Selasa, 18 Oktober 2011

Beli Dimana Rasa Percaya ?

Ingatkah anda saat anda masih kecil dulu,ketika anda dimarahi ibu atau ayah anda ketika anda berbohong? Atau saat anda dimarahi orangtua  anda ketika anda pulang lebih malam dibanding waktu yang diberikan oleh mereka? Ya itu mungkin adalah saat-saat dimana kedua orangtua kita mengajari kita tentang apa itu arti kepercayaan.

Kepercayaan adalah salah satu hal yang sangat mahal harganya di dunia anda. Kepercayaan sangat dicari oleh orang-orang di luar sana karena kepentingannya yang tinggi. Namun untuk meraih kepercayaan sangatlah sulit. Dari siapapun itu kita mencari kepercayaan itu datang. Entah itu orangtua, guru, atasan, masyarakat, pacar, dan lain-lain. Yang sangat riskan adalah, kepercayaan begitu sulit untuk didapatkan dan begitu mudah untuk dibuang. 

Seorang pegawai yang baik akan berusaha sebaik mungkin dalam bekerja dan meminimalisir kesalahan agar bisa mendapatkan kepercayaan lebih dari atasannya. Dengan kepercayaan yang didapat ia berharap bisa mendapatkan timbal balik nantinya. Seorang pacar akan berusaha berlaku baik di depan orangtua pasangannya agar bisa mendapat pandangan baik serta kepercayaan untuk menjadi pacar anaknya. Itu sulit bukan? Juga Seorang pemimpin seperti presiden akan memakai berbagai macam cara untuk bisa menarik hati rakyatnya kemudian bisa memperoleh kepercayaan kemudian. 

Namun dalam kenyataannya seberat apapun anda memperoleh kepercayaan, tapi jika kepercayaan itu anda kecewakan, maka orang yang tadinya memberikan kepercayaan itu akan tidak lagi respek dengan anda. Meskipun anda hanya sekali saja mengecewakannya, itu sudah bisa mengakibatkan hilangnya kepercayaan. Ya timpang sebelah. Tetapi itulah yang ada dalam hubungan kita. Contohnya seorang pacar yang selingkuh meskipun hanya sekali maka kemungkinan besar akan sulit lagi bisa mendapat kepercayaan dari pacarnya. Meskipun sudah biasa lagi, tapi pasti akan ada kesiagaan dan was-was dikarenakan rasa percaya yang telah hilang kepada pacarnya. Dalam lingkup pekerjaan lebih berat lagi. Tidak menerima kesalahan-kesalahan banyak secara tidak langsung terlihat dalam dunia pekerjaan. Juga dalam panggung politik ataupun orang-orang selebriti masyarakat. Sekali mereka melakukan kesalahan, mereka bisa dengan cepat akan ditinggalkan.

Karena itu kesalahan kecil yang kita buat bisa saja harus kita bayar dengan mahal. Itulah kepercayaan, sulit untuk dipertahankan. Banyak cara yang dilakukan orang untuk bisa mendapatkan ataupun mempertahankan rasa percaya itu. Kita semua mau tidak mau membutuhkan kepercayaan dari orang lain. Karena ini berhubungan dengan pandangan orang serta penilaian orang kepada kita. Karena itulah jaga kepercayaan yang telah diberikan orang pada anda. Sudahkah anda dipercaya oleh orang terdekat anda? Yah bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Senin, 10 Oktober 2011

Nenek di Jembatan Karet

Saya mendapatkan pengalaman menarik hari Sabtu kemarin. Seperti anak muda lainnya kebanyakan, malam minggu saya akan saya habiskan dengan jalan-jalan bersantai. Saya telah berjanji bertemu dengan teman wanita saya siang hari sekitar pukul dua siang. Yah dan seperti kebanyakan lelaki, saya pun juga menjemput teman wanita saya itu di kampusnya. Saya adalah salah satu warga yang lebih memilih untuk tidak menambah jumlah kendaraan di jalan raya, sehingga saya memilih naik angkot. Tapi ini bukan karena saya pelit loh. Tapi kalau mau dibilang kere juga tidak apa-apa juga sih.

Saya naik angkot mikrolet jurusan roxy-karet. Kampus teman wanita saya adalah di daerah karet. Tapi sepertinya anda juga tidak peduli mau dimana kampus teman wanita saya. Saya pun naik angkot nomor 03 tersebut, saat saya naik angkot tersebut masih kosong. Jalan sebentar, angkot berhenti di daerah Jembatan Gantung untuk menaikan penumpang yang menyetop. Naiklah kemudian dua ibu-ibu atau lebih tepat dipanggil dengan sebutan nenek-nenek ke dalam angkot yang saya naiki tersebut.

Sesaat sebelum naik, salah satu nenek tadi bertanya kepada supir angkot terlebih dahulu, "Karet ya Pak?". "Ya bu Karet," jawab si supir. Kedua nenek tersebut tampak lusuh dengan kerudung serta sarung yang mereka kenakan. Hanya sebuah kantong plastik lecek yang saya tak tahu isinya apa yang menjadi perbekalan mereka. Yang saya pikirkan hanya merasa kasihan kepada kedua nenek tersebut. Bagaimanapun juga kita pasti akan merasa simpati walaupun sedikit jika melihat nenek-nenek lusuh seperti itu, walau kadang kita berusaha menutup-nutupinya atau berusaha memalingkan pandangan. 

Saya turun lebih dahulu dari angkot dibanding kedua nenek itu. Saya pun menjemput teman wanita saya dari kampusnya. Dia tampak senang saat saya jemput, terlihat di wajahnya, walau mungkin tetap berangan-angan akan dijemput dengan mobil suatu saat. Maaf malah curhat. Saya dan teman wanita saya pun naik angkot 03 lagi menuju karet karena akan lanjut naik busway untuk pergi ke tempat berikutnya. Kemana saya pergi? Maaf itu rahasia penulis.

Kami pun sampai dan mulai menaiki jembatan busway. Saat kami sampai di tikungan jembatan, tampak seorang nenek-nenek sedang duduk. Ia pastilah sedang melakukan 'minta-minta'. Namun yang membuat saya sedikit terkejut adalah nenek yang duduk itu adalah nenek yang tadi naik angkot dengan saya tadi. Saya heran melihat nenek itu meminta-minta di jembatan itu, karena saya mengira ia ingin pergi ke suatu tempat di karet. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa ia ingin ke karet karena ingin meminta-minta. 

Saya langsung berpikir bahwa kegiatan maminta-minta yang dilakukan nenek tadi juga yang dilakukan pengemis lainnya adalah suatu profesi. Ya, mengemis sudah menjadi suatu profesi atau pekerjaan yang dilakukan oleh beberapa orang tidak mampu. Dari saya kecil saya sering mengira bahwa para pengemis yang duduk di jembatan, pinggir jalan, ataupun lampu merah adalah orang-orang miskin yang terus berjalan secara acak tanpa ada tujuan. Dimana kaki mereka membawa mereka, disitulah mereka akan menjadi pengemis. Mereka akan terus berjalan ke tempat yang baru. Ternyata anggapan saya selama ini keliru.

Nenek tadi pergi ke daerah karet dengan unsur kesengajaan. Ia memang berniat untuk mengemis di jembatan karet. Bukan tanpa sengaja ia berada di karet untuk mengemis. Mengemis adalah pekerjaan nenek tersebut, dan jembatan karet itulah tempat ia bekerja. Saya tidak tahu apakah setiap hari ia memang mengemis disana atau tidak. Atau mungkin ada yang bertugas sebagai penggerak nenek tersebut untuk mengemis di sana. Mungkin saja banyak pengemis di luar sana yang memang sama seperti nenek tadi. Atau bahkan semua pengemis.

Jumlah pengemis di ibukota ini sangatlah banyak. Mereka yang telah terbiasa sehari-hari mencari logam-logam rupiah dan secara tidak langsung menjadikan itu sebagai profesi mereka. Apa yang akan dilakukan pemda jika banyak pengangguran di luar sana dengan tingkat kemiskinan yang sangat rendah melakukan tindakan seperti nenek tadi? Sampai saat ini tak ada tindakan yang terlihat. Tak ada upaya untuk menggulangi atau menampung orang-orang miskin seperti nenek tadi. Menurut pendapat saya, orang-orang seperti nenek tadi lebih baik di tampung ke dalam suatu panti dibanding harus mengemis di jembatan seperti itu. Dengan ditampung mereka akan lebih terjamin kehidupannya terutama hal yang pokok seperti makanan tempat tinggal atau pakaian. Pengemis seperti itu haruslah dikurangi. Banyaknya profesi pengemis juga menjadi cermin tingkat perbedaan kelas sosial yang begitu tinggi di ibukota ini. Tidakkah anda miris jika melihat Gedung megah di samping-samping jembatan karet namun berpapasan dengan seorang nenek yang mengemis? Seperti inikah pembangunan yang kita inginkan? Tapi bagaimanapun juga ini hanya opini saya. 

Kamis, 06 Oktober 2011

Puasnya Jadi Senior

Saat di bangku sekolah banyak dari kita yang menantikan menjadi murid kelas atas. Waktu SD kita ingin menjadi anak kelas 6. Di SMP kita ingin cepat-cepat menjadi kelas 9. Dan waktu masuk SMA kita begitu ingin dan menunggu-nunggu untuk naik menjadi siswa kelas 12. Apa yang menjadi alasan? Bukankah kelas-kelas atas itu malah memiliki tanggungjawab yang lebih besar dibanding kelas di bawah? Apa yang menjadi faktor menyenangkan menjadi seseorang yang ada di kelas yang lebih tinggi? Jawabannya adalah kepuasan menjadi seorang senior.

Saat baru masuk atau masih kelas bawah kita seperti orang baru dalam rimba yang baru. Kita memasuki area yang tidak kita kenal dengan baik. Dan yang telah lebih lama dibanding kita tentunya lebih mengenal, merekalah senior. Seorang senior tentu tahu lebih banyak dibanding juniornya. Dan rasa lebih tahu itulah yang biasanya menjadi kepuasan tersendiri bagi kita. Bukankah begitu? Saat sudah menjadi senior kita tidak lagi menjadi pihak yang bertanya, melainkan pihak yang ditanya. Terkadang para junior akan memanggil kita dengan sebutan 'Kak'. Panggilan seperti itu sebagai penanda adanya kelas yang tak terlihat.

Kalau dalam lingkungan sekolah begitu terlihat dominasi dari seorang senior. Apalagi ditambah dengan negara kita yang memiliki acara MOS atau ospek yang dilakukan sampai tingkat universitas. Acara yang kadang disebut perkenalan itu menjadi suatu momok pola pikir untuk pemisah antara junior dan senior. Yang senior yang dihormati. Seorang kakak kelas akan mengajari adik-adik kelasnya tata cara atau pun lingkungan sekolah. Pengetahuan yang lebih banyak di lingkungan tersebut menjadi alat untuk bertindak sebagai senior. Dan tak jarang dijadikan untuk mengintimidasi juniornya.

Senior-junior berlangsung sampai jenjang kerja. Karyawan yang telah lama akan dipanggil senior dan yang baru akan disebut anak baru atau pun junior. Di lingkungan kerja memang tak ada kelas-kelas seperti di sekolah yang menjadi penunjuk perbedaan tingkatan. Dalam lingkungan kerja, meskipun berada dalam level yang sama, intimidasi senior tetap saja ada. Kadang kala seorang senior tak segan-segan memarahi juniornya kalau ada kekeliruan meskipun ia tak lebih tinggi pangkatnya dibanding juniornya. Namun rasa lebih lama bekerja menjadi pegangan senior. Perilaku memarahi itu sebenarnya boleh-boleh saja, tapi apakah harus sampai demikian kalau dengan orang baru? Para junior tentu akan melakukan kesalahan-kesalahan awal dalam bekerja karena mereka belum begitu mengerti bagaimana cara atau pun prosedurnya. Namun para senior kadang kala tetap saja memarahi mereka, mungkin juga menjadi kepuasan tersendiri untuk memarahi junior seperti itu. Maka itu banyak orang mungkin bilang 'Kalo kerja dimarahi itu mah biasa'. 

Itulah perilaku masyarakat kita di Indonesia. Posisi senior dan junior begitu terlihat dan diakui. Anak baru dan anak lama, tren ini akan berlangsung terus. Menurut saya seorang senior bukanlah bertugas untuk memarahi juniornya kalau ada kesalahan. Melainkan membimbing anak baru tersebut agar dengan cepat mengetahui tata cara atau pun sistem di tempat barunya. Kalau yang memarahi manager atau pangkat yang lebih tinggi itu lumrah-lumrah saja bukan? Menjadi seorang senior merupakan tanggungjawab untuk membimbing adik-adiknya. Kurangilah intimidasi kepada anak baru, ini untuk memberi kenyamanan pada mereka untuk melakukan aktivitasnya. Bimbinglah mereka dengan cara yang lebih halus. Itupun kalau anda mau, karena bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Selasa, 04 Oktober 2011

Tak Semua Ingin Kaya

Anda ingin kaya? Anda ingin punya banyak uang? Saya rasa anda akan mengatakan ingin. Tapi apakah semua orang akan berkata yang sama? Bisa jadi, namun hanya dalam ucapan saja. Tidak semua orang ingin menjadi kaya dalam hidupnya. Kaya dengan kesuksesan dibarengi kemakmuran dalam hidup tidak selalu menjadi target hidup seseorang dalam masyarakat kita ini. Apa betul seperti itu?

Seseorang yang memiliki keinginan untuk menjadi kaya atau pun makmur akan terus berusaha apapun caranya untuk mendapatkan uang berlimpah untuk hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan cepat puas dengan apa yang telah mereka dapat. Walau kadang bagi orang lain pendapatan yang diterima sudah sangat cukup, namun orang-orang ini akan terus dan terus mencari uang lebih dari yang sudah mereka dapat. Orang semacam ini memiliki sifat kerja keras yang baik. Tidak perlu melihat hasil yang didapat, tetapi bisa dilihat dari usaha mereka. Jika saat ini yang didapat belum seberapa, niscaya orang-orang semacam ini akan menjadi lebih makmur hidupnya di kemudian hari. Apakah rasa tidak cepat puas itu buruk? Menurut saya banyak sisi positif yang bisa kita ambil dari sifat semacam ini. Salah satunya dengan sifat ini kita akan terdorong dengan sendirinya terus mencari uang untuk menaikkan taraf hidup. Anda bisa banyangkan jika semua masyarakat kita memiliki sifat semacam ini. Taraf hidup negara kita mungkin akan naik karena kerja keras masyarakat yang tidak cepat puas dalam mencari uang. Tetapi jika tidak dikontrol dengan baik juga bisa terjerumus ke tindakan menyimpang dengan memakai cara-cara kotor untuk meraih uang sebanyak-banyaknya. 

Ada orang yang tidak mementingkan kekayaan. Namun orang seperti ini kalau ditanya ingin kaya pasti juga akan mengucapkan ingin. Tapi tidak dalam perbuatannya. Orang semacam ini akan cepat puas dengan pekerjaan yang telah ia dapatkan. Meskipun hanya satu dan hanya pekerjaan yang ringan dengan gaji kecil, mereka akan tetap puas. Selama mereka mendapat uang dan cukup untuk mereka sehari-hari maka mereka tidak akan berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya. Dari antara mereka memang ada yang memiliki rasa malas, namun juga ada yang memang tidak mengejar harta melimpah. Untuk alasan yang kedua ini tergantung pada orangnya. Kalau untuk alasan yang pertama mungkin lebih banyak di dalam masyarakat. Rasa malas untuk bekerja menjadi penyebabnya. "Gue mah seneng kalo gajiannya doang, kerjanya mah kagak dah" mungkin kata-kata itu akan sering anda dengar dari orang semacam itu. Semua pekerjaan dikatakan tidak enak, bagi saya itu hanya persepsi kita saja. Semua pekerjaan tentu akan enak jika dilakukan dengan enjoy dan tanpa beban, apapun itu. Kalau hanya ingin digaji tak usahlah bekerja. 

Ada juga tipe orang yang memang pasrah pada hidupnya. Orang semacam ini biasanya berpandangan bahwa apa yang dialaminya atau pun kondisi hidupnya adalah takdir. Yang semacam inilah yang paling berbahaya karena mereka tidak ada dorongan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kalau menganggur yasudah menganggur. Mungkin kalau ditanya mereka akan menjawab tidak ada kesempatan. Tapi ketahuilah diluar sana begitu banyak kesempatan kerja menanti anda. Begitu banyak peluang untuk anda bisa mencari uang. Tinggal ketekunan anda serta keniatan anda untuk mencarinya. Dari gaji yang rendah sampai tinggi menunggu anda. Jadi hidup bukanlah masalah takdir atau nasib. Kitalah yang membuat jalan hidup kita.

Untuk jaman yang semakin maju ini, kebutuhan hidup akan semakin banyak. Teknologi semakin canggih yang berdampak pada konsumerisme yang ikut-ikutan naik. Kita yang hidup dalam masyarakat dengan tingkat konsumerisme yang sangat tinggi mau tak mau akan ikut oleh arus, Yang harus kita lakukan adalah jangan menjadi orang yang minimalis dalam mencari uang. Jadilah orang yang terus berusaha meraih kesuksesan. Teruslah bekerja keras jika memang anda ingin taraf hidup anda naik dan terus naik yang dibarengi dengan kehidupan yang semakin maju pula. Bagaimana dengan pendapat anda? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Senin, 03 Oktober 2011

Mari Berbicara Tentang Bicara

Berani berbicara merupakan hal penting dalam keseharian kita juga untuk dunia kerja. Pendidikan untuk berani berbicara haruslah ditanamkan pada diri anak-anak sejak dini. Karena dengan berani berbicara kita bisa menyampaikan pendapat maupun pertanyaan. Tapi tak semua orang berani berbicara.

Ada tipe seseorang yang tidak berani berbicara pada orang lain terlebih lagi atasan. Jika berbicara dengan atasan ia akan lebih memilih untuk mengiyakan saja dan setuju-setuju saja. Ia baru menyesalinya jika pembicaraan sudah selesai karena ia takut untuk berbicara. Ini berbahaya karena akan mengundang resiko pada orang itu.

Adalah tipe orang yang berani berbicara yang akan lebih mudah berinteraksi dengan orang lain termasuk atasannya. Orang tipe ini juga tak jarang akan dijadikan tameng oleh orang tipe pertama jika akan menyampaikan sesuatu. Dan tak jarang orang tipe pertama akan menyalahkan tipe kedua jika ada ketidakpuasan pada diri tipe pertama, padahal itu karena ia tak berani berbicara.

Orang tipe pertama cenderung hanya berani berbicara pada zona aman saja ataupun orang dekat saja. Tak sedikit juga orang yang seimbang antara kedua tipe itu. Biasanya yang seimbang ini hanya akan berbicara untuk hal yang aman-aman saja.

Pemuda kita harus lebih berani berbicara. Namun terlalu banyak bicara juga tidak baik, omong doang juga berbahaya. Dengan berani berbicara anda memiliki nilai plus tersendiri. Keluarlah dari zona aman dan beranilah untuk mengungkapkan sesuatu. Tapi tak perlu percaya, bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Jumat, 30 September 2011

Ingatkan Kami Rasa Aman Itu

Dalam olahraga sepakbola, terdapat beberapa posisi yang bisa diambil oleh seorang pemain di lapangan. Salah satu posisinya adalah kiper. Apa tugas seorang kiper? Tentu tugas mereka adalah menjaga atau pun mengamankan gawang mereka dari tendangan-tendangan tim lawan agar tidak kemasukan gol. Di dunia ini banyak sekali lahir kiper-kiper dengan skill yang luar biasa. Mereka memiliki respon, lompatan, atau pun genggaman yang erat. Namun apa yang membedakan penilaian kiper-kiper itu satu dengan yang lainnya? Bukan seberapa banyak mereka menyelamatkan gawang, namun terlebih seberapa banyak mereka melakukan blunder atau pun kesalahan di depan gawang yang menyebabkan gawang mereka kebobolan.

Sekarang mari kita kaitkan dengan kehidupan kita. Anggaplah negara kita ini sebagai sebuah tim sepakbola. Serta kiper kita anggap sebagai polri atau polisi kita. Tugas polri tentu saja menjaga stabilitas maupun keamanan dalam negeri. Sudah sepantasnya dan sewajarnya mereka mengamankan kita semua maupun memberi kita semua rasa aman. Namun mengapa gawang kita sering bobol oleh lawan? Bagaimana kita bisa stabil kalau kinerja kiper kita tidak bisa begitu diharapkan? Kita semua masyarakat memerlukan rasa aman. Mendapatkan rasa aman adalah hak kita sebagai warga negara. Dan darimana lagi kita bisa dapat perlindungan selain dari negara dengan polri yang menjalankan tugas kepolisian.

Kasus-kasus kriminal di negara kita memang cukup tinggi. Kehidupan di jalan-jalan bahkan sangat jauh dari kata aman. Padahal jumlah masyarakat yang hiruk-pikuk di jalan sangat besar. Penodongan, penjambretan, dan pencopetan merupakan kejahatan-kejahatan yang paling pasaran namun begitu banyak. Masyarakat pun sudah berpikir bahwa hal-hal seperti itu adalah hal biasa dan lumrah untuk kehidupan di jalanan. Pola pikir seperti ini merupakan adaptasi dari tingkat keamanan yang sangat rendah serta telah terlupakannya polisi sebagai pengaman masyarakat. Tak ada perlawanan berarti untuk kejahatan para preman seperti itu. Semua terus berjalan seperti memang sudah wajar. Tak ada yang berniat merubah. "Yah angkot kan memang gak aman, makanya ati-ati, jangan mancing-mancing untuk dicopet makanya" dan lain sebagainya merupakan bahasa-bahasa yang muncul di banyak kalangan kita. Kalau ada yang terkena, berarti sedang sial, selesai sampai disitu. Terlihat bahwa kejahatan semacam ini sangat sulit diberantas. Apalagi dengan berkurangnya kediktatoran di negara ini.

Untuk kasus bom baru-baru ini banyak yang mengatakan sebagai kebobolan dari negara kita. Anda mungkin masih ingat saat-saat dimana penggerebekan dan penangkapan teroris sedang marak-maraknya. Polri dilambungkan namanya karena keberhasilan menangkap teroris. Namun apa yang terjadi sekarang? Sang presiden pun dalam pidatonya seperti menampar sendiri muka polri dengan mengatakan bahwa terorisme masih ada. Lalu apa yang dilakukan polri selama ini? Tenang-tenang saja karena sudah menangkap tokoh teroris ternama?

Masih banyak lagi kejahatan-kejahatan yang mencuri gol dari gawang keamanan tanah air kita. Pemerkosaan dan pelecehan terhadap wanita juga salah satu diantaranya. Untuk kasus korupsi, tidak perlu ditanya. Mereka yang tertangkap malah seperti tinggal di apartemen mewah di dalam tahanan. Bebas keluar masuk seenaknya. Yah mungkin uang mereka tak bisa dilawan oleh polisi. Koruptor seperti tak berkurang, mereka tak memikirkan polisi sepertinya. Tak ada perlindungan berarti ke masyarakat. Tugas polisi seperti hanya menangkap penjahat yang terlapor. Masalah memberi rasa aman seperti tak terasa lagi. Mungkin juga para pelaku penjahat di Indonesia tak ada takut-takutnya kepada polisi kita. Mungkin justru masyarakat kita hanya takut pada polisi di jalan raya saja, takut ditilang atau disuruh bayar. Sisanya, bebas merdeka. 

Yang terpenting adalah polri harus memupuk lagi kepercayaannya dari masyarakat. Semua pihak dalam masyarakat butuh rasa aman. Dengan rasa aman itu maka kita semua bisa hidup dengan tenang. Kejahatan macam apapun adalah musuh yang harus diberantas. Diberantas sampai setuntas-tuntasnya dan tak berlarut-larut. Berikan rasa takut untuk melakukan kejahatan. Untuk itu diperlukan ketegasan yang riil dalam diri kepolisian. Jangan biarkan kejahatan menjadi bagian dari kita, melainkan musuh kita semua. Amankanlah gawang kita jangan sampai terus kebobolan. Tapi sekali lagi, bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Rabu, 28 September 2011

Pesan Singkat Seorang Pemuda

Seorang pendiri bangsa kita pernah berkata "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit." 


Kita sebagai bangsa janganlah sampai melupakan akan cita-cita kita.


Meskipun cobaan terus menerus menghampiri bangsa kita, kita harus ingat bahwa Merah Putih masih terus berkibar di nusantara.


Generasi muda Indonesia, sadarilah bahwa kita yang empunya tanah ini di masa datang.


Teruslah bercita-cita, karena dengan bercita-cita kita memiliki tujuan yang ingin kita raih sebagai pegangan hidup!


Tak ada larangan untuk bercita-cita, dan tak ada juga larangan untuk mewujudkannya!


"Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia."


Jangan sampai hilang semangat juang kita, mentari esok masih menanti ibu pertiwi, menapaki jalan menuju kemajuan.




Penulis,


LEGS