Selasa, 07 Mei 2013

MENYONTEK BUKAN KEWAJARAN


Permasalahan Ujian Nasional (UN) seperti sebuah dongeng yang akan terus diceritakan di setiap tahunnya. Pergantian kepemimpinan di atas tak kunjung memberikan solusi maupun perubahan terhadap permasalahan UN. Orang-orang bertanya apakah UN itu masih diperlukan untuk menguji kompetensi anak-anak Indonesia atau persamaan standar kompetensi dari seluruh pelajar di Indonesia ataukah memang sudah saatnya UN di Indonesia ditiadakan. Namun sebelum kita sampai pada menjawab pertanyaan itu saya ingin mengajak Anda untuk mengintip sedikit budaya menyontek yang ternyata paralel terhadap boroknya pelaksanaan UN di Indonesia.

             Menyontek adalah salah satu perbuatan mencuri yang dilakukan oleh manusia. Namun yang dicuri bukanlah barang riil melainkan sebuah pemikiran yang dalam konteks pendidikan telah dituangkan ke dalam jawaban-jawaban. Menyontek adalah jalan tol untuk mendapatkan nilai yang baik atau mungkin setidaknya bisa lolos dari standar nilai yang diperlukan untuk lulus. Dari sisi ini bisa dikatakan bahwa orang yang menyontek cenderung mengedepankan hasil yang dicapainya nanti dibanding proses dirinya belajar dan mencari ilmu dari materi pelajaran yang dihadapinya.

Minggu, 21 April 2013

SEPULUH METER


Sebuah Cerpen

T
ak ada kata yang terucap. Nafas tak berhenti terengap-engap. Mata terus menjurus searah. Jemari mulai bergetar sesekali. Otot leher menjadi kaku karenanya. Hanya 10 meter jaraknya. Sebuah teriakan kecil tampaknya cukup untuk memalingkan dirinya. Aku duduk disini, di sofa tak jauh darinya.

                Pundaknya lebar. Begitu jelas bagian punggung terpampang di depan mataku. Putih, halus. Bisa dibilang terawat, mungkin juga tidak. Mungkin saja itu adalah karunia alam yang entah kenapa memilihnya memiliki punggung seindah dirinya. Hanya bagian belakangnya saja. Entah kenapa seperti sudah lama kukenali keindahannya. Seperti sudah dekat kehalusannya. Jemari ini mulai bertanya satu sama lain, siapakah dia?

Senin, 08 April 2013

SENIORITAS MENYENANGKAN ?


Mana yang lebih menyenangkan, menjadi seorang junior atau seorang senior? Ketika anda dalam posisi junior mungkin mimpi terdekat yang ingin anda capai adalah menjadi seorang senior agar bisa merasakan memperlakukan junior seperti yang anda rasakan saat menjadi junior. Namun tak jarang seorang senior akan berkata bahwa masa menjadi seorang junior adalah masa yang menyenangkan yang tak jarang ingin sekali untuk diulang. Senioritas itu tidak hanya terjadi dalam lingkup sekolah atau kuliah, namun juga dalam lingkungan pekerjaan seperti di kantor dan berbagai tempat kita bersosialisasi lainnya.

Minggu, 24 Maret 2013

PULANGKAN DIA


Tetesan air mulai mengalir. Jatuh halus membasahi sedikit demi sedikit celana yang sudah lusuh. Berulang-ulang kali tangan kanannya digunakan sebagai pengganti sapu tangan untuk menyeka pipinya. Lendir yang sudah mengental berulang kali disedotnya kembali. Jarum panjang dan pendek pada jam masih saling berlarian menuju angka 8. Televisi tua dipaksa untuk melek di pagi itu. Pagi yang terasa sepi namun begitu riuh di dalam hati.

Wanita Tua dengan hati-hati mengambil remote TV tuanya dan menaikkan volume suara TV tersebut. Disampingnya Anak Bocah dengan kaos yang sudah tak berlengan , yang tampak entah kapan dengan sengaja merobek lengan bajunya itu, duduk termangu menemai Wanita Tua itu. Tombol volume berulang kali ditekan. TV tua itu dipaksa untuk berteriak lebih keras.

Jumat, 15 Maret 2013

TOLERANSI MINIMALIS


Perpektif yang seringkali digunakan dalam melihat keberagaman adalah sudut pandang dari diri sendiri atau golongan sendiri. Seorang Islam melihat masalah dari sudut pandang ajaran agamanya, begitu juga dengan orang Kristen yang akan melihat dari sudut pandangnya pula. Sehingga konsep agama menjadi kabur. Kabur disini berdasar pada agama mana sebenarnya yang dimaksud? Ajaran agama Islam kah? Agama Kristen kah? Budha kah? Atau nilai universal dari agama itu sendiri? Konsep ini yang seringkali menjadi pemicu perbedaan persepsi. Ketika nilai universal agama yang dikedepankan maka sepatutnya konflik horizontal yang disebabkan agama tidaklah menjadi persoalan.

Dalam hal ini mari kita lihat dari bagaimana kita memandang sebuah keberagaman dari sudut pandang universal, tidak lagi dari sudut pandang salah satu agama saja. Penanaman unsur agama tidaklah harus dilakukan dari pendekatan satu agama saja. Malahan lebih baik digunakan dalam lingkup yang bisa diterima seluruh anggota kelompok. Agama tak perlu dipungkiri merupakan salah satu landasan utama dalam bertindak dan mengatur pola dalam masyarakat. Dan masing-masing agama memiliki cara masing-masing yang juga berbeda mengingat agama juga merupakan produk kebudayaan. Sehingga bisa dibilang jika kita menggunakan salah satu agama saja di tengah kehidupan yang plural sebagai pedoman maka yang terjadi adalah diskriminasi yang sering dikaburkan.

Kamis, 21 Februari 2013

JANGAN KAU TANYA


Sebuah Cerpen
M

asih terasa sentuhan itu. Yang lembut membawa sejuta kasih nan berirama. Masih tercium wewangian itu di kain lapuk ini. Yang pudar dibawa ke jalan-jalan yang ditapaki. Tangan ini masih bertanya mana yang ingin digenggamnya. Sebuah kelembutan yang menenangkan sukma, atau kasarnya kayu panjang yang terus bernoda kata mereka.

Bernoda? Tidak-tidak. Tidak serendah itu! Aku tidak terima mereka menertawakan sahabatku ini yang selalu dengan setia kuangkat tinggi-tinggi ketika jeritan dan tangisan memanggil langkahku kembali ke aspal ini. Jangan kau samakan tongkat ini seperti para menteri korup yang hanya bisa menjadi tongkat lapuk tanpa pantas diikatkan bendera Merah Putih di batang jiwanya. Ini bukan sekedar tongkat. Bukan kayu yang mudah lapuk seperti semangat mereka yang putus asa akan perubahan pada pemikiran kolot wakil rakyat. Di kayu ini sebuah panji kebanggaan selalu kuikatkan kencang-kencang. Bendera, lambang, panji, apa pun kau menyebutnya, selalu dengan riang mengepak-ngepakkan sayapnya di udara seraya aku dengan mantab menggunakan otot-otot tak terlatihku untuk mengangat tongkat sahabatku.

Sabtu, 16 Februari 2013

Timang-timang Partai dan Dapur Yang Rusak

Masih segar di ingatan saya saat kita ingin menyongsong tahun 2013 presiden SBY menjanjikan para menteri tetap profesional dalam pekerjaan masing-masing di sisa masa jabatan mereka sampai 2014. Begitu mantab diucapkan bahwa para menteri dan jajarannya dihimbau untuk tetap fokus dalam pekerjaan mengatur negara dan tidak terpengaruh dalam persiapan masing-masing partai meyongsong persiapan Pemilu tahun 2014. Namun tampaknya yang diharuskan untuk tetap fokus pada pekerjaan mengatur negara hanyalah menterinya saja. Presiden?