajailah. Tundukkanlah waktu, jangan mau tertunduk karena waktu. Waktu adalah harta kita, sekaligus dilema dalam keterbatasan seorang manusia. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Jumat, 17 Agustus 2012

Hanya Selamat Ulang Tahun

Selamat ulang tahun! Selamat panjang umur dan sehat selalu! Semoga semua harapan dan cita-citamu bisa tercapai kelak. Di usia yang sekarang sudah seharusnya kepala menengadah tegak ke atas dan dada bisa dibusungkan dengan wibawa dari sosok yang dewasa. Selamat ulang tahun, Indonesia!

Jalan di sekeliling istana negara ditutup untuk mengamankan upacara bendera di hari peringatan kemerdekaan ini. Rumah-rumah dihiasi merah putih, pun juga gang-gang sempit dengan selokan yang mampet turut diramaikan oleh anak-anak kecil yang berlarian sambil memainkan bendera merah putih kecil mereka yang terbuat dari plastik. Indonesia raya dikumandangkan di setiap lapangan-lapangan sekolah sampai perkantoran. Lagu yang paling dihafal oleh seluruh rakyat Indonesia dinyanyikan dengan lantang menjurus ke teriakan.

Memberi hormat ke arah bendera yang ditiup dengan susah payah oleh angin panas dari teriknya kota yang telah bercampur dengan abu. Para kakek dan nenek di luar lapangan itu masih saja menengadahkan tangan ke atas sambil berharap anak-anak berseragam putih-putih sudi memberikan keping-kepingan atau mungkin lembaran rupiah mereka saat mereka pulang nanti.

Ia yang berulang tahun itu apakah tahu makna dari bertambahnya usia? Tahukah akan makna dari kedewasaan? Tahukah akan makna hidup dan kesejahteraan? Apakah akan jadi sama seperti anak kecil yang berulang tahun yang merengek dibelikan kado di hari ulang tahunnya? Tak ada kue cukup besar untuk merayakan ulang tahun ini, tak ada lilin yang cukup besar untuk kita tiupkan bersama-sama. Yang ada hanya matahari yang mungkin bisa padam dengan air mata jutaan nyawa.

Para muda-mudi sibuk menyatakan selamat bertambah usia dengan berbagai macam kreatifitas penyusunan kata lewat social media. Kecintaan akan negara mereka tunjukan dengan memasang bendera bangsa. Para artis sibuk mencari rangkaian kata saat diwawancara. Tak ketinggalan si bapak negara berpidato di depan bangsanya. Semua orang punya caranya masing-masing untuk memberikan ucapan dirgahayu untuk ibu pertiwi.

Ketahuilah 67 tahun bukanlah usia yang muda. Sampai detik ini kita masih berkembang, walau saya tak yakin apakah mereka para pemegang kekuasaan tahu kemana sebenarnya negara ini ingin dikembangkan. 

Sesuatu yang dibiarkan secara terus-menerus akan berakhir sebagai sebuah kebiasaan. Ketika kebiasaan itu sudah terbentuk dan berakar dalam maka hal itu akan sangat sulit untuk dirubah. Ketika sebuah keadaan dianggap baik-baik saja atau dianggap sudah biasa, maka tidak akan ada dorongan yang besar untuk merubah keadaan tersebut. Sekarang mari kita melihat ke sekeliling, muka-muka puas akan keadaan saat ini masih saja banyak terpajang di gedung-gedung pencakar langit yang enggan untuk merunduk.

Mereka yang keroncongan itu tak butuh pesta pora. Tak butuh diundang ke perayaan ulang tahunmu. Tak butuh pula diajak untuk memotong kue bersama. Mereka hanya ingin kau melihat mereka, hanya ingin salam dan tatapan anda benar-benar berasal dari kedukaan yang ada di jiwa. Mereka ada di antara kita, mereka bagian kita.

Para pemuda tak perlu berangan jauh untuk menjadi kapten kapal yang berniat mengatur jalannya bahtera nusantara. Jadilah dulu seorang kapten sehingga bisa tahu bagaimana caranya menjadi pemimpin kapal. Sukseskanlah dahulu dirimu, baru negaramu.

Yang berada di atas sana, mungkin segala sesuatu butuh proses, namun ketahuilah pula kelaparan seseorang juga bisa berproses menjadi kematian. Ketahuilah pula bahwa frustasi juga berasal dari proses. Kriminalitas adalah buah dari proses pula. Kemerdekaan juga sebuah proses, begitu pula dalam mempertahankannya. Waktu adalah pertaruhannya. Mau berapa banyak lagi waktu yang habis tanpa menjadi apa-apa.

Sekali lagi selamat ulang tahun saya ucapkan. Kepada kamu, kalian, keluarga anda, teman-teman sekalian, kepada anda semua baik yang menikmati sofa empuk maupun yang tak beralas, yang berpuasa maupun yang tidak, yang bermata bulat sampai yang sipit, yang berkulit putih, cokelat, maupun hitam, yang menonton TV di kamar atau yang menonton bersama di rumah Kepala Desa, yang berpikir ingin makan malam apa dan yang gundah apakah malam ini makan atau tidak, kepada mereka yang menepuk-nepuk tangan di lampu merah dan mereka yang bercanda dengan bertukar pesan lewat gadget masing-masing, dan tentunya kepada diri saya sendiri. Kita semua Indonesia.

Kita semua berulang tahun hari ini. 17 Agustus 2012 kita berusia 67 tahun. Silahkan pasang senyuman terindah di hari ulang tahun kita. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Rabu, 15 Agustus 2012

Nikmatnya Tantangan

Kesibukan baru, lingkungan baru, tanggungjawab baru dan hal-hal baru lainnya sedang menghampiri saya saat ini. Sudah satu bulan saya tidak menulis dan akhirnya saat ini saya kembali sempat untuk menulis di blog ini. Untuk kali ini saya ingin berbagi dan bercerita mengenai hal yang kita sebut sebagai tantangan. 

Bagi saya tantangan dan hal atau sesuatu yang baru adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Di setiap hal baru terdapat tantangan yang menyelimuti di luarnya, dan sebuah tantangan adalah hal baru yang menantang pribadi diri kita ketika itu tiba-tiba datang menghampiri tepat di depan muka kita. Apakah hal-hal baru selalu menantang? Tidak juga. Tapi sebuah hal baru yang menantang pastilah berujung pada sebuah dorongan untuk mempelajari atau berubah ke suatu hal yang baru.

Sebuah tantangan bisa merubah kita. Tapi perubahan itu bisa saja ke arah positif juga negatif. Positif dan negatifnya perubahan itu juga bisa berasal dari hal baru yang datang ke diri kita. Ketika hal itu buruk tentu akan merubah kita ke arah yang negatif, sebaliknya jika hal baru itu adalah sebuah hal yang dapat membangun diri ke arah yang baik maka kita akan kaya dengan hal yang positif. Semua itu juga bergantung pada daya saring diri kita yang menentukan penerimaan dan perubahan kita.

Misal saja seorang anak SMA ditawari untuk mencoba mengkonsumsi narkoba oleh sahabatnya yang memang sudah merupakan pemakai. Bisa saja dalam diri si pemuda SMA itu mengkonsumsi narkoba adalah sebuah tantangan baru atau hal baru yang sangat menantang untuk dicoba. Ketika tantangan seperti itu diterima dalam dirinya makan akan menuntunnya ke arah yang negatif yakni pemakai narkoba.

Sedangkan contoh tantangan yang positif adalah sebagai berikut. Ketika anda seorang mahasiswa ditawari sebuah tugas sebagai ketua kelompok besar atau pun diberi kesempatan untuk memimpin sebuah organisasi maka sebuah tantangan positif akan menghampiri anda. Memimpin orang-orang bisa saja merupakan hal baru bagi anda. Meskipun anda mungkin pernah menjadi pemimpin sebelumnya, menjadi pemimpin di tempat yang baru atau dengan orang-orang yang baru juga merupakan tantangan yang bisa anda ambil sebagai sebuah pengalaman yang baru. 

Namun mengambil sebuah tantangan yang positif bisa saja berbuah hal yang negatif pada diri anda ketika anda mengambil tantangan yang anda sebagai pribadi tidak sanggup untuk menerima tugas dan beban yang akan mengikat anda nantinya. Tak semua tantangan positif perlu anda ambil. Pilihlah mana yang anda rasa anda mampu untuk melakukannya dan mana yang anda rasa terlalu berat untuk anda.

Saya selalu menganggap sebuah tantangan yang menghampiri saya sebagai sebuah anugerah dalam hidup saya. Mengapa? Karena sebuah tantangan membuat saya berbuat suatu hal yang akan memacu diri saya untuk bertindak lebih dari biasanya. Mempelajari hal-hal baru juga hal yang sangat menyenangkan dan bagian dari tantangan. Tak jarang sebuah tantangan akan merubah kita dari diri kita yang sekarang ini.

Tantangan terbesar saya selama hidup saya adalah ketika saya memilih bekerja dibanding langsung melanjutkan pendidikan saya ke tingkat perguruan tinggi. Itu merupakan hal dan keputusan besar yang bahkan tidak terpikir sama sekali akan menghampiri saya. Sebuah keputusan yang ternyata berbuah sebuah perubahan besar dalam diri saya sebagai pribadi yang telah dewasa. 

Tahap awal ketika tantangan saya itu saya ambil adalah sangat berat. Hal baru yang saya lakukan itu terasa berat karena saya merasa sendiri melakukan hal seperti itu. Berbeda dengan semua teman-teman saya. Berbeda dengan kelompok saya baik kecil atau besar. Konflik batin terjadi dalam diri saya. Di satu sisi saya tidak ingin melakukan hal itu dan di sisi lain kedewasaan saya berusaha meyakinkan saya untuk berkata "Ya, ini yang terbaik untuk saya dan keluarga saya."

Salah satu hal yang menjadi tantangan kita sebagai generasi muda secara umum adalah menjadi berbeda dengan orang lain. Pilihan kita terkadang langsung didasari oleh pilihan orang lain, pilihan dari kelompok kita. Tak pernah terpikirkan untuk menjadi berbeda dengan orang lain. Pola pikir kita mengikuti apa yang dipikirkan  oleh orang kebanyakan tanpa melihat apa yang sebenarnya terbaik untuk diri kita masing-masing.

Tak jarang pula kita sering bermain aman untuk tidak mengambil tantangan-tantangan yang ada. Memilih untuk melakukan hal-hal biasa yang tidak berbeda dengan yang lain. Tidak perlu mengambil resiko atau beban-beban yang melelahkan. Hidup hanya mengikuti arus saja. Namun itu tidak salah karena mempelajari hal baru atau tidak merupakan pilihan dari setiap orang. 

Menurut saya tantangan adalah bumbu penikmat dari perjalanan hidup kita. Siapapun kita, tantangan akan hadir menghampiri kita, dan tantangan itu tak akan memberikan pengumuman sebelum menghampiri kita. Ia akan langsung menghampiri kita yang bahkan tak jarang mengagetkan kita. Soekarno juga pasti terkejut ketika para pemuda menculik ia dan petinggi lainnya ke Rengasdengklok. Tantangan untuk memerdekakan Indonesia dalam tempo singkat ia ambil dan akhirnya lahirlah negara kita ini.

Bersiaplah untuk hal-hal baru yang akan menghampiri anda dan pastikan diri anda memiliki penyaring yang kuat untuk menyaring hal-hal baru yang akan menghampiri anda dalam waktu dekat atau pun dalam beberapa waktu ke depan selama hidup anda. Namun ketahuilah, ketika sebuah tantangan itu berhasil anda lahap dan lakukan dengan sukses, anda akan merasakan kenikmatan. Namun seperti biasa, bagaimanapun juga ini hanya opini saya.