Kita sering mendengar bahwa masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan. Setiap orang akan mulai menemukan jati diri maupun arah hidup saat duduk di bangku SMA. Usia yang mulai condong ke dewasa mulai menjadi hal yang sangat menarik dalam meniti tubuh yang mulai dirasa perlu untuk didandani sesuai arah mode yang diinginkan. Kenakalan-kenakalan mulai banyak menyapa dan dengan mengalir persahabatan terajut disana. Dan di masa itu pula ada sebuah saat dimana kita memilih sebuah pilihan yang cukup menentukan arah hidup kita nantinya di Indonesia. Itu adalah pemilihan jurusan.
Rabu, 28 November 2012
Minggu, 18 November 2012
MENULIS: ANTARA WARISAN DAN SENJATA
Rangkaian huruf-huruf bergandengan menghasilkan barisan kalimat yang teratur. Kalimat-kalimat bernyanyi mendengungkan butiran makna, dilema, rasa, dan berita ke mata yang langsung dikonsumsi otak. Pikiran tergerak oleh lembaran-lembaran kalimat yang telah tersusun rapih dan sistematis. Mulai dari hal kecil sampai hal besar bisa bermula dari membaca sebuah goretan maupun ketikan yang mengandung kekuatan dari si penulis maupun si pengetik. Tulisan, pernahkah anda berpikir betapa kuatnya dia?
Sabtu, 10 November 2012
REFLEKSI SEPULUH SEBELAS
"Seseorang dipanggil pahlawan bukan dengan begitu saja, namun berasal dari apa yang telah ia lakukan." Herlina
Ada seorang pejuang yang pernah berkata bahwa hari ini adalah hari kedua yang patut diperingati sebagai hari besar negara Indonesia, hanya dikalahkan oleh 17 Agustus. 10 November, Hari Pahlawan. Hal tersebut ingin mencerminkan bahwa tanggal 10 November begitu bermakna untuk bangsa ini. Memiliki arti yang mendalam di dalam perjuangan dan perjalanan bangsa. Sebuah peringatan yang akan terus diingat sebagai cara kita untuk selalu mengingat seberapa banyak liter keringat dan darah yang mengucur untuk terciptanya kedaulatan negara dan dalam upaya mempertahankannya. Namun siapa di antara anda yang mengingat bahwa ini adalah hari Pahlawan karena tweet atau status BBM orang lain?
Minggu, 28 Oktober 2012
Tanyakan Kepada Darah dan Tulang
Ingatkah anda ada apa dengan hari ini? Apakah anda tahu
sedang terjadi apa pada tanggal ini berpuluh-puluh tahun yang lalu? Apakah anda
merasa merupakan bagian dari bangsa ini? Sudahkah anda meninggikan bahasa ibu
anda? Darah yang mengaliri kehidupan sampai pada tapak terakhir ini, apakah
sudah membeku? Puluhan tahun lalu mereka bersumpah, dan puluhan tahun
setelahnya masih ada kita, jawaban dari sumpah mereka yang disebut pemuda.
Indonesia.
Kita yang dengan bangga
membeli jersey sepakbola yang berlogo
garuda, anda yang masih menyanyikan lagu Indonesia Raya meski hanya satu sehari
di bulan Agustus, atau pun saya yang bisa dengan tegas mengatakan merah dan
putih adalah lambang negara, semua adalah hasil dari sebuah langkah awal dari
banyak pemuda yang memiliki inisiatif. Inisiatif itulah yang membuat Sumpah
Pemuda begitu besar kaitannya dengan terciptanya kedaulatan atas Sabang sampai
Merauke. Ribuan pulau menjadi satu kesatuan di bawah payung Pancasila dan UUD
1945. Sebuah sumpah yang menjadi pondasi dari tiang-tiang penopang bangsa,
Sumpah Pemuda.
Mereka yang bersumpah
tidak berasal hanya dari satu suku. Mereka juga tidak berdoa dengan cara yang
sama. Daerah mereka dilahirkan berbeda-beda bahkan berbeda pulaunya. Raut wajah
atau cara mereka berbicara pun terdiferensiasi sesuai sosialisasi yang mereka
dapatkan dari lingkungannya. Unsur perbedaan, apakah mereka memperdulikannya?
Peringatan adalah hal yang
biasa dari sesuatu yang bersejarah. Peringatan terhadap hari Sumpah Pemuda bisa
dilakukan dengan upacara bendera. Bisa dengan menulis di kolom-kolom surat
kabar, spanduk, atau televisi dengan menempelkan logo partai masing-masing.
Membuat status terbaru seputar peringatan Sumpah Pemuda di social media. Atau hanya menikmati hari Minggu seperti biasa.
Sesungguhnya sebuah peringatan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, adalah
bentuk penghargaan kita dan rasa hormat. Bentuk dari rasa ingat akan sesuatu
yang bersejarah, entah itu karena memang ingat atau teringat oleh orang lain
terlebih dahulu. Jika yang kedua, cobalah mengingat mulai dari sekarang.
Perbedaan kita saat ini
mungkin lebih beragam dibandingkan dengan mereka yang menyusun Sumpah Pemuda.
Diferensiasi pekerjaan membuat masing-masing kita semakin sibuk dengan peran
masing-masing di dalam masyarakat. Namun apakah benar kita mengambil peran
untuk masyarakat? Ataukah kita mengambil peran untuk diri kita bisa bertahan di
dalam masyarakat? Apakah upaya mempertahankan negara ini memang ada dalam diri
kita? Lebih jauh lagi, apakah memang kita masih ingin negara ini ada?
Pemikiran pragmatis yang
ada di setiap sudut kota dan desa menjauhkan kita dari upaya dan pandangan jauh
mau dibawa kemana negara tercinta. Setiap orang terlibat perkelahian dalam di
atas ring yang disebut lapangan kerja. Kemajuan teknologi semakin meninggalkan
mereka yang tidak mampu untuk mengejar yang bahkan untuk mempertahankan hidup
pun masih sukar. Ketika kebingungan masih melanda bagaimana cara untuk
mempertahankan posisi diri dan kehidupan, bagaimana bisa kita menganggap
mempertahankan persatuan bangsa adalah kewajiban kita?
Budaya demokrasi yang ada
seakan-akan membawa kita semakin terlena. Demokrasi yang merupakan alat untuk
membangun negara ke jalur yang benar justru membuat banyak arus yang tak
sejalan. Mereka yang tak kunjung naik dari kasta terendah mendambakan
kembalinya Orde Baru dalam hidup mereka. Masa yang 'enak' tiap golongan berbeda. Bagaimana dengan anda? Seberapa besar keleluasaan demokrasi yang telah anda gunakan untuk pergerakan ke arah yang lebih baik dari negara ini?
Lihatlah jauh ke depan
sana. Kalau perlu mintalah mereka yang berbahu besar menggendong anda agar bisa
terlihat lebih jauh jangkauan pandangan anda. Terlihatkah oleh anda di seberang
sana? Sebuah bukit Asia dimana merah putih berkibar di puncaknya? Terlihatkah
juga oleh anda di balik tembok beton sana, benua-benua yang tadinya
berkuasa mencoba untuk mendapatkan jabat
tangan dari kita? Apakah anda melihat, atau anda tertawa?
Anda boleh saja mengkritik
mereka yang duduk di kursi tertinggi saat ini. Anda boleh menertawai keadaan
saat ini dimana penghargaan terhadap agama serta etnis lain masih terjadi. Anda
boleh mengelus-elus dada ketika mendengar kekonyolan-kekonyolan yang dibuat
oleh anak-anak bangsa. Namun daripada itu semua, anda juga bisa menghujat diri
anda ketika diri anda diam saja melihat itu semua. Tertawailah diri anda ketika
anda adalah satu di antaranya. Dan suruhlah orang lain mengelus-elus dadanya
untuk anda karena tak ada yang bisa anda lakukan untuk berkonstribusi merubah
itu semua.
Sebutlah diri anda
nasionalis. Sebutlah diri anda Islamis. Tapi saya akan memberikan jabatan
tangan paling erat kapada anda yang merasa optimis. Biarkanlah mereka yang suka
dianggap pintar dengan cara mengkritik, kita semua lebih butuh pengubah. Sudah
cukuplah jumlah pengkritik yang hanya menghujat tanpa memberikan solusi. Ketika
anda hanya mengkritik, apakah itu cukup untuk membuat sebuah perubahan? Apalagi
ketika anda hanya bergumam antara teman anda, apakah itu bisa terdengar dan
mengusik mereka yang memiliki kekuasaan menjalankan perputaran kebijakan?
Optimis hanya untuk mereka yang merasa harus ada perubahan dan yakin bahwa ada
kemampuan untuk melakukan itu meski sekotor apapun lawan yang akan dihadapinya.
Jadikanlah kemuakan anda
terhadap masa kini dengan sebuah aksi nyata dan penuh solusi untuk perbaikan
negeri. Rasakanlah keresahan dalam diri anda, ketika anda menemukannya berarti
anda merasa ada sesuatu yang seahrusnya dilakukan. Dan itu bisa dilakukan dari
dalam diri sendiri terlebih dahulu. Inisiatif
apa yang bisa anda lakukan. Mungkin para pemuda hanya beride untuk berkumpul
dan menghasilkan Sumpah Pemuda. Namun lihatlah hasil yang mereka dapatkan
dengan melakukan itu. Jangan remehkan inisiatif dan langkah awal untuk sebuah
tujuan panjang akan sebuah perubahan. Karena semua berawal dari sebuah langkah
pertama yang penuh inisiatif.
Sekarang mari kita
tanyakan kepada bendera yang saat ini berkibar di atas tiang, “Mengapa mereka tak
lagi bergetar melihat kau, darah dan tulang, dikerek ke pucuk tiang di atas
sana?” Kira-kira apa gerangan jawabannya?
Bagaimana pun juga ini
hanya opini saya.
Hari ini adalah harinya
kita! Selamat Hari Sumpah Pemuda!
Senin, 15 Oktober 2012
Jadi Nomor Satu Itu Menarik?
Pernahkah anda berpikir untuk menjadi nomor satu? Atau setidaknya pernahkah anda berpikir untuk menjadi yang terdepan di antara yang lainnya? Menjadi nomor satu adalah sebuah motivasi yang sangat diperlukan dalam setiap diri manusia untuk bisa melangkah ke depan, ke fase selanjutnya dalam hidup. Fase disini adalah tingkatan seseorang untuk menggapai di luar batas yang saat ini menutupi pandangan mata, melampaui apa yang mereka rasa adalah batas maksimal mereka.
Namun tak semua orang merasa dirinya perlu untuk menjadi nomor satu. Tak semuanya mau berkompetisi. Menjadi urutan teratas hanyalah bumbu dari kehidupan yang dilakukan seaman mungkin, atau sebisa mungkin menghindari hal-hal yang menyulitkan. Menghindar dari kesulitan adalah tabiat yang secara tidak sadar menjamuri kita, generasi muda yang pada titik tertentu akan menjadi kelompok usia yang paling berkuasa di negeri ini.
Kita generasi muda, sebut saja kelompok usia 25 tahun ke bawah, terbiasa dengan kemudahan yang sering menimang-nimang kita. Revolusi teknologi secara besar-besaran terus memanjakan kita, kita yang juga berdamai dengan rasa malas. Ditambah lagi jika anda berasal dari keluarga mampu yang memiliki supir atau pembantu. Kemudahan-kemudahan itu membuat kita terbiasa dengan hal-hal yang praktis dan mudah, bisa dikatakan tidak mau repot atau direpotkan. Kesenangan-kesenangan anak kecil terus dipelihara seakan-akan hanya tubuh saja yang menua.
Umpamakan kita sebagai seorang pelari. Saat pelari berlari di atas lintasan maka ia akan mengerahkan otot-ototnya untuk menggerakkan kaki secara cepat, melebihi lawan-lawan lainnya. Kita akan berlari lurus ke depan dan memaksa jantung berdetak tak karuan. Pandangan kita lurus ke depan ke garis finish. Tapi apakah benar demikian? Apakah kita selalu melihat lurus ke depan?
Seringkali kita memalingkan pandangan ke lawan-lawan kita di samping. Saat kita berada di posisi terdepan akan ada rasa takut bahwa kita akan tersusul oleh yang lain. Rasa takut akan jantung yang tak kuat untuk berdetak lebih cepat dan kepercayaan terhadap kaki sendiri mulai diragukan. Ketika kita kembali memalingkan muka ke belakang, terlihat orang-orang lain sedang berlari sekuat mereka, dengan pikiran mereka masing-masing, dengan motivasi masing-masing. Rasa was-was semakin besar, garis finish seakan menjauh dari jangkauan.
Itu jika anda berasa di posisi terdepan. Saat anda berada di posisi kedua, ketiga, keempat, atau bahkan terbelakang di antara yang lainnya, apa yang akan anda lakukan? Apa yang akan anda lakukan ketika sekuat apa pun anda berlari kaki anda tak mau bergerak sesuai yang anda kehendaki dan bayangkan anda bisa lakukan? Orang-orang di depan anda tak punya waktu untuk memperhatikan anda di belakang mereka, tujuan anda dan mereka juga sama, garis finish. Garis finish seakan menjadi sangat mustahil diraih ketika lawan-lawan lain tidak mengurangi kecepatan mereka. Namun garis finish benar-benar sudah pergi hanya ketika anda merasa bahwa memang anda tak ingin menjangkaunya.
Apa yang anda dapat dari ilustrasi tersebut? Ya, menjadi terdepan itu sulit. Itulah mengapa banyak di antara kita yang lebih memilih untuk menjadi si nomor dua, si nomor empat, atau tidak sama sekali. Lebih baik diam dibanding harus berkeringat untuk sesuatu yang belum pasti diraih. Berkompetisi adalah hal yang melelahkan. Sekarang mana yang kita pilih, menjadi salah seorang calon yang berada di urutan teratas, atau mereka yang bahkan menginjak garis start pun tak mampu.
Yang terpenting bukanlah tingkat kesulitan untuk meraihnya, melainkan proses kita dalam meraihnya. Apakah kita sudah memberikan yang maksimal? Apakah kita benar-benar ingin menjadi yang terdepan? Tanyakan itu ke diri kita masing-masing. Tanyakan apakah garis finish tadi benar-benar adalah tujuan kita atau hanya imajinasi anak kecil terhadap sesuatu yang dirasa hebat. Jika seseorang di urutan kedua atau keempat tidak membuang waktu untuk menoleh ke sampingnya atau membuang waktu memikirkan kata 'kalah', maka garis finish akan mendekat dengan sendirinya. Ketika seseorang yang memang sudah berada di posisi terdepan tidak mengizinkan lehernya untuk memalingkan kepala melihat ke belakang dan membuka pintu keraguan, maka ia akan semakin menjauh meninggalkan ketakutan dan keraguannya ke belakang.
Mereka yang pernah mejadi orang-orang besar di negerinya adalah mereka yang berani untuk menjadi nomor satu di bidangnya masing-masing. Ketika keberanian itu dibarengi dengan niat dan kerja keras maka dimana pun lintasan mereka maka kaki mereka akan dengan mudahnya diperintah untuk berlari. Para pendiri bangsa ini adalah mereka yang merasa bahwa masyarakat Indonesia adalah yang seharusnya menjadi penguasa negeri ini maka mereka berani menjadi yang terdepan dan menjadikan garis finish mereka tercapai, Indonesia merdeka.
Salah satu olahraga yang saya sukai adalah lari. Mengapa? Karena saya adalah orang yang tidak suka berada di belakang orang lain. Saat berlari seorang pelari akan berusaha menjadi yang terdepan. Bagi saya itu adalah hal paling menarik dari olahraga itu. Bagaimana kita berusaha dengan otot dan mental kita untuk menjadi yang terdepan.
Ada saatnya kita meraih garis finish dari perjuangan kita dengan posisi terdepan, dan ada kalanya kita harus mengakhirinya dengan posisi di belakang yang lain. Ketika kita berhadapan pada kekalahan itu maka itu bukan berarti kita tidak mampu atau tak ditakdirkan menjadi nomor satu. Ketika kita telah memilih sebuah track dalam hidup kita, berarti kita yakin bahwa kita mampu untuk berdiri disana dan menghadapi semua tantangan yang akan menghampiri kita di sepanjang lintasannya. Selanjutnya adalah bagaimana kita melakukan usaha maksimal dari kita. Karena menjadi terdepan adalah baik adanya. Bagaimana menurut anda? Apakah menjadi nomor satu itu menarik bagi ada? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.
Selasa, 09 Oktober 2012
Kami Bayar Bukan Nyumbang
Ketika kita membayarkan sesuatu, kita berhak atas apa yang
menjadi alasan kita membayar. Entah itu sebuah barang atau pun jasa pelayanan.
Itulah hakekat dari kita membayar. Seperti halnya kita membeli siomay dengan
harga lima ribu rupiah kita bisa mendapatkan lima siomay, pasti kita akan
protes atau bahkan sampai memarahi si tukang siomay ketika kita hanya
mendapatkan empat siomay. Hal ini umum di setiap saat kita membayar sesuatu,
termasuk membayar kuliah. Kalau dalam hal perguruan tinggi, mahasiswa adalah konsumen
utamanya.
Jika anda adalah seorang mahasiswa, tentu anda akan
menjalankan tanggungjawab awal yakni membayar uang masuk universitas atau pun
uang kuliah semester. Anda membayarkan itu dengan harapan mendapatkan pelayanan
pendidikan yang maksimal dari pihak universitas. Biaya kuliah yang tinggi saat
ini semakin membuat ekspetasi kita terhadap apa yang akan kita dapat dengan
membayar ke pihak universitas semakin tinggi. Tak terkecuali di Perguruan
Tinggi Negeri yang ada di Indonesia.
Tidak seperti era sebelumnya dimana biaya kuliah di
Perguruan Tinggi Negeri sangat murah, saat ini biaya yang dikeluarkan tak jauh
berbeda dengan biaya masuk universitas swasta. Bahkan ada kelas-kelas yang
dibuka di Perguruan Tinggi Negeri yang memakan biaya yang melebihi biaya masuk
universitas swasta. Dahulu selain mencari kualitas yang terjamin dari
universitas negeri orang-orang juga mencari biaya kuliah murah dengan masuk
universitas negeri, kalau sekarang?
Saya saat ini berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi
Negeri. Seperti yang saya utarakan di atas, biaya yang saya keluarkan cukup
tinggi. Biaya yang tinggi itu sudah termasuk biaya masuk kuliah, uang semester,
dan biaya lainnya yang tak disebutkan satu-persatu oleh pihak universitas.
Untuk itu semua saya merogoh kocek sampai belasan juta rupiah.
Masalahnya ada ketika sebagai mahasiswa, saya atau
setidaknya angkatan saya tidak mendapatkan hak kami secara maksimal. Sebagai
contoh ada satu mata kuliah wajib universitas saya yang memakai 5 buku cetak
yang seharusnya dibagikan oleh pihak universitas. Sampai saat ini buku-buku
yang menjadi hak kami itu belum kami terima. Padahal menengok ke tahun-tahun
sebelumnya, buku tersebut sudah bisa didapat dari awal masuk kuliah. Tapi untuk
tahun ini, sampai mendekati UTS kami belum bisa mendapatkannya.
Masalah buku itu hanya salah satu hal di antara berbagai
macam persoalan yang saya rasa tidak bisa diterima alasan apapun untuk
menjelaskannya. Seperti kartu mahasiswa yang baru didapatkan setelah lewat
berminggu-minggu dari masuk kuliah, fasilitas komputer mahal yang canggih yang
tidak bisa berfungsi dengan baik, dll.
Dengan kasus-kasus semacam itu bisa saja muncul kecurigaan
terhadap penyelewengan uang yang dibayarkan oleh mahasiswa. Sah-sah saja ketika
mahasiswa mencurigai hal itu ketika mereka tidak mendapatkan hak yang
sewajarnya. Seperti rakyat yang tak mampu mempertanyakan uang dana BOS untuk
anak mereka yang tidak mereka terima. Adalah wajar untuk mempertanyakan hak
kita.
Kita perlu menganggap hal ini sebagai hal yang serius. Jika
memang kita ingin universitas kita mendapatkan apresiasi yang lebih tinggi di
mata internasional atau setidaknya dicap berkualitas internasional, hal-hal
semacam ini tidak sepatutnya bisa terjadi. Jika pihak universitas saja tidak
bisa memenuhi kewajibannya memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik kepada
mahasiswanya, bagaimana bisa pihak luar menilai kita dengan lebih baik?
Hal yang masih kurang dalam pengelolaan dana di Perguruan
Tinggi Negeri salah satunya adalah transparansi terhadap dana yang dibebankan ke pihak mahasiswa.
Ketika seorang mahasiswa membayar dana sebut saja sebesar lima belas juta
rupiah, maka sudah sepatutnya mahasiswa mengetahui kemana perginya uang yang
dibayarkan itu. Ini ada baiknya juga untuk hubungan yang baik antara fakultas
dengan mahasiswa yakni meminimalisir kecurigaan yang akan berdampak negatif
dalam berlangsungnya perkuliahan. Akuntabilitas pihak universitas masih patut
untuk dipertanyakan.
Mahasiswa sekarang juga harus bisa bersikap kritis terhadap
masalah semacam ini. Dari lingkungan saya sendiri, atau jika dipersempit dalam sebuah kelas, banyak yang tidak menyadari
akan adanya hal yang tidak berjalan semestinya, dalam hal ini masalah buku
tadi. Mungkin mereka mengeluh namun merasa hal itu bukanlah hal yang penting
untuk ditindaklanjuti. Pihak universitas bisa saja membiarkan hal ini terjadi
berlarut-larut karena dari mereka sendiri tidak merasa ada tekanan yang
mengharuskan mereka untuk melakukan perubahan. Mahasiswa harus tetap responsif
agar bisa terus mengingatkan pihak universitas jika terjadi hal yang tidak
semestinya.
Adalah tanggungjawab kita sebagai mahasiswa untuk
mempertanyakan dan melakukan tindakan terhadap hal semacam ini. Dana pendidikan
yang berasal dari rakyat sudah sepatutnya dipertanggungjawabkan, dan kita
sebagai mahasiswa memiliki peran kontrol karena kita yang secara
langsung merasakan apakah dana itu sudah dipakai dengan maksimal atau tidak.
Kita sendirilah yang harus bertindak jika terjadi hal yang keluar pada jalur
yang semestinya. Kalau bukan kita yang bergerak, maka siapa lagi? Pihak lain tak punya dorongan atau kepentingan untuk bergerak seperti kita.
Seperti ungkapan di awal tulisan ini, kita ini membayar.
Beda soal kalau kita menyumbang. Ketika menyumbang kita tidak mengharapkan
imbalan atau timbal balik kepada kita yang setimpal. Sedangkan ketika kita
membayar maka kita harus menuntut hak kita secara maksimal sesuai yang telah
kita lakukan dalam kewajiban kita. Sudahkah anda mendapatkan hak anda?
Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.
Kamis, 20 September 2012
Ketika Kelingking Jakarta Menjadi Ungu
Jari kelingking telah dicelupkan. Warna ungu menempel di kulit yang kasar atau pun halus. Kertas-kertas penuh bolongan dihitung satu persatu sebelum menjadi tumpukan sampah yang entah akan dibakar atau ditimbun. Ibu-ibu rumah tangga mengajak anak kecilnya duduk-duduk di kursi tamu sambil menyaksikan orang-orang, mulai remaja sampai yang sudah sepuh, berlalu-lalang mengotori jari kelingking mereka dengan tinta seperti sebuah pertunjukan sesaat di sebuah kampung yang sumpek dengan bau selokan yang menyengat. Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua telah dilaksanakan.
Pesta demokrasi itu telah diikuti oleh ribuan remaja dan dewasa, oleh mereka mengenal calon dari siaran televisi, mereka yang tahu karena diceritakan oleh orangtua, atau mereka yang mengikuti jalannya kampanye calon sambil dengan seru berdebat dengan kawan-kawannya setiap kali menyinggung perbincangan seputar pemilukada DKI Jakarta. Bahkan warga Jakarta yang sedang berkelana di luar kota atau luar negeri yang tidak bisa turut serta dalam pemilukada ini sangat antusias mencari tahu hasil quick count.
Dalam hasil quick count yang telah dimumkan di TV sampai tweet para remaja di twitter, Jokowi-Ahok memenangkan perolehan suara di putaran kedua ini. Sebuah hasil yang bagi banyak orang tidaklah mengagetkan. Fauzi Bowo kalah dalam adu popularitas. Ya, popularitas. Bagaimana kemudian dengan perang visi misi? Apakah betul Foke kalah ketimbang Jokowi?
Pada rentang waktu putaran pertama dan putaran kedua masyarakat bukanlah disajikan sebuah pertarungan visi misi yang menggiurkan untuk dipikirkan sebagai bahan memilih calon pemimpin mereka. Masyarakat malah dipertontonkan perang SARA yang membawa unsur agama dan ras. Apakah anda melihat itu indah adanya? Atau mungkin kita sebagai masyarakat Jakarta malah lebih tertarik dengan pertarungan macam itu? Bisa saja demikian karena unsur yang berbau SARA terkadang sangat menarik untuk diperdebatkan dan menarik minat untuk membawa konflik ke permukaan.
Menurut Samuel P. Huntington, interaksi politik dunia saat ini bukanlah berasal dari perang ideologi. Dunia saat ini lebih digerakkan oleh konflik antar peradaban yakni agama dan ras. Agama terutama, merupakan penggerak yang paling kuat dalam mengatur sebuah masyarakat sampai pada taraf politis. Dan hal itu bisa kita lihat dengan apa yang terjadi dalam masa pemilihan calon gubernur baru DKI Jakarta ini.
Kalau konsep dunia yang diungkapkan oleh Huntington kita sempitkan sebatas lingkup DKI Jakarta saja maka kita bisa melihat bagaimana memang kita sebagai masyarakat sangat terpengaruh dengan isu ras dan agama. Bila kita bayangkan secara sederhana saja maka saya bisa mencontohkan sebagai berikut. Banyak di antara kita yang tiba-tiba mengikuti jalannya pilkada karena ada isu SARA yang naik ke permukaan. Apakah anda satu di antaranya? Apakah sebelumnya anda mengikuti dan telah mengenal visi misi dan program para calon? Jika memang anda menjadi tertarik dengan berita seputar pilkada karena ada unsur SARA yang menurut anda sangat seru berarti anda sendiri sebagai masyarakat akan sulit untuk melihat seorang pemimpin secara objektif.
Itu semakin diperparah oleh media yang memang saat ini sangat diuntungkan dengan berita-berita semacam ini dan tentu saja semakin membuat panas suasana yang ada di tengah masyarakat. Majunya social media juga semakin membantu percepatan informasi termasuk provokasi. Calon yang diuntungkan hanya tinggal duduk sambil tersenyum melihat masyarakat yang ternyata belum bisa berpikir maju mudah terprovokasi.
Jika tak ada kesalahan dalam perhitungan quick count maka bisa dipastikan bahwa Jokowi adalah pemimpin baru Jakarta. Banyak orang-orang yang tidak rugi telah membeli baju kotak-kotak di pinggir jalan atau di mobil-mobil keliling yang berhenti di tempat-tempat secara acak. Apakah janji-janjinya dan kredibilitasnya yang katanya telah teruji di kota Solo mampu merubah Jakarta sesuai keinginan masyarakat?
Yang menarik disini bagi saya adalah kekalahan Foke berarti juga kekalahan Demokrat. Secara tidak langsung DKI Jakarta akan dipimpin oleh partai oposisi. Seperti yang kita tahu Jokowi-Ahok adalah pasangan yang diusung oleh PDIP dan Gerindra. Sangat menarik untuk diikuti karena Jakarta adalah kota yang di dalamnya berisi inti pemerintahan negara. Negara yang dikuasai Demokrat dan Jakarta yang dipimpin lawannya. Akan menjadi seperti apakah perpolitikan di Jakarta kedepannya?
Pemerintahan Jokowi nanti tentu saja akan dipengaruhi oleh partai pengusungnya. Melihat dasar ilmu Jokowi yang kehutanan tentu akan sulit bagi dirinya jika tidak dibantu oleh para ahli perkotaan dalam menata kota Jakarta. Dan bantuan itu bisa saja dan tidak mungkin akan dimonopoli oleh partai-partai pendukungnya. Ini bisa saja menjadi tantangan warga Jakarta untuk turut berpartisipasi mengawasi jalannya pemerintahan di Jakarta agar tidak menyeleweng ke kepentingan kelompok tertentu atau hanya sebagai alat penjaring kekuasaan semata.
Namun pada dasarnya siapapun yang terpilih akan mengemban amanat dan harapan dari masyarakat Jakarta yang telah lelah, basah, dan frustasi karena macet, banjir, dan kesenjangan sosial yang menyelimuti setiap saat ketika panas udara Jakarta mengenai kulit kita yang mulai menghitam. Bukan tidak mungkin memimpin Jakarta adalah awal untuk pada nantinya mengambil bagian dalam jajaran penguasa Indonesia. Sekali lagi, bagaimanapun juga ini hanya opini saya.
Langganan:
Postingan (Atom)