Perpektif
yang seringkali digunakan dalam melihat keberagaman adalah sudut pandang dari
diri sendiri atau golongan sendiri. Seorang Islam melihat masalah dari sudut
pandang ajaran agamanya, begitu juga dengan orang Kristen yang akan melihat
dari sudut pandangnya pula. Sehingga konsep agama menjadi kabur. Kabur disini
berdasar pada agama mana sebenarnya yang dimaksud? Ajaran agama Islam kah?
Agama Kristen kah? Budha kah? Atau nilai universal dari agama itu sendiri?
Konsep ini yang seringkali menjadi pemicu perbedaan persepsi. Ketika nilai
universal agama yang dikedepankan maka sepatutnya konflik horizontal yang
disebabkan agama tidaklah menjadi persoalan.
Dalam hal
ini mari kita lihat dari bagaimana kita memandang sebuah keberagaman dari sudut
pandang universal, tidak lagi dari sudut pandang salah satu agama saja. Penanaman
unsur agama tidaklah harus dilakukan dari pendekatan satu agama saja. Malahan
lebih baik digunakan dalam lingkup yang bisa diterima seluruh anggota kelompok.
Agama tak perlu dipungkiri merupakan salah satu landasan utama dalam bertindak
dan mengatur pola dalam masyarakat. Dan masing-masing agama memiliki cara
masing-masing yang juga berbeda mengingat agama juga merupakan produk
kebudayaan. Sehingga bisa dibilang jika kita menggunakan salah satu agama saja
di tengah kehidupan yang plural sebagai pedoman maka yang terjadi adalah
diskriminasi yang sering dikaburkan.
