Jumat, 15 Maret 2013

TOLERANSI MINIMALIS


Perpektif yang seringkali digunakan dalam melihat keberagaman adalah sudut pandang dari diri sendiri atau golongan sendiri. Seorang Islam melihat masalah dari sudut pandang ajaran agamanya, begitu juga dengan orang Kristen yang akan melihat dari sudut pandangnya pula. Sehingga konsep agama menjadi kabur. Kabur disini berdasar pada agama mana sebenarnya yang dimaksud? Ajaran agama Islam kah? Agama Kristen kah? Budha kah? Atau nilai universal dari agama itu sendiri? Konsep ini yang seringkali menjadi pemicu perbedaan persepsi. Ketika nilai universal agama yang dikedepankan maka sepatutnya konflik horizontal yang disebabkan agama tidaklah menjadi persoalan.

Dalam hal ini mari kita lihat dari bagaimana kita memandang sebuah keberagaman dari sudut pandang universal, tidak lagi dari sudut pandang salah satu agama saja. Penanaman unsur agama tidaklah harus dilakukan dari pendekatan satu agama saja. Malahan lebih baik digunakan dalam lingkup yang bisa diterima seluruh anggota kelompok. Agama tak perlu dipungkiri merupakan salah satu landasan utama dalam bertindak dan mengatur pola dalam masyarakat. Dan masing-masing agama memiliki cara masing-masing yang juga berbeda mengingat agama juga merupakan produk kebudayaan. Sehingga bisa dibilang jika kita menggunakan salah satu agama saja di tengah kehidupan yang plural sebagai pedoman maka yang terjadi adalah diskriminasi yang sering dikaburkan.

Kamis, 21 Februari 2013

JANGAN KAU TANYA


Sebuah Cerpen
M

asih terasa sentuhan itu. Yang lembut membawa sejuta kasih nan berirama. Masih tercium wewangian itu di kain lapuk ini. Yang pudar dibawa ke jalan-jalan yang ditapaki. Tangan ini masih bertanya mana yang ingin digenggamnya. Sebuah kelembutan yang menenangkan sukma, atau kasarnya kayu panjang yang terus bernoda kata mereka.

Bernoda? Tidak-tidak. Tidak serendah itu! Aku tidak terima mereka menertawakan sahabatku ini yang selalu dengan setia kuangkat tinggi-tinggi ketika jeritan dan tangisan memanggil langkahku kembali ke aspal ini. Jangan kau samakan tongkat ini seperti para menteri korup yang hanya bisa menjadi tongkat lapuk tanpa pantas diikatkan bendera Merah Putih di batang jiwanya. Ini bukan sekedar tongkat. Bukan kayu yang mudah lapuk seperti semangat mereka yang putus asa akan perubahan pada pemikiran kolot wakil rakyat. Di kayu ini sebuah panji kebanggaan selalu kuikatkan kencang-kencang. Bendera, lambang, panji, apa pun kau menyebutnya, selalu dengan riang mengepak-ngepakkan sayapnya di udara seraya aku dengan mantab menggunakan otot-otot tak terlatihku untuk mengangat tongkat sahabatku.

Sabtu, 16 Februari 2013

Timang-timang Partai dan Dapur Yang Rusak

Masih segar di ingatan saya saat kita ingin menyongsong tahun 2013 presiden SBY menjanjikan para menteri tetap profesional dalam pekerjaan masing-masing di sisa masa jabatan mereka sampai 2014. Begitu mantab diucapkan bahwa para menteri dan jajarannya dihimbau untuk tetap fokus dalam pekerjaan mengatur negara dan tidak terpengaruh dalam persiapan masing-masing partai meyongsong persiapan Pemilu tahun 2014. Namun tampaknya yang diharuskan untuk tetap fokus pada pekerjaan mengatur negara hanyalah menterinya saja. Presiden?

Minggu, 27 Januari 2013

SAMPAH DAN SOLUSINYA: DARI TEMPATNYA SAMPAI TUKANGNYA

Sudah seminggu lewat sejak bencana banjir tahun ini datang melanda Jakarta. Bencana kali ini sangat terasa karena intensitas banjir ini dibanding-bandingkan dengan banjir serupa pada tahun 2007 silam. Landmark Jakarta yakni bundaran Hotel Indonesia dibuat terendam tak berdaya oleh air banjir yang dengan leluasa mematikan akses-akses jalan ibukota. Sekali lagi rakyat diajak untuk berhenti sejenak melihat rumah-rumah terendam, anak-anak berenang riang di air cokelat, BNPB sibuk mengkoordinir bantuan maupun evakuasi, LSM dan partai ramai turun ke jalan, dan reporter-reporter menyelam ke banjir untuk mendapat gambar terbaik di tengah air yang merendam daerah-daerah ibu kota.

Banyak golongan yang tidak terlalu menyalahkan pemerintah untuk banjir. Tentu saja Jokowi masih aman karena ia baru saja menjadi gubernur. Ironisnya di saat ia langsung ngebut untuk menjadikan kebijakan-kebijakan dalam menanggulangi banjir secara cepat seperti yang selalu ia katakan, yang penting cepat,  banjir menyapa Jakarta lebih dahulu dan Jokowi harus pasrah mendapatkan 'bencana' pertamanya. Banjir kanal Timur dan Barat yang digadang-gadang pemerintahan sebelumnya bisa membebaskan Jakarta dari banjir ternyata tidak terbukti. Ada juga masyarakat yang menyadari bahwa banjir adalah masalah dan tanggungjawab semua elemen masyarakat sebagai anggota dari kota Jakarta. Tidak adanya perhatian masyarakat terhadap keadaan sungai maupun daerah resapan yang semakin minim di tengah kota Jakarta tak bisa dilepaskan dari faktor penunjang banjir yang parah terjadi di Jakarta. Baik masyarakat biasa sampai pengusaha sama-sama tidak peduli dan hanya sama-sama 'pasrah' saat banjir datang.

Sabtu, 05 Januari 2013

MENGGUSUR BUKAN SOLUSI


Tuli adalah sebutan untuk mereka yang tak bisa mendengar. Kejam adalah sebutan untuk mereka yang membiarkan atau bahkan membuat sesamanya sangat menderita. Dan marah adalah ketika seseorang mendapati dirinya diperlakukan tidak adil atau di luar batas toleransinya. Itulah yang ada dalam setiap penggusuran yang dilakukan di tengah masyarakat kita, tak terkecuali yang dilakukan PT. KAI di peron-peron stasiun kereta api di Jabodetabek.

Saat ini sudah ada beberapa stasiun yang bersih dari kios-kios karena adanya penggusuran. Penggusuran yang dilakukan untuk pelebaran peron kereta api. Dan di tengah penggusuran tersebut ada pihak ketiga yang berdiri tegak untuk membela para pedagang. Pemerintah? Tentu bukan. Aparat keamanan? Senjata mereka bukan untuk membela para pedagang. Mahasiswa? Ya, hanya anak-anak muda yang masih mengerti esensi moral yang harus ditegakkan dan mau membela mereka yang patut untuk dibela.

Kamis, 03 Januari 2013

MORAL YANG DIRINDUKAN

Rentetan ledakan di langit tinggi telah disemarakkan. Riuh teriakan wajah-wajah tua-muda memekakkan telinga. Begitu juga harapan seorang warga negara digantungkan di atas kegelapan hujan. Tahun yang baru telah bersama-sama kita masuki. 2012 telah kita lewati bersamaan dengan tenggelamnya kiamat yang hanya menjadi kontroversi. Namun tidak dengan perjuangan negara ini untuk menuju kemajuan. Awal tahun kembali menjadi saat kita kembali membangun opimisme bersama.

2013 dikatakan akan menjadi tahun yang penuh dengan aktivitas perpolitikan. Partai politik dan para politikus akan ramai-ramai berlomba memikat warga masyarakat yang bahkan tak tahu kepentingan lain selain mencari uang untuk membeli seonggok beras. Persiapan akan banyak dilakukan oleh para penggiat politik untuk menyambut pesta demokrasi akbar, Pemilu 2014. Sosok pemimpin baru akan coba diperkenalkan dengan lebih intensif dan di sisi lain akan juga dimimpikan oleh sejuta umat di negeri ini.

Kamis, 20 Desember 2012

DI BAWAH KOLONG KAMPUNG MELAYU YANG GELAP


Lihatlah dengan seksama foto di atas. Apa yang anda lihat dari foto itu? Sampah? Banyak tentunya. Botol-botol plastik? Bertumpuk-tumpuk! Lampu? Jelas bisa terlihat dari foto itu. Manusia? Ya, disana juga ada manusia. Dan disana pun ada kehidupan. Ya, ada manusia-manusia yang menjalankan kehidupannya.

Kemudian anda bertanya, pilar besar apakah itu yang berdiri kokoh menopang atap berupa beton yang besar itu? Apakah perempuan dan anak kecil itu sedang berada di sebuah reruntuhan gedung yang tak terpakai lagi? Ataukah di gedung parkir yang terbengkalai? Keduanya tak ada yang mendekati benar. Selamat datang di  Komunitas Kolong Kampung Melayu.

Apa yang anda ketahui tentang kemiskinan? Apakah anda merasa salah satu yang termasuk di dalam pengertiannya? Apakah menurut anda gambar di atas adalah sebuah contoh dari kemiskinan?