Minggu, 01 April 2012

Kekalahan yang Sesungguhnya

Kisruh BBM telah mendapatkan keputusan. Rapat Paripurna beberapa hari lalu telah menetapkan sebuah keputusan. Ditetapkanlah pasal 7 ayat 6A Rancangan Undang Undang tentang Perubahan Anggaran pendapatan dan Belanja Negara 2012. Rapat yang berjalan kekanak-kanakkan tersebut disiarkan ke seluruh pelosok negeri. Secara transparan masyarakat dapat melihat pertengkaran politik antara dua kubu yang bertolak belakang. Jika anda menonton tontonan tersebut, anda juga pasti melihat aksi walk out dua fraksi dari sidang tersebut.

Mahasiswa bercampur massa dari beragam latar belakang dalam beberapa hari berteriak-teriak di beberapa titik penting ibu kota. Bentrok dengan aparat keamanan bahkan tak dapat dielakkan. Mereka yang bahkan tak tahu alasan mereka berteriak-teriak ikut melempari aparat dan menghabiskan tenaga dan keringat mereka untuk melawan kenaikan BBM. Ya, inti dari semua yang mereka lakukan adalah menolak kenaikan harga BBM.

Para pakar banyak yang mengutarakan pendapatnya di media atau bahkan berdebat alot dan panas di televisi. Mereka tentu saja memegang pendapat mereka dan berusaha mengutarakannya kepada masyarakat. Tapi masalahnya, apakah rakyat benar-benar mengerti? Menurut saya rakyat kecil hanya berpikir satu, harga BBM naik berarti mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak. Harga barang-barang akan naik dan mereka merasa akan semakin sengsara. Jadi mereka tidak peduli apakah harga minyak kita memang sudah murah dibandingkan negara lain di dunia atau alasan-alasan yang dikeluarkan pemerintah. Yang mereka tahu, harga naik, berarti mereka makin sengsara.

Para mahasiswa dan rakyat kecil itu tak berhenti meneriakkan kepada pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM. Tidak menyerah. Kata tidak menyerah ini yang ingin saya garis bawahkan. 

Sekarang mari kita lihat mereka yang berjuang dan mengatakan mewakili aspirasi rakyat kecil di DPR kemarin itu. Ya, mereka memang melawan. Tapi apakah sampai akhir? Itu yang jadi masalah. Saya ingin menyoroti kepada mereka yang melakukan walk out. Saya merasa tindakan mereka tidak tepat. Jika memang mereka ingin berjuang sampai akhir, kenapa mereka harus keluar sidang? Kalau mereka memang tidak menyerah tunjukkanlah sampai akhir. 

Perjuangan mereka sangat kekanak-kanakkan. Mereka tidak memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat. Setiap perjuangan harus siap akan semua hasil yang didapatkan. Kalau mereka sebelum keluar ruangan meminta maaf kepada masyarakat dan mengatakan sudah berjuang semampunya, saya tidak menganggap itu hebat dan justru sebaliknya. Saya sangat salut dengan partai yang bertentangan dengan pemerintah seperti GERINDRA yang tetap stay di tempat sampai sidang selesai. Sikap mereka adalah sikap seorang pemimpin. Meski tahu mereka akan kalah tapi mereka tetap menunjukkan sikap sportif dan profesional sebagai wakil rakyat.

Apa yang dilakukan GERINDRA atau mungkin PKS sangat baik dan memberikan pelajaran kepada masyarakat. Tidak masalah apakah itu cara pencitraan dari mereka. Kalaupun memang demikian berarti citra mereka terbangun dengan baik. Karena mereka berjuang dengan cara yang seharusnya. Wakil rakyat seperti itulah yang kita butuhkan. Perbedaan pendapat itu adalah hal yang biasa dan juga merupakan akar dari demokrasi kita. 

Semoga saja ke depannya aksi walk out seperti itu tidak lagi ditampilkan. Dengan melakukan aksi walk out justru menunjukkan mereka telah kalah. Bukan karena hasil voting, namun karena mereka tak bisa menerima apa yang akan mereka dapati. 

Untuk apa semua bentrokan itu kalau ujung-ujungnya mereka menyudahi semuanya dengan keluar ruangan?  Justru tindakan mereka yang keluar itu seperti mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan lagi kepada masyarakat. Dan itu sangat tidak boleh ditunjukkan oleh para wakil rakyat. Kesempatan mereka untuk duduk di ruang itu seharusnya mereka gunakan dengan benar dan maksimal karena tidak semua orang bisa berada disana. Rakyat membutuhkan mereka yang bisa bertahan sampai akhir untuk menyampaikan aspirasi mereka dan mengatakan "masih ada harapan untuk kita". 

Aksi walk out hanyalah salah satu dari beberapa hal yang menurut saya memalukan dari sidang kemarin. Anda yang menontonnya pasti tahu bagaimana sidang itu tak ada bedanya seperti kumpulan anak kecil yang saling bertengkar dan tak tahu aturan.

Teriakan-teriakan rakyat seperti disudahi dengan hasil yang tak jelas. Memang harga BBM tidak naik sekarang, namun bukan berarti tidak akan naik karena pemerintah telah diberikan kewenangan untuk menyesuaikannya. Kita tinggal melihat saja ke depannya apakah memang harga akan naik atau tidak. Kalau memang pemerintah masih memiliki etiket baik maka seharusnya penghematan dan cara-cara lain bisa diusahakan. 

Sekali lagi, tak ada perjuangan yang sia-sia kalau memang dilakukan sampai batas terakhir. Apa pendapat anda? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya. 

Kamis, 22 Maret 2012

Butuh Kenyamanan Hanya Alasan

Dalam posting kali ini saya ingin mengajak anda para pembaca sekalian untuk mengambil sesuatu dari foto yang saya ambil beberapa saat lalu ini. 

Cobalah dahulu perhatikan foto ini secara seksama. Lihatlah apa yang sedang dilakukan oleh anak kecil itu.

Foto ini saya ambil di sebuah jembatan penyebrangan atau jembatan halte busway. Saat itu sekitar pukul setengah delapan malam. Saya yang ingin pulang dengan menaiki transportasi busway mendapat pembelajaran berharga dengan menemui anak ini, atau paling tidak sekedar melihat dan berpapasan dengan anak ini.

Menurut anda, kira-kira apa yang sedang dilakukan bocah ini? Meminta-minta? Ya, tentu dapat langsung dilihat bahwa dia adalah salah satu anak jalanan yang harus meminta-minta di jembatan penyebrangan. Gelas plastik yang diletakkan di depannya adalah tempat orang untuk memberikan koin-koin rupiah mereka. Tak ada yang berbeda dengan kebanyakan anak jalanan pada umumnya. Namun ada perbedaan yang tidak pernah saya temui sebelumnya yang dilakukan oleh bocah ini. Anda dapat melihatnya, ia sedang belajar.

Saya juga terkejut ketika melihat anak ini. Saat saya sadar bahwa anak itu sedang belajar, saya langsung terpikir untuk mengabadikannya dengan foto tersebut. Karena terburu-buru dan tak enak dilihat orang, saya memfotonya dengan kamera ponsel saya dan melakukannya secara cepat, sehingga hasilnya mungkin tidak terlalu bagus.

Namun di luar kualitas foto itu, saya ingin mengajak anda belajar sesuatu dari isi foto itu.

Semangat untuk belajar. Tidak seperti anak lain yang juga meminta-minta tak jauh dari posisinya, ia tampak sibuk menjawab buku latihan soal yang ia gunakan. Saya memastikan terlebih dahulu apakah benar itu adalah buku latihan soal pelajaran dengan mendekatinya, dan benar demikian. Ia sibuk mencari-cari jawaban dari soal di bukunya ketimbang meminta-minta dari orang yang lalu-lalang di depannya. Gelas tempatnya mengumpulkan uang dibiarkan begitu saja.

Kita mungkin seringkali menjadikan ketidaknyamanan sebagai alasan kita malas atau tidak mau belajar. Kita seperti membutuhkan kenyamanan penuh agar kita mau dan bisa belajar atau mengerjakan pekerjaan kita. Tapi lihatlah anak itu. Kenyamanan apa? Ketenangan apa? Mejapun tak ada. Kebisingan tak perlu ditanya. Angin malam dan asap kendaraan menerpa-nerpa. Tapi ia bisa dan mau, untuk belajar.

Di antara banyak anak-anak jalanan yang tampak putus asa dan mulai meninggalkan yang namanya belajar, masih ada anak seperti itu. Mungkin saja banyak yang lain seperti dia di luar sana. Saya percaya masih banyak anak-anak bangsa yang lapar akan pendidikan. Bahkan rasa lapar yang melebihi lapar yang dirasakan perut mereka. Yang mereka butuhkan adalah perhatian dari negara. Dan negara itu termasuk kita kawan, mereka butuh perhatian dari kita semua.

Jika saat ini tak ada yang bisa kau lakukan untuk anak seperti ini, hargailah waktumu. Setidaknya hargailah kesempatan berharga yang anda punya, kenyamanan yang anda punya untuk menuntut ilmu jauh dibandingkan anak ini. Jangan sia-siakan kesempatan yang anda punya dengan rasa malas. Anda tidak perlu belajar sambil meminta-minta bukan? Anda tak perlu belajar di jembatan bukan? Jangan bilang anda tak beruntung. Belajarlah mensyukuri fasilitas yang orangtua anda berikan.

Posting kali ini memang lebih saya tujukan bagi anda para pemuda yang masih menuntut ilmu. Semoga saja foto dan kata-kata saya dapat setidaknya sedikit merubah perilaku anda. Kita bisa belajar dari sekeliling kita, termasuk dari orang yang kita kesampingkan dan anggap remeh. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Sabtu, 10 Maret 2012

Air Tak Hanya Datang Dari Satu Akar

Pola pikir kita terbentuk dari berbagai macam sumber yang kita terima dalam benak kita. Ideologi-ideologi yang tersalur pada kita tersaring melalui kecocokan pada diri masing-masing. Sumbernya bisa bermacam-macam. Entah itu buku, tokoh, ormas, adat, dan lain sebagainya. Dan yang menjadi bisa berbahaya adalah ketika anda hanya melihat dari satu sudut pandang saja.

Pernahkah anda membaca sebuah buku yang berisi tentang pengajaran, entah tentang apa, lalu anda terpikat dengan tulisan tersebut lalu mejadi mengidolakannya? Ya, rasa suka dan pas terhadap sebuah pola pikir bisa berujung pada pengidolaan terhadap seorang tokoh ataupun suatu ajaran. Itu tidak salah. Mengidolakan seseorang tidaklah salah. Namun yang sering terjadi adalah, ketika ajaran ataupun dokma diterima secara blak-blakan dan terus menerus dihisap dan dierami, itu semua akan menjadi semacam pola pikir yang dominan bahkan menjadi jalan pikir seseorang.

Karena sudah menerima dari satu sumber tersebut maka seseorang hanya akan menggunakannya sebagai pola hidup dan berpikir. Semua aspek kehidupan hanya dilihat dari satu sisi yang diketahuinya saja, yang terkadang sangat terbatas. Tak jarang pemikiran tersebut dipandang sebagai idealismenya dan menjurus ke fanatisme. Ketika itu sudah terjadi maka akan sulit untuk bisa menerima ajaran dan pemikiran-pemikiran lain yang ada di luar.

Padahal yang perlu kita ingat adalah begitu banyak sumber yang bisa kita serap dan pakai dalam menjalin sebuah kehidupan harmonis bersama orang lain ataupun hubungan berbangsa. Dengan masyarakat yang sangat multikultural seperti di negara kita ini kita tidak bisa mengesampingkan pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda yang ada di masyarakat. Justru dengan perbedaan-perbedaan yang ada maka seharusnya kita menjadi kaya karena menyerap begitu banyak pemikiran-pemikiran yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh sebuah negara yang hanya terisi oleh satu-dua jenis ras ataupun kelompok masyarakat tertentu. 

Namun yang terjadi saat ini tidaklah demikian. Bukannya menyerap dulu ajaran ataupun pemikiran dari kelompok lain, kita malah mencari-cari kesalahan yang ada dari pihak lain. Ya, yang dicari-cari dari ajaran lain adalah kesalahannya. Seakan-akan ingin menjatuhkan semua pemikiran yang berbeda dengan milik kita dan hanya kita sajalah yang benar. Padahal menurut saya, setiap ajaran tentu saja memiliki kekurangan.

Tokoh-tokoh yang mewariskan ajaran mereka kepada kita hidup pada zaman yang berbeda dengan kita. Tentu saja ada perbedaan-perbedaan mendasar dalam kehidupan masyarakatnya dibanding dengan zaman kita. Selain itu negara serta kondisi bangsa dari tokoh-tokoh itu juga berbeda dari kita. Tidak bisa kita menyamakan kehidupan masyarakat dan lingkungan kita dengan mereka. 

Seraplah kata-kata mereka jika anda memang mengiyakannya, namun jangan hanya menyuap hanya dari satu jenis makanan saja. Kunyah dan telanlah juga pikiran-pikiran yang lain yang ada di dunia sehingga anda menjadi sehat dan kaya.

Seorang aktivis juga tidak bisa hanya menerima satu referensi saja dalam otaknya. Ia harus banyak membaca agar tahu semua ajaran dan mengambil sari-sari penting dari tiap-tiap pemikiran. Jika seseorang hanya berpedoman pada satu ajaran atau pemikiran saja, sama saja ia memakai kacamata kuda yang hanya bisa melihat ke depan tanpa melihat kanan-kirinya.

Jadilah pencuri. Curilah semua ajaran maupun pengetahuan sebanyak yang anda bisa agar anda bisa melihat dunia dalam persfektif yang luas. Seorang pencuri tidak akan peduli dengan barang-barang yang tak penting dan jelek. Ia hanya akan mencari barang-barang bagus dan berharga untuk dirinya. Maka ambilah semua informasi dan pengetahuan yang penting dan baik adanya agar anda menjadi kaya.

Terkadang doktrin dari orangtua, keluarga, ataupun lingkungan sekitar entah itu adat ataupun agama memenjarakan pikiran kita. Pemikiran menjadi sempit karena selalu membawa unsur kedaerahan atau keagamaan. Rasa sinis seperti telah diprogramkan pada otak kita sejak belia. Cobalah mulai sekarang pelajari adat-istiadat lain ataupun agama lain agar anda tahu seperti apa sebenarnya mereka. Jangan cari tahu dari lingkungan kita tapi pelajarilah langsung dari mereka yang memang berasal dari latar-belakang berbeda. Namun jangan pelajari dengan niat mencari kesalahannya, karena kalau seperti itu tidak ada gunanya dan semakin dangkallah anda..

Kita seringkali langsung menerima saja deskripsi kelompok lain dari kelompok kita tanpa mau secara langsung mengenal kelompok lain tersebut. Padahal tak jarang penjelasan dari kelompok kita itu salah dan cenderung sok tahu. Langsung mengiyakan doktrin dari kelompok kita membuat kita seringkali picik dan dangkal. Sejarah memang ada, tapi waktu terus berjalan dan tak berhenti hanya pada satu masa.

Jangan langsung mengiyakan sebuah perkataan hanya karena meyakinkan atau terdengar benar. Banyaklah membaca. Perbanyaklah teman dari latar-belakang yang berbeda. Keluarlah dari zona aman anda. Pelajarilah banyak ilmu sebisa anda. Jangan mudah terpancing provokasi tak mendasar. Jika anda melakukan itu semua, anda akan menjadi manusia yang dibutuhkan bangsa ini. Manusia yang cinta negerinya, bukan hanya cinta agama, suku, ras, atau kelompoknya saja.

Tak setuju dengan saya? Bagus, jangan langsung menerima sebuah perkataan adalah benar. Karena bagaimanapun juga, ini hanya opini saya. 

Kamis, 01 Maret 2012

Otak Balita

All men who have achieved great things have been great dreamers. - Orison Swett Marden

Saat saya masih kecil saya sangat senang berkhayal. Setiap kesempatan saya bermain pastilah saya berkhayal. Tentu saja anda semua pasti demikian di usia belia anda. Imajinasi kita begitu hidup. Tak ada yang membatasi angan-angan kita. Kita seperti memiliki dunia kita sendiri. Namun dengan bertambahnya usia, tidakah anda merasa bahwa imajinasi itu perlahan pudar?

Manusia memang dalam usianya yang telah dewasa atau lanjut tetap bermimpi, berangan-angan, ataupun berharap terhadap sesuatu. Namun dalam setiap pengembangan diri yang mereka lakukan, imajinasi itu perlahan tidak digunakan lagi karena berbagai macam alasan yang mengotak-ngotakan pikiran mereka.

Mereka yang telah cukup lama hidup di dunia akan terbawa dengan apa yang disebut realitas. Mereka membatasi otak mereka dengan kenyataan-kenyataan yang ada di dunia mereka. Angan-angan dan imajinasi mereka perlahan hilang dikarenakan pikiran yang mulai kaku. Berimajinasi dianggap hanyalah barangnya anak kecil atau muda saja. 

Menurut saya itu adalah kelemahan mereka generasi tua. Mereka terlalu membatasi diri. Semua hanya berjalan sesuai pada alur yang begitu-begitu saja. Penggunaan imajinasi sebagai sebuah alat untuk berkembang tidak lagi digunakan. Bahkan tak jarang imajinasi dan bayangan generasi muda dibatasi dengan doktrin-doktrin yang diberikan. Mereka menganggap apa yang sudah bertahan dan berjalan lama berarti sudah benar.

Perkembangan hanya bisa terjadi jika mereka mau berubah dan tahu ingin berubah seperti apa serta melakukannya. Kalau mereka tidak membayangkan sesuatu maka tidak ada bayangan yang diimpi-impikan. Khayalan-khayalan anak muda kadang hanya ditertawai dan menjadi gurauan saja. Dan mereka yang imajinasi serta khayalan mereka ditertawai lama kelamaan seperti merasa disadarkan dan menjadi realistis. Tapi apa sebenarnya realistis? Apa memang ada yang disebut realistis? Kalau iya kenapa banyak orang berkata 'tak ada yang tak mungkin di dunia ini' ? Seseorang yang berkata negara ini masih ada harapan namun dilain kesempatan berkata bahwa ia realistis? Bagaimana bisa?

Generasi tua terlalu banyak berteori. Dan lama-kelamaan ditularkan ke generasi muda. Mereka menganggap dengan usia yang lebih tua maka mereka merasa lebih tahu dengan dunia. Anda merasa itu benar? Kalau saya merasa tidak juga. Mengapa? Memang usia mereka lebih tua, namun zaman telah berubah. Zaman mereka tumbuh berbeda dengan zaman kita tumbuh. Dan kita berkembang di zaman yang jauh berbeda dengan mereka. Sesungguhnya kita sama saja dengan mereka, mereka mengetahui apa yang mereka ketahui di zaman mereka dan kita mengetahui apa yang ada di zaman kita. Siapa kira Obama bisa menjadi presiden AS padahal dia kulit hitam yang dahulu sangat tidak diterima oleh kulit putih disana? Itu semua karna zaman telah berubah dan tidak berhenti begitu saja.

Manusia berimajinasi untuk bisa terbang di udara. Maka ada di antara populasi manusia ini yang menghasilkan secara nyata imajinasi itu dengan menemukan pesawat. Apakah anda berpikir itu terjadi begitu saja? Tentu tidak. Seseorang bermimpi dan mengimajinasikan negaranya kembali menguasai Eropa dan sekitarnya, maka hiduplah seorang Hitler, sosok yang begitu ditakuti saat itu. Ada khayalan dan ada kemauan untuk menghasilkan sesuatu dari imajinasi itu. Masalah bagaimana dan dengan cara seperti apa imajinasi itu dituangkan, semua orang berhak memilih jalan mereka masing-masing. Bermimpi. Ya semua berasal dari mimpi kita.

Anda yang sampai usia remaja atau dewasa masih menyenangi film-film kartun atau animasi serta komik sebenarnya tak perlu malu. Justru hal-hal seperti itu sesungguhnya merangsang imajinasi kita. Kita dibawa berkhayal dengan cerita-cerita mustahil tersebut. Otak kita menjadi tidak terbawa oleh pikiran-pikiran kaku yang membosankan. Tidakah anda merasa demikian? Namun seringkali mereka yang masih menggemari hal-hal seperti itu ditertawai dan dianggap anak kecil. Padahal menurut saya tak ada hubungannya sama sekali. Mereka adalah orang-orang bebas yang dengan leluasa menikmati imajinasi mereka yang begitu luas. Sejujurnya hidup mereka begitu indah karena tak ada batasan-batasn dalam pemikiran mereka.

Bukan berarti saya mengajak anda semua bertingkah seperti anak kecil terus-menerus. Imajinasi seorang anak balita lah yang perlu kita pertahankan. Mereka dengan bebasnya melihat segala sesuatu dari segala sudut pandang. Tak ada kata benar atau salah di benak mereka. Yang mereka pikirkan hanyalah berimajinasi sejauh yang mereka mau. Dan kita yang telah mampu melakukan apa yang kita mau diberi kekuatan untuk membuat nyata imajinasi itu. 

Toh sampai saat ini tak ada yang mengenakan biaya untuk anda berimajinasi. Karena itu jangan berhenti untuk bermimpi, imajinasikan keinginan anda. Tentu saja jangan hanya hal yang bertentangan dengan norma sosial saja yang anda bayangkan. Meski saya merasa di negara ini mereka yang menggunakan imajinasi mereka dengan baik adalah para palaku kriminal. Kenapa? Karena mereka dengan fleksibel memikirkan keinginan mereka dan mengimajinasikannya, lalu melakukannya. Mereka yang mengatur jalannya negara ini terlalu kaku dan berkepentingan sehingga mereka tidak tahu lagi harus apa karena impian dan bayangan mereka telah pudar. Orang yang memiliki imajinasi tinggi akan mengalahkan dan selangkah lebih maju dibanding mereka yang hanya berkutat pada peraturan dan doktrin-doktrin kaku yang bahkan tidak tahu mana yang benar dan salah.

Sekarang ini sudah banyak sekali generasi muda yang ikut-ikutan berpikiran kaku. Saya ingin mengatakan bahwa janganlah terlalu terbawa oleh pemikiran-pemikiran yang terlihat tegas dan benar. Lihatlah dari semua sudut pandang yang ada di dunia ini. Karena menurut saya itulah enaknya menjadi orang muda. Kita bisa bebas melihat dunia ini. Jangan sia-siakan usia muda anda dengan menjadi orang yang kaku. Santailah sejenak dan banyaklah mencari referensi. Imajinasikan angan-angan anda dan jangan hapus mimpi anda.

Einstein juga mengiyakan betapa imajinasi itu lebih penting dibanding pengetahuan yang anda punya. Jadi untuk apa membatasi imajinasi anda? Jika negara ini mau berubah maka negara ini membutuhkan generasi muda yang masih berani berimajinasi untuk memperbaiki apa yang sudah ada. negara tidak butuh lagi tambahan orang-orang yang putus asa terhadap negara sendiri. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Rabu, 22 Februari 2012

Ramah? Maaf Anda Lebih Muda

Seorang anak dengan langkah kecilnya mengantre dengan menggenggam sehelai uang sepuluh ribuan. Gadis mungil ini tertutup oleh dua orang dewasa dengan tubuh tiga kali lipat atau bahkan lebih dibandingnya.

Orang terdepan telah selesai dengan pesanannya dan membawa nampannya ke tempat duduk. Orang kedua maju dan memulai pesanan. Gadis kecil ini mulai memasang muka riang di wajah halusnya. Ia begitu senang karena sebentar lagi bisa memesan es krim kesukaannya dan menghabiskannya di siang yang panas itu.

Orang kedua pun telah selesai memesan dan dengan segera membawa pesanannya dari meja kasir. Dengan riang gembira si gadis mungil ini melangkah mendekati meja kasir yang menutupi tubuhnya menyisakan pita rambutnya yang terlihat mengintip.

Ia dengan susah payah mengacungkan uangnya dan mencoba mengatakan pesanannya ke wanita yang menjaga kasir restoran siap saji itu. 

Namun si wanita penjaga kasir itu malah mempersilahkan Bapak bertubuh besar di belakang anak itu untuk mengatakan pesanannya. Uang lembaran sepuluh ribu rupiah yang diacungkan oleh si gadis mungil itu tidak digubrisnya. 

Setelah Bapak bertubuh besar itu selesai, bukannya melayani gadis kecil itu, si kasir itu malah mempersilahkan orang berikutnya untuk memesan. Begitu sampai tiga orang setelahnya.

Ibu dari gadis cilik itu memperhatikan dari kejauhan. Melihat anak manisnya susah payah berjinjit-jinjit untuk memberikan uangnya yang bahkan tidak dilayani sama sekali. Si penjaga kasir hanya sekali memberikan senyuman kecil ke gadis kecil itu sambil berkata, "Sebentar ya Dik!"

Si ibu yang tidak tahan lagi melihat anaknya tidak dilayani menghampiri anaknya itu dan langsung menggendong anaknya naik ke atas meja kasir sambil berkata, "Mbak! Anak saya mau pesan es krim satu!"

Si wanita kasir itu terkejut dan langsung memberikan pesanan gadis kecil itu sambil memasang senyum-senyum kecut.

Setelah mendapatkan es krimnya si gadis kecil memasang senyuman terlebar yang bisa dibuatnya dan langsung menjilati lelehan es krim putih itu. Sang ibu menuntun anaknya itu keluar dari restoran dengan raut wajah kesal yang masih dipertontonkannya.

Dari kisah singkat di atas, apa yang bisa anda tangkap? Tentang perjuangan seorang gadis cilik untuk membeli es krim kesukaannya.

Tanpa harus disanggah, itulah budaya di negara kita ini. Kita terbiasa menomorduakan yang lebih muda atau yang dianggap masih anak-anak. Pelayanan terhadap yang lebih tua jauh berbeda dengan yang masih muda atau masih kecil. Namun jangan disamakan jika si anak bersama dengan orangtua.

Terkadang yang lebih tua begitu sombong dan angkuh terhadap yang lebih muda. Lihat saja seorang satpam yang begitu jagoan di depan anak-anak muda dibanding di depan bapak-bapak atau ibu-ibu. Gaya berbicara sangat berbeda. Mereka yang bertugas melayani entah kenapa hanya bisa melakukan kinerja maksimalnya di depan orang dewasa saja. Apa alasannya? Sebagai konsumen ataupun mereka yang perlu dilayani, yang tua dan yang muda hanya berbeda di usia saja bukan?

Jika terjadi sesuatu antara yang muda dan yang tua, pastilah yang pertama akan disalahkan adalah yang lebih muda. Entah ia benar atau salah, yang muda pasti akan kena disalahkan. Unsur-unsur seperti tidak sopan atau tidak menghargai orang yang lebih tua seringkali dijadikan embel-embel.

Saya tidak mengatakan bahwa anda semua boleh kurang ajar. Disini saya ingin mengatakan bahwa untuk melayani, kita harus sama kepada semua usia. Jangan hanya hormat kepada yang lebih tua saja ataupun atasan saja.

Jangan hanya layani mereka yang lebih tua atau bos-bos saja dan berlaku sombong dan kurang ajar kepada yang muda-muda. Ingat, kekurangajaran bukan hanya dilakukan oleh yang muda ke yang tua, namun juga yang tua ke yang muda. Kesopanan tidak bisa dihubungkan dengan tingkat usia.

Memang tidak semua seperti itu. Tentu saja di tempat-tempat elit atau mahal atau tempat-tempat tertentu seperti bank, para pelayan atau mereka yang ditugaskan untuk melayani pasti akan berlaku sama kepada semua usia. Namun tempat seperti itu hanya terbatas sekali. 

Melayani tentu saja kepada siapa saja. Kalau memang mau ramah, maka ramahlah ke semua orang tak terkecuali. Peraturan memang ada, dan jalankan ke semua usia. Jangan hanya menghukum yang muda-muda, namun takut ke yang tua-tua. Karna menurut saya yang mudapun juga ingin diberikan keramahan dan pelayanan yang sama baiknya. Saya sebagai orang muda melihat fenomena ini terjadi di setiap keseharian saya meskipun bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Selasa, 07 Februari 2012

Membersihkan Sisa Orang Lain

Apa yang terpikir oleh anda ketika melihat seorang pelayan di sebuah restoran membersihkan meja makan yang kotor atau mengepel lantai yang kotor tepat di depan mata anda. Mungkin tidak sedikit di antara anda yang merasa iba dan merasa pekerjaan seperti mereka itu sangat rendah dan dipandang sebelah mata. Saya juga termasuk yang pernah dan tak sekali juga merasa kasihan pada mereka yang membersihkan nampan dan lantai di depan saya yang dengan asik makan di depan matanya. 

Ada pengalaman yang ingin saya bagikan kepada anda tentang pengalaman saya bekerja di sebuah restoran siap saji di daerah pusat Jakarta. Sebuah pengalaman yang sedikit banyak membuka pandangan saya tentang nilai sebuah pekerjaan.

Saat saya melamar di restoran siap saji itu saya berpikir untuk menjadi bagian yang memasak makanan saja. Itu karena saya senang memasak dari kecil. Bahkan saat masih kecil, di saat anak laki-laki sebaya saya senang main mobil-mobilan, saya lebih senang main masak-masakan. Mungkin orangtua saya khawatir saya akan salah arus saat dewasa karna saya malah lebih suka permainan yang mereka lihat lebih cocok untuk maianan anak perempuan. Selain itu saya merasa pekerjaan memasak itu seru dan keren dibanding pekerjaan lain di restoran itu.

Ternyata kenyataan yang saya dapat di restoran itu tidak seperti yang saya pikirkan. Saya berpikir bahwa nanti akan ada pembagian kerja yang jelas sesuai kemahiran para pekerja. Dan ternyata tidak demikian. Saya diajari semua ketrampilan yang diperlukan untuk menjalankan restoran tersebut. Semuanya termasuk menyiapkan bahan-bahan masakan, memasaknya, mencuci peralatan, sampai pada mengepel atau membersihkan meja di area makan. Dan tugas setiap karyawan di rotasi setiap harinya.

Saya sedikit kaget karna tak terpikir harus menjadi tukang bersih-bersih juga di restoran itu. Namun tetap saya jalankan semua pelatihan dengan seksama. Ketelitian yang sangat tinggi diperlukan untuk bekerja di restoran siap saji seperti itu. Bahkan banyak sekali peraturan dan standar yang harus diafalkan oleh semua pekerja disana. Tidak hanya karyawan yang bekerja full time, namun saya yang hanya menjadi part timer juga harus mengetahui keseluruhannya.

Bagian pekerjaan yang paling membuat saya tegang bukanlah saat saya ditugaskan untuk memasak makanan. Melainkan saat saya harus menjaga di area makan. Kenapa? Tentu saja karena ada rasa malu di dalam diri saya jika nanti saya bertemu dengan orang yang saya kenal, bahkan dengan orang yang tidak saya kenalpun saya akan malu. Topi dan seragam yang saya kenakan tampaknya tidak cukup untuk menyamarkan diri saya. Setiap menit saya menjaga area itu terasa sangat lama karena rasa khawatir saya itu.

Rasa takut dilihat orang lain itu timbul karena pendangan saya yang telah tertanam di dalam diri saya saat saya kasihan melihat pelayan restoran yang bekerja seperti saya sekarang. Dari yang dulu saya kasihan melihat seorang pelayan membersihkan sisa-sisa makanan yang tercecer di bawah lantai atau meja, sekarang itu yang harus saya lakukan. Dari yang biasanya saya melihat orang dan merasa kasihan, sekarang sayalah yang dilihat dan mungkin saja diberi rasa kasihan.

Awal-awalnya saya selalu menundukan kepala dalam-dalam ketika akan membersihkan meja, lantai, ataupun saat sedang mengepel. Malu. Ya, sehebat apapun saya berusaha menutupinya, rasa malu menjadi orang yang mengepel di restoran tetap saja timbul. Kalau saat saya bertugas di dapur saya dengan santai melakukan pekerjaan itu. Mungkin karena tak ada yang bisa melihat saya. Berbeda ketika saya harus menjaga area makan. Semua pengunjung bisa menatap saya dan memperhatikan segala tingkah laku saya. 

Satu hal lain yang saya pelajari adalah tentang menghargai makanan. Dengan bertugas membersihkan meja makan, saya secara otomatis akan melihat sisa-sisa makanan yang ditinggalkan mereka yang telah selesai makan. tak jarang hanya secuil potongan makanan yang dihabiskan dan seteguk minuman yang dihabiskan. Alhasil, tumpukan makanan paket yang hampir tak berubah bentuknya tersisa begitu saja. Dan yang berat adalah, saya harus membuangnya.

Sungguh pengalaman yang tak akan saya lupakan. Bekerja dengan pekerjaan yang dianggap remeh oleh orang banyak. Namun ada yang saya ingin bagikan kepada anda para pembaca. Mungkin anda berpikir bahwa pekerjaan demikian adalah sungguh kasihan. Menurut saya tidak demikian.

Kalau dilihat dari segi gaji, tempat saya bekerja tidaklah berbeda dengan gaji rata-rata yang didapat karyawan kantoran. Bahkan sama-sama saja standarnya. Lalu apa bedanya? Tentu saja pekerjaannya dan gengsinya. Menjadi karyawan kantor bagi kebanyakan orang lebih terpandang dibanding bekerja di restoran atau sejenisnya. Namun kalau penghasilan? Bisa saja sama-sama saja. Jenjangnya? Sama-sama ada tingkatannya.
Ketika kerabat anda berkata "Cari kerja tuh susah" ketahuilah, itu kata-kata pemalas yang akan selalu kalah.

Mengapa? Karena mencari pekerjaan itu tidaklah susah. Ada ratusan jenis pekerjaan diluar sana yang bisa dicari untuk mencari uang. Lapanngan kerja terbuka lebar dimana-mana. Masalahnya adalah apakah kita sudah berniat dan benar-benar mencarinya. Masalahnya disini bukanlah tentang uangnya, tapi tempat bekerjanya. Orang memilih apa pekerjaan yang ingin diambilnya. Yang membedakan adalah jenis pekerjaan seperti apa yang ingin diambil dan dijalankan. Anda mau pekerjaan yang santai saja, yang butuh tenaga saja, yang menguras otak, atau apa saja semua tinggal pilihan anda. Karena ujung-ujungnya, uang adalah tujuan utama.

Dari pengalaman saya bekerja di restoran itu saya belajar dan mengalami pekerjaan yang membutuhkan lebih kepada tenaga. Dan tantangan terbesar untuk anak muda seperti saya, menyingkirkan rasa malu. Berbeda dengan pekerjaan saya sekarang yang lebih kepada otak yang selalu harus memandang ke arah komputer. Semua berbeda dan tinggal kita memilih mana yang ingin kita lakukan dan mana yang akan dengan enjoy kita lakukan.

Saat ibumu berkata "Cari duit tuh susah" percayalah, tak ada dusta sedikitpun di dalamnya. Ini saya tujukan pada anda semua anak-anak muda yang merasa hidup anda begitu nyaman dan tak ada masalah sama sekali.
Mencari uang untuk anda sehari-hari orangtua anda perlu menguras tenaga dan waktu. Tak jarang mereka harus bermandi keringat hanya untuk jutaan, ratusan ribu, atau bahkan puluhan belasan ribu rupiah yang bisa mereka dapatkan.

Di usia saya ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengecap rasa lelah itu. Saya ingin mengajak anda semua mengahargai pekerjaan orangtua anda. Serendah apapun pekerjaan orangtua anda di depan orang banyak ataupun di pikiran anda sendiri, ketahuilah bahwa pekerjaan itu mulia adanya. Uang yang didapat itu tidaklah semudah memintanya untuk ongkos anda pergi jalan-jalan bersama teman-teman, atau untuk belanja dan hura-hura. 
Ya, merasakan membersihkan sisa-sisa makanan bekas orang lain, dipanggil "Mas" untuk dimintai tolong mengambil atau membersihkan sesuatu, atau pekerjaan apapun yang dipandang rendah bisa membuat kita lebih merunduk dan melihat ke bawah. Ke bagian yang terbiasa tidak kita lihat karena selalu mencondongkan kepala ke atas. Tapi saya tidak menyuruh anda untuk mencoba pekerjaan seperti itu juga, karna bagaimanapun juga ini hanya opini saya.





Selasa, 24 Januari 2012

Elegi Hembusan yang Mudah Hilang

Apa anugrah paling besar yang anda pernah dapatkan dalam hidup ini? Mungkin anda akan menjawab orangtua, keluarga, kekasih, sahabat-sahabat, kekayaan, prestasi, gelar, dan lain-lainnya sesuai dengan apa yang anda rasakan dan alami sampai saat ini. Semuanya itu adalah benar adanya sebagai sebuah anugrah yang begitu indah, apapun kepercayaan anda. Namun tahukah anda bahwa ada anugrah yang lebih besar daripada itu semua? Yang ini seringkali terlupakan sebagai sebuah pemberian terbesar dan lebih dari apapun juga. Hidup.

Ada yang mengatakan hidup itu mudah, ada yang mengatakan hidup itu berat. Mudah mungkin saja karena kita berpikir hidup seperti sebuah hal yang memang sudah seharusnya dan berjalan begitu saja. Sedangkan sulit dilatarbelakangi oleh kesulitan-kesulitan sosial yang dialami. Namun bagi saya, benar adanya bahwa hidup itu sulit. Yang mudah itu adalah, mengakhiri hidup. Baik hidup kita sendiri ataupun hidup orang lain.

Baru-baru ini kita semua dihebohkan oleh kasus Xenia maut yang menurut berita terakhir yang saya dapat menelan 9 korban jiwa. Siapa yang menyangka akan tertabrak saat berjalan di atas trotoar bersama teman-teman? Beda soalnya kalau kita memang sengaja menantang bahaya dengan misalnya berjalan di tengah jalan atau menyebrang dengan asal tanpa melihat kendaraan yang berlalu-lalang. Siapa juga yang menyangka ada perempuan yang dalam efek obat terlarang menyetir dan tiba-tiba masuk trotoar dan menabrak orang-orang tak bersalah? Semua terjadi begitu saja. Nyawa dengan mudahnya hilang begitu saja.

Banyak orang diluar sana mencaci, menghujat dan sebagainya. Aparat dan badan hukum langsung mengolah kasus serta memberikan hukuman pada pelaku itu. Semua pihak dari masyarakat biasa sampai tokoh-tokoh politik mengecam pelaku kasus itu. Saya tidak akan menuliskan cacian dalam post ini, namun saya ingin mengajak anda semua melihat dari sisi yang lain. Sisi dimana kita sebagai manusia, menghargai hidup kita yang sungguh berharga ini.
Dari kasus Xenia itu kita bisa belajar bagaimana hidup bisa begitu mudahnya selesai dengan cara yang tak terpikirkan sama sekali. 

Bagi anda yang membaca post ini yang merasa bahwa hidup anda biasa-biasa saja dan tidak ada spesialnya sama sekali, cobalah lihat apa yang anda punya sekarang. Bagi anda yang merasa hidup anda tak berguna sama sekali, ataupun sudah putus asa dengan hidup anda saat ini, cobalah lihat tangisan orang-orang yang kehilangan orang yang mereka cintai untuk selamanya. Hidup ini adalah seperti sebuah petualangan yang tak kita ketahui dimana garis finish-nya. 

Saya seringkali menganggap diri saya ini adalah seorang tokoh utama sebuah film. Dimana film itu adalah kehidupan saya yang saya jalani sampai saat ini. Sebagai seorang tokoh utama saya juga bergerak sebagai sang sutradara. Saya merencanakan semua cerita dalam film ini sekaligus memainkan perannya. Dalam film tersebut ada tokoh-tokoh antagonis dan protagonis yang membentuk karakter saya. Juga tokoh-tokoh tambahan yang datang silih berganti dalam setiap fase cerita itu.

Saya ingin mengajak anda semua menjadi tokoh utama dalam film anda masing-masing. Jangan hanya menjadi tokoh figuran yang melihat kagum pada kehidupan orang lain sepanjang hidup. Jangan selalu menjadi tokoh pendukung sepanjang hidup yang hanya menyokong cerita orang lain. Anda harus memaknai hidup anda sendiri dan menjadi tokoh utama yang bermain dalam film yang memiliki makna didalamnya.

Jika anda berpikir 'masih ada besok' di benak anda, saat itu juga hilangkan pikiran seperti itu. Tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di esok hari kehidupan kita. Bahkan satu jam, semenit, atau sedetik berikutnya dari kehidupan kita saat ini kita tak bisa memprediksikannya. Yang bisa kita lakukan adalah menghargai waktu yang kita punya.

Jangan pernah berpikir bahwa korban tsunami Aceh atau Yogyakarta dulu hanyalah bernasib sial. Bencana bisa datang kapan saja. Kita bisa saja memprediksi bencana, namun kapan datangnya siapa yang tahu? Siapa juga yang berpikir pemuda-pemuda kasus Xenia itu akan meninggal tertabrak padahal mereka berjalan di trotoar dengan benar. Teman-teman pelaku juga mungkin tidak menyangka bahwa temannya akan sampai oleng saat menyetir setelah mereka pesta narkotika? Mungkin mereka hanya berpikir untuk kesenangan mereka saja tanpa memprediksi bahwa penggunaan obat mereka bisa saja berpengaruh pada orang lain bahkan sampai nyawa orang lain.
Begitulah adanya. Hidup ini bisa dengan mudahnya disudahi. Beribu-ribu macam cara untuk mengakhiri hidup seseorang. Dari yang paling sederhana hingga yang begitu terencana. Ya, tak perlulah kita memperkarakan mengenai kematian atau semacamya. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita memaknai dan mempertahankan hidup ini.

Ada dimana seorang yang sudah rentan ataupun penyakitnya sudah begitu menyiksa orang tersebut, namun tetap saja dilakukan berbagai macam cara untuk mempertahankan hidupnya selama mungkin. Mengapa tidak langsung saja diberi suntikan untuk mengakhiri hidupnya seperti yang dipakai tak sedikit orang? Itu karena hidup begitu bermakna. Baik memperpanjang setahun, sebulan, sehari, sejam, semenit, atau bahkan sedetik, mempertahankan keberadaan kita di dunia memiliki nilai yang tak terbatas.

Pesan saya, hargailah hidup anda. Pakailah waktu anda dengan sebanyak mungkin tindakan yang berkualitas. Nikmatilah hidup anda. Begitu banyak menikmati hidup yang bagi saya sangat seru ini. Sekali lagi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita setelah ini. Syukuri setip nafas yang anda hirup, setiap pemandangan yang terpantul di retina anda, setiap rasa yang terkecap di lidah anda, setiap sentuhan dari orang yang anda sayangi, setiap tawa bersama sahabat-sahabat anda, setiap tetes keringat dari perjuangan anda, setiap kehangatan yang dipancarkan matahari lagsung pada anda, dan setiap detik waktu yang terjadi dalam hidup anda. Karna hidup adalah sebuah anugrah terindah bagi kita sebagai bagian kecil dari dunia yang bahkan tak kita ketahui batasnya ini. 

Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.