Jumat, 22 Juni 2012

Pacaran Itu Asik ?

Ada banyak pembaca saya yang bilang kalau banyak tulisan saya yang serius-serius banget. Setelah lama tidak nge-post lagi, kali ini saya ingin membahas sebuah masalah secara santai. Di tulisan saya yang kali ini saya ingin membahas mengenai opini saya terhadap persoalan yang begitu melekat di semua diri manusia. Untuk remaja persoalan ini bahkan begitu mengatur keseharian mereka, sampai-sampai ada yang bunuh diri karenanya, asmara.

Masalah cinta-cintaan tampaknya menjadi sebuah bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan remaja dan juga dewasa. Usia SMP kita mulai mengenal apa itu pacaran dan semacamnya. SMA kita tumbuh sejalur dengan perkembangan mental dan hasrat kita. Usia kuliah romantisme itu semakin ada dan terus setelahnya. Tak perlu kita pungkiri, rasa cinta atau bahkan rasa sakit karena cinta adalah satu hal pokok pembentuk kehidupan kita.

Pernahkah anda pacaran? Atau mungkin sudah berapa kalikah anda berpacaran? Atau mungkin anda belum pernah berpacaran? Yang mana pun, itu semua adalah pilihan kita. Pilihan kita untuk menjalin sebuah hubungan yang disebut lebih dari sebuah pertemanan. Hubungan romantis antara lawan jenis. Namun terkadang banyak di antara kita yang tak menyadari bahwa itu juga adalah pilihan untuk diri kita direpotkan karenanya.

Direpotkan? Benarkah begitu? Baik si wanita atau si pria dalam sebuah hubungan pastilah, tanpa perlu diingkari, menjadi direpotkan oleh urusan atau permintaan dari si kekasih. Masalahnya disini adalah terkadang yang menjalin hubungan itu tidak mau direpotkan. Hanya untuk senang-senang, tak jarang sebuah hubungan pacaran dijalani.

Era globalisasi turut merancang gaya hidup seperti itu. Mempunyai pacar terkadang menjadi sebuah obsesi. Tak ada rasa yang harusnya ada. Bahanya adalah ketika rasa itu hanya ada pada satu arah saja, dimana hal itu yang sering memancing stress dalam diri. Anak muda yang labil emosinya menjadi tidak tahu bagaimana menjaga perasaan mereka. Gaya hidup berpacaran menjadi sebuah tekanan bagi sebagian orang.

Tak berhenti memikirkan sang pacar, dibuat kesal oleh pacar, emosi menjadi tak terkendali, dan juga yang sering disebut oleh kita sekarang ini, galau. Di luar banyak kepentingan lain yang perlu dikerjakan, kita sibuk memikirkan hal-hal mengenai perasaan itu. Ini juga bisa terjadi pada mereka yang bahkan belum berpacaran atau baru sebatas suka atau disebut gebetan.

Tapi apakah berpacaran hanya untuk senang-senang saja? Di luar hal-hal negatif yang sering dikatakan oleh orangtua tentang sebuah hubungan pacaran, berpacaran memiliki hal positif dalam perkembangan diri seseorang. Anda yang sedang atau pernah berpacaran pastilah lebih mengerti bagaimana caranya memberi perhatian bagi lawan jenis anda.

Seorang pria yang memiliki pacar bisa lebih mengerti tentang perempuan dibanding mereka yang sendiri atau jomblo. Mengapa? Keintiman yang terjalin secara tidak langsung memberikan kita pengajaran akan tingkah laku, sifat, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan lawan jenis kita. Rasa pengertian itu bisa menular ke perhatian kita ke saudara kita atau kerabat kita.

Jadi, pacaran itu tidaklah buruk. Yang buruk adalah ketika itu membuat kita menjadi pribadi yang buruk dengan berbagai sisi negatifnya. Orang bisa berubah karena berpacaran, juga terutama ketika mereka memutuskan hubungan dengan pacarnya. Tapi perubahan ini hanya untuk mereka yang memang menanam dan menjaga perasaan cintanya saat hubungan itu terjalin.

Banyak di antara mereka yang menjalin sebuah hubungan takut untuk putus. Tentu saja, kalau tidak berarti bisa dipastikan hubungan itu hanya main-main semata. Yang membuat saya bingung adalah ketika seseorang berpacaran tapi sudah memikirkan 'jika nanti putus..' Mereka menjalin hubungan yang mereka sudah ketahui akan mereka akhiri nantinya. Itu menjadi tidak adil ketika di sisi lain, pasangannya tidak memikirkan akan hal itu.

Apakah anda memikirkan bahwa pacar anda sekarang ini hanyalah bagian kecil dari kehidupan anda ataukah benar merupakan kado spesial dari Sang Pencipta untuk membuat hidup anda menjadi berwarna? Kalau anda berpikir yang pertama, maka anda secara tidak langsung membuang waktu pasangan anda secara percuma selama masa anda bersama. Dia yang memikirkan untuk keluar dari ruang hubungan anda, di sisi lain anda sudah tahu dimana pintu keluar itu berada.

Tak pernah ada perpindahan yang mudah. Tempat yang lama akan selalu menjadi pembanding. Seperti sebuah hubungan dimana jika kita putus dengan seseorang maka kita akan menjadikan orang itu sebagai acuan. 'Jangan sampai seperti itu lagi..' 'Semua cowo emang pasti begitu...' 'Kalau dia pasti sudah langsung...' 'Gak kayak eks gua, dia mah..' dan lain sebagainya adalah ekspresi yang akan keluar ketika kita terus saja membandingkan keadaan kita yang sekarang dengan saat kita bersama mantan kekasih kita.

Memang tidak mudah untuk melupakan. Tetapi terus menanti sesuatu yang anda tak tahu adalah membuang waktu. Kita juga harus tahu kapan harus berhenti.

Kalau anda mencari sebuah kecocokan, anda mencari sesuatu yang tak akan datang. Dalam tulisan saya 'Cocok Itu Dusta' http://fragmented-mind.blogspot.com/2011/11/cocok-itu-dusta.html telah saya katakan bahwa kecocokan itu adalah berasal dari diri kita sendiri. Itu adalah adaptasi dari kemauan dalam diri untuk menerima pasangan kita.

Pernah menonton film The Notebook? Ada sebuah dialog yang sangat berkesan untuk saya.

Noah   : Would you just stay with me? 
Allie    : Stay with you? What for? Look at us, we're already fightin' 
Noah   : Well that's what we do, we fight... You tell me when I am being an arrogant son of a bitch and I tell you when you are a pain in the ass. Which you are, 99% of the time. I'm not afraid to hurt your feelings. You have like a 2 second rebound rate, then you're back doing the next pain-in-the-ass thing. 
Allie    : So what? 
Noah   : So it's not gonna be easy. It's gonna be really hard. We're gonna have to work at this every day, but I want to do that because I want you. I want all of you, for ever, you and me, every day. Will you do something for me, please? Just picture your life for me? 30 years from now, 40 years from now? What's it look like? If it's with him, go. Go! I lost you once, I think I can do it again. If I thought that's what you really wanted. But don't you take the easy way out. 

Pertengkaran itu hal biasa dalam sebuah hubungan. Jangan jadikan sebuah pertengkaran sebagai alasan untuk menyelesaikan hubungan anda. Mengapa bisa ada kakek dan nenek yang bisa bertahan sampai dengan usia sepuh mereka? Karena mereka terus memperbaiki retakan yang ada dikala pertengkaran itu terjadi. Bukan mengambil bendera putih dan langsung menyerah tanpa adanya perjuangan untuk memperbaiki.

Tetapi lebih memilih sendiri juga sebuah pilihan. Banyak hal pula yang bisa dilakukan dengan seorang diri. Banyak yang mengatakan bahwa saat berpacaran kita kehilangan kebebasan. Menurut saya itu hanya pola pikir saja dan tergantung juga pada cara kita menjalin hubungan. Pacar itu bukanlah barang melainkan tetap seorang individu yang perlu ruang untuk diri sendiri.

Menjaga perasaan adalah hal yang palig penting dalam sebuah hubungan. Jalinlah hubungan yang berdasar pada sebuah perasaan. Orang yang disakiti secara tidak langsung akan belajar untuk menyakiti, tapi bisa juga sebaliknya tergantung kepribadian masing-masing orang. Karena itu tak perlulah anda memulai sesuatu yang nantinya akan mengakibatkan yang buruk untuk orang lain. Pacar itu ada untuk saling belajar melayani satu sama lain ke depannya. 

Saya adalah orang yang memilih untuk direpotkan oleh pacarnya. Tapi saya tetap senang menjalaninya karena saya tak memikirkan masalah adanya persimpangan dalam apa yang saya jalani. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Senin, 04 Juni 2012

Mi Casa E Su Casa

Apa itu rumah bagi anda? Pasti di dalam hati anda semua anda memendam arti sebuah rumah menurut anda masing-masing. Anda bisa melihatnya sebagai sebuah bangunan, bisa saja sebagai tempat anda tidur, sebagai tempat anda berlindung, sebagai tempat dimana keluarga anda ada, sebagai tempat anda tumbuh, sebagai tempat anda untuk kembali, dan masih banyak arti lainnya yang bisa saja berbeda satu dengan yang lain. 

Rumah bagi saya tidak sesempit sebuah bangunan baik kecil atau besar, tua atau masih baru, kumuh atau mewah, berlantai satu atau lebih, memiliki kamar atau tidak, milik pribadi ataupun menumpang. Rumah memiliki arti yang begitu luas dan tidak terbatas pada sebuah bangunan saja. Mereka yang ada di dalam bangunan kumuh atau mewah itulah yang merupakan rumah sebenarnya.

Bukan bangunanlah yang memberikan kita rasa aman sebenarnya dari sebuah rumah. Bukan kasur empuk atau tikar kasar yang membuat tidur kita begitu nyaman. Hal yang membuat kita aman, dapat tidur dengan nyenyak, dan memiliki dorongan untuk kembali, adalah mereka orang terdekat kita yang berada di dekat kita. Kita merasa bisa tidur dengan nyenyak karena ada mereka bersama kita. Merekalah rumah kita, tempat kita hidup dan tinggal. Zona teraman kita sebagai makhluk sosial.

Tapi apakah orang terdekat kita hanya terbatas mereka yang tinggal bersama kita sehari-hari, orangtua, kakak-adik, atau mungkin kakek dan nenek, sepupu, dan juga anak dan istri untuk mereka yang telah membina keluarga sendiri? Tentu tidak bukan? Kedekatan kita dengan orang di luar keluarga kita sendiri sering membuat keterikatan yang bahkan bisa menyamai keterikatan kita dengan keluarga kita sendiri. Untuk mereka yang belum menikah tentu saja keterikatan dengan kekasih masuk di antaranya. Di luar itu, ada yang kita sebut sahabat. 

Mengapa saya ingin terus menerus bertemu dengan pacar saya? Mengapa saya selalu merasa nyaman dan tenang ketika bersama dengannya? Saat kita bersama kekasih kita, jika kita memang mencintai dia, maka kita akan merasa bahwa ia adalah rumah kita. Hatinya adalah rumah bagi hati kita. Tempat dimana hati kita bisa tenang jika bersama di dekatnya. Sebuah rumah yang dibalut dengan rasa cinta akan membuat kita akan merasa bahwa dia adalah alasan kita untuk kembali bertemu dengannya.

Saya terbiasa menyebut sahabat-sahabat terdekat saya dengan sebutan keluarga. Selain karena memang saya begitu dekat dengan mereka, dengan memanggil mereka dengan sebutan itu saya merasa kedekatan itu semakin nyata. Anda bisa saja memiliki banyak sahabat atau bahkan hanya memiliki satu atau dua sahabat dekat saja. Namun berapapun jumlahnya, sahabat adalah tambahan kakak dan adik dalam hidup kita. Untuk mereka yang menjadi anak tunggal dalam keluarga pasti merasakan begitu berartinya seorang sahabat dalam hidup mereka. Keluarga bukan hanya terbatas pada hubungan darah semata.

Sahabat memiliki rasa sayang yang berbeda dengan pacar kita. Rasa sayang yang membuat kita nyaman berada di dekat mereka. Ada yang bilang bahwa sahabat lebih penting dari pacar. Menurut saya itu tidak salah juga. Seorang sahabat tidak butuh romantisme ataupun penampilan terapih kita. Mereka juga tidak butuh imbalan kita memberi apa. Bisa dikatakan kita menjadi diri kita ketika bersama di rumah kita yang satu ini, sahabat kita. Namun bagi saya, keluarga dan pasangan terbaik seharusnya adalah mereka yang bisa menjadi sahabat kita dalam hidup kita sehari-hari.

Seberapa cinta anda dengan almamater anda? Sekolah atau kampus tak jarang disebut sebagai rumah kedua. Disebut demikian salah satunya karena kita menghabiskan begitu banyak waktu hidup kita disana. Sama layaknya dengan tempat tinggal kita, di tempat itu ada juga orang-orang yang kita sayangi, ada tempat-tempat favorit kita untuk duduk bersantai, ada suasana nyaman yang membuat kita ingin selalu kembali ke tempat itu. Namun ini tidak berlaku untuk semua orang. Ada yang tidak menganggap sekolahnya adalah sebuah sesuatu yang penting dalam hidupnya. Bahkan ada yang benci akan almamaternya atau menghina-hina almamater sendiri. 

Hubungan kita dengan bangunan-bangunan yang kita sayangi berhubungan dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Ketika orang-orang itu membuat kita merasa berada di rumah, maka kita merasa diterima dan bisa memasuki wilayah tempat itu layaknya kita memasuki rumah pribadi kita.

Ada orang yang telah lama tinggal di luar negeri, namun pada akhirnya memilih untuk kembali ke Indonesia. Mengapa? Salah satu alasan yang seorang teman katakan adalah karena ia merasa disinilah, di Indonesia, ia merasa berada di rumah sebenarnya. Dekat dengan sahabat-sahabat, berinteraksi dengan sesama orang Indonesia, sesuatu yang membuat hidupnya lebih nyaman. Sejauh apapun kita pergi, rasa rindu akan rumah akan selalu melekat di hati kita. Begitu juga ketika bagian dari rumah kita pergi, maka kita akan merindukannya.

Kita sebagai pribadi juga harus menjadi rumah yang baik bagi orang terdekat kita. Jangan hanya mengharapkan orang lain menerima anda sedangkan anda selalu menutup pintu anda ketika mereka membutuhkan tempat untuk kembali. Jangan rumah anda sebagai rumah mereka juga, sama ketika mereka menyediakan rumahnya untuk anda.

Sudahkah anda merasa berada di rumah yang sebenarnya? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Senin, 14 Mei 2012

Mungkin Gaga Sedang Tertawa

Siapa di antara anda yang merupakan fans dari Lady Gaga? Jika anda salah satunya, pasti anda sudah gatal dan gemas dengan pemberitaan belakangan ini yang memenuhi baik itu situs berita maupun social media. Penolakan terhadap konser Lady Gaga di Indonesia. Saya yang bukan fansnya saja sampai menghela nafas dengan pemberitaan yang tak kunjung selesai ini.

Saat pertama kali mendengar berita penolakan konser Lady Gaga jujur saya tertawa. Ya, saya tertawa karena menganggap itu adalah salah satu hal yang lucu. Di tengah banyak persoalan yang lebih penting di luar sana, mereka malah sibuk berdemo untuk menolak konser itu. FPI memang sudah sering melakukan hal-hal aneh dan lucu yang tidak biasa, dan salah satunya adalah penolakan terhadap konser ini. Lucu.

Aksi penolakan yang mereka lakukan terus saja dilakukan. Saya berani bertaruh mereka akan terus melakukan aksinya sampai keinginan mereka terwujud. Sudah budaya mereka seperti itu. Seperti anak kecil yang terus merengek sampai diberikan susu. Telinga mereka hanya digunakan untuk mendengar doktrin dari petinggi mereka. Kita seharusnya sudah tahu itu dan melawan mereka seperti melawan orang buta dan tuli.

Kalau FPI mengancam membuat Jakarta chaos, bagi saya itu sangat berlebihan. Walaupun mereka memang sudah terlalu sering membuat sesuatu yang berlebihan, tapi ini terlalu berlebihan. Yang diancam adalah keamanan kota, bukan keamanan konser. Seharusnya Polda perlu menindak aksi ancaman seperti ini. Karena jelas mereka mengancam kita. Siapa mereka? Si Pengadil Indonesia? Tapi yang membuat saya kembali mengelus dada, ternyata Polda malah ikutan menolak konser ini. Bagi saya, yang takut akan ancaman FPI itu bukan fansnya, melainkan Polda.

"Terlalu vulgar ya. Joget-joget pakai bikini di videonya. Itu terlalu vulgar, tidak sesuai dengan budaya kita," jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto. Bagi saya komentar semacam ini menunjukkan bahwa yang kekanak-kanakkan bukan saja FPI tapi juga Polda. Mungkin bagi dia yang tepat dengan budaya kita adalah acara dangdut di kampung-kampung atau pinggir jalan yang dibarengi dengan prostitusi.

Saya takut kalau pemikiran dan cara pandang seperti ini terus berlanjut, lama-lama pantai di Bali akan ditutup atau ada pelarangan mengenakan bikini. Bisa-bisa pariwisata kita bangkrut karenanya. Anda mau menyuruh Lady Gaga bernyanyi sambil menggunakan pakaian tertutup dari atas ke bawah? Sekalian saja suruh dia bernyanyi sambil berjoget menggunakan kebaya agar selaras dengan budaya kita. Sudah jelas budaya kita berbeda dan disanalah letak dunia seni itu sendiri.

Meskipun Polda mengatakan bahwa mereka mendapat masukan dari MUI dan Politisi DPR, seharusnya Polda lebih bisa berpikir dengan jernih dan rasional. Saya tak percaya kalau tekanan dari FPI tidak mempengaruhi pendapat mereka. Sudah menjadi rahasia umum kalau kepolisian seakan-akan tidak mau untuk menindak FPI. Untung saja Kementrian Pariwisata lebih bisa berpikir secara dewasa dibandingkan mereka sehingga masih ada yang bisa dijadikan pegangan oleh para fans Lady Gaga.

Kalau kita berbicara soal vulgar, semua itu ada di otak kita. Kalau kita merasa itu adalah gerakan erotis, berarti otak kitalah yang hanya bisa berpikir mengenai pornografi. Pertanyaannya adalah mengapa dulu bintang porno Jepang dibiarkan bermain film yang diputar di dalam negri? Mengapa film esek-esek yang jelas dimainkan oleh anak negri yang jelas juga mengumbar erotisme dibiarkan saja? Mengapa juga dangdutan prostitusi yang jelas-jelas ada tidak mereka serang? Apa mereka langganannya sehingga acara seperti itu aman-aman saja? Yang porno itu mereka, karena yang diidolakan oleh fans ataupun pecinta Lady Gaga adalah kreativitasnya maupun sisi seni dan prestasinya. Bodoh kalau seseorang menjadi nafsu kalau menonton Lady Gaga.

Lebih banyak hal penting yang perlu diurus dan diserang dibandingkan konser ini. Hal-hal kontroversi semacam ini tak perlulah terus-menerus dipersoalkan. Kedatangan Lady Gaga juga bisa positif bagi industri pariwisata kita karena dunia bisa lebih mengenal Indonesia ini. Seharusnya kita bangga negara kita mau didatangi oleh salah satu ikon musik dunia, bukan malah menolak dengan tidak rasional seperti ini.

Jika selama ini selalu saja organisasi dari satu agama yang dijadikan bahan acuan opini, mengapa tidak ditanyakan ke organisasi agama yang lain? Kita lihat bagaimana tanggapan mereka. Kita ini negara beragam, jangan hanya menilai dari satu sudut pandang saja. 

Saya paling tidak suka jika ada yang membawa-bawa agama dalam aksi mereka. Keluarlah dari Indonesia jika masih saja berlandaskan hukum suatu agama semata. Kita ini negara beragam agama dan budaya. Kelompok kecil yang membuat noda seharusnya dihilangkan saja dan tidak diberi ruang untuk bermain-main.

Kalau terus saja seperti ini, negara kita bisa buruk di mata dunia. Negara kolot yang bisa ditertawakan negara lain. Pemikiran primitif seperti yang ada sekarang ini perlu ditumpas agar kita bisa maju. Penumpasanpun harus dilakukan secara nyata, jangan hanya opini semata. Toh sudah jelas organisasi FPI sudah banyak melakukan keonaran, butuh apa lagi?

Lady Gaga memang sering melakukan kontroversi. Tapi saya tidak mengira sampai negara kita ikut-ikutan di dalamnya. Bagi saya ini bukan saja masalah para fans Lady Gaga semata, namun juga kita yang merasa bahwa tidak benar aksi penolakan ini. Pemerintah seharusnya membantu para fans untuk masalah ini. Karena Polda sepertinya tidak bisa terlalu diharapkan, meskipun saya juga ragu ada kekuatan besar yang mau untuk menindak aksi FPI.

Semoga saja tiket yang terjual tidak menjadi sia-sia dan konser dapat tetap berjalan sesuai rencana. Saya bukan fans ataupun orang yang berniat untuk membeli tiket konser itu, tapi saya cukup menyukai lagu-lagunya dan tahu bahwa penolakan ini adalah sebuah kekonyolan yang tak bisa dibiarkan. Kekonyolan yang mungkin membuat Lady Gaga tertawa saat mendengarnya. Namun bagaimanapun juga, ini hanya opini saya.

Rabu, 02 Mei 2012

Kita Diperkosa Malaysia

Pernahkah anda memendam rasa benci terhadap seseorang atau kelompok? Entah itu karena patah hati, disakiti, pengalaman buruk, dihianati, dicaci, dan lain-lain. Tak terbatas alasan kita bisa membenci. Dan tak harus melulu manusia yang kita benci. Bisa saja kita membenci hewan, barang, tempat, atau apapun termasuk bahkan sebuah negara. Dan saya saat ini menjadi salah satu orang yang membenci sebuah negara. Malaysia.

Mengapa? Jika anda semua mengikuti jalannya berita tentang kasus-kasus yang menyeret negara tetangga kita itu seharusnya kita semua merasakan kesedihan atas perlakuan yag diterima oleh negara kita. Mulai dari lagu atau budaya seni kita seenaknya diatasnamakan asli mereka, batas-batas negara yang tidak digubris, penindasan terhadap TKI kita yang  berada disana, sampai yang terakhir penembakan dan penjualan organ dalam warga kita disana. 

Kasus-kasus tersebut di atas cukup bagi saya untuk menciptakan rasa pedih di dada terhadap bangsa ini. Dan juga tak ketinggalan rasa amarah terhadap negara tetangga itu. Sebuah negara adalah seperti keluarga yang sangat besar. Seorang ayah seharusnya akan marah ataupun menindak siapapun yang menyakiti atau bertindak sewenang-wenang terhadap anak ataupun keluarganya. Dan negara ini adalah ayah atau orangtua dari kita-kita masyarakat Indonesia, termasuk para TKI kita. Tapi apakah negara sudah menjadi ayah yang baik?

Selama kita mendiamkan tindakan mereka atau tidak memprosesnya secara tegas dan cepat, rasa takut tidak akan ada dan akan terjadi hal-hal menyedhkan lainnya. Mereka bukan lagi hanya sekedar "Maling", tapi mereka juga "Pemerkosa" bangsa kita. Apakah kita mau terus diam daja dan melihat bagian-bagian tubuh bangsa ini seenaknya dipermainkan oleh mereka? Bahkan sampai nyawa TKI kita hilang begitu saja?

TKI adalah pahlawan kita semua. Namun jangan hanya jadikan itu sebagai wacana saja. Seorang pahlawan pasti dihormati oleh negaranya. Namun apa yang terjadi pada TKI kita? Sudah terlalu banyak kasus penindasan dan penganiayaan yang menimpa mereka disana. Namun sampai sekarang tidak juga ada titik terang untuk keamanan mereka disana. Kalau memang mereka kesana hanya untuk disiksa, lebih baik laranglah saja pengiriman TKI ke Malaysia. Keamanan warganegaranya adalah tanggungjawab pemerintah sebagai pengatur negara. Dan jangan berpikir bahwa satu nyawa TKI yang hilang hanyalah rongsokan semata yang tak perlu dipedulikan meskipun telah hilang dimakan waktu.

Apa pemerintah takut? Apa pemerintah merasa ini masalah sepele? Atau pemerintah malas? Bisa saja semua dari itu adalah termasuk alasannya. Bukan saatnya lagi kita lembek terhadap Malaysia. Tunjukan kewibawaan kita sebagai bangsa. Kita bangsa yang besar, jangan mau dipermainkan hanya oleh mereka yang bahkan lagu daerah saja mereka curi dari bangsa lain, bahkan tetangga mereka sendiri.

Perlindungan terhadap TKI, batas wilayah, dan ornamen-ornamen kebangsaan kita adalah tugas sekaligus kewajiban kita terutama pemerintah. Kalau pemerintah ingin berwibawa di depan bangsanya sendiri, tunjukkanlah dengan penindaka terhadap tindakan-tindakan yang menghina negara kita. Kalau untuk kasus-kasus yang didalangi oknum Malaysia saja pemerintah lembek dan tidak tegas, bagaimana rakyat bisa percaya pada pemerintah?

Kita tidak boleh membiarkan negara ini terus direndahkan seperti ini. Dan pemerintahlah palang pintu pertama untuk menyelesaikan penghinaan ini.

Kalau pemerintah berkata sedang diproses, atau tidak cepat dan sebagainya, saya rasa itu hanya alasan klise memuakkan yang membuat perut ini mual. Kalau memang perlu penyidikan, ya lakukanlah dengan cepat. Menangkap teroris saja bisa dilakukan dengan gencar dan cepat, seharusnya menindak pelaku dari Malaysia atau tindakan-tindakan mereka juga bisa dilakukan dengan cepat. Rakyat sudah sangat gemas dan emosi terhadap perlakuan Malaysia terhadap kita. Jika pemerintah memang memiliki rasa Indonesia, mereka seharusnya bisa merasakannya dan seharusnya bisa melakukan tindakan yang tepat dan tegas.

Saya terkadang bingung, apakah mereka tidak merasa malu sebagai sebuah negara? Mereka mencuri apa yang bukan milik mereka, warganya menindas warga negara lain, mereka seenaknya melanggar batas-batas wilayah kita, apa mereka tidak malu? Ataukah memang mereka telah memandang negara kita rendah sehingga tidak ada rasa takut sedikitpun di benak pemerintah mereka.

Beberapa kali tim sepakbola kita kalah oleh Malaysia. Saya rasa kekesalan Indonesia tidak hanya karna kekalahan itu, melainkan karna lawannya adalah Malaysia. Karna rakyat bertanya "Mengapa kita harus kalah dari Malaysia? Penjahat itu!". 

Saya akan mengutip pidato Soekarno "Ganyang Malaysia" untuk anda resapi,

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!


Silahkan saja jika anda merasa memang hal ini tidak penting dan bukan urusan anda. Toh Malaysia tempat favorit untuk anda berjalan-jalan? Jujur saja saya tidak pernah ke Malaysia dan sepertinya tidak mau kesana. Indonesia lebih kaya dan lebih banyak tempat-tempat indah dibandingkan pemerkosa bangsa itu. Saya cinta negeri ini dan karna itu untuk saat ini, saya benci Malaysia. Dan setiap saya membaca pidato di atas tadi, tubuh ini seolah terbakar sekaligus pedih melihat yang terjadi saat ini. Tapi sekali lagi, bagaimanapun juga ini hanya opini saya. 

Kamis, 19 April 2012

Pembalap Yang Tersasar

"Jangan pulang malan-malam, lagi rawan!" "Jangan lewat jalan situ kalau pulang, bahaya!" Kalimat-kalimat itu belakangan sering hinggap di telinga saya. Mungkin anda juga dinasehati demikian oleh orangtua anda. Tak ada yang lain selain aksi geng motor yang melatarbelakangi rasa was-was mereka. Keamanan seakan menjadi langka.

Tapi saya yakin anda juga tidak baru sekarang-sekarang ini mendengar berita seputar geng motor. Sudah cukup lama kita mengenal mereka dengan aksi-aksi brutal yang sering diidentikkan dengan mereka. Namun yang membuat aksi mereka akhir-akhir ini begitu heboh adalah korban dari aksi tersebut ada yang merupakan anggota TNI. 

Semua media mengekspos berita tersebut. Polisi dihujani pertanyaan dan tandatanya dari masyarakat. TNI yang dikait-kaitkan dengan aksi geng motor tersebut juga sibuk membantah dan melakukan perlawanan terhadap statement yang memojokkan mereka. Masyarakat? Sibuk was-was.

Kalau kepolisian kita begitu cepat dalam melakukan penanganan terhadap teroris, mengapa untuk masalah geng motor begitu lama dan terkesan tak ada tindakan tegas? Jika dari dulu kepolisian telah waspada terhadap hal-hal semacam ini, maka kekhawatiran masyarakat saat ini tak perlu terjadi. Takut? Bisa saja.

Begitu miris melihat anak-anak muda itu memegang senjata bahkan menggunakannya untuk mengeroyoki orang-orang. Tangan yang bisa mereka gunakan untuk bekerja, hanya dimanfaatkan untuk membuat lebam-lebam di sekujur tubuh korban dan sasaran mereka. Apa yang mereka cari?

Mereka adalah orang-orang yang tak memiliki pekerjaan. Diberitakan bahwa ketua-ketua mereka dicurigai adalah orang-orang yang bekerja di bengkel. Senjata-senjata mereka ada yang memasok. Bisa kita simpulkan mereka adalah kelompok-kelompok yang solid. 

Kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang hobi dengan balap-balapan, saya rasa tidak juga. Mungkin memang balapan liar adalah hal yang tak bisa dilepaskan dari mereka, namun dari tindakan yang mereka lakukan, premanisme lebih ditonjolkan. Dibanding untuk tanding balap, mereka lebih menonjolkan kepalan tangan mereka untuk menonjoki mereka yang dianggap musuh. Mereka tak lain adalah sekelompok orang yang senang berkelahi atau lebih tepatnya, senang mengeroyoki orang. 

Adalah hal sulit jika anda ingin mengubah perilaku mereka dari pendekatan psikologi. Mereka adalah pemuda-pemuda dengan emosi tak terkendali yang akan mengikuti doktrin-doktrin petinggi mereka. Kata-kata dari petinggi mereka atau panglima mereka tak ada yang bisa membantah. Dan sekali lagi, mereka sama-sama punya kesenangan, berperilaku preman.

Kalau anda ingin menarik latarbelakang mengapa mereka bisa menjadi seperti itu, banyak hal yang bisa dihubungkan. Tingkat ekonomi, penerimaan di masyarakat, pergaulan adalah 3 hal yang saya rasa paling dominan dan berhubungan.

Pergaulan di tingkat ekonomi yang rendah tak dapat dipungkiri lagi, sangatlah buruk. Norma kesusilaan telah ambruk. Mengapa? Rasa frustasi terhadap kehidupan yang sudah menumpuk membuat tak ada lagi pintu untuk kebaikan. Orangtua sebagai palang pertama mereka bahkan tak jarang memperlakukan mereka dengan salah dan tak jarang membuat mereka merasa tak diterima. Tingkat pendidikanpun menjadi akarnya dengan tidak dipedulikan lagi. Kata harapan untuk hidup lebih baik hanya omong kosong bagi mereka. 

Dengan tingkat ekonomi yang rendah, tak banyak juga hiburan yang mereka bisa dapatkan. Anda tak bisa membandingkannya dengan anda yang hidup dengan jalan yang lurus-lurus saja. Tak ada lahan untuk mereka berkembang ke arah yang benar. Tonggak kehidupan mereka tak berpondasi. Hiburan untuk mereka adalah dengan membuat keisengan-keisengan dan perilaku-perilaku menyimpang yang bisa memberikan kepuasan pada mereka. Dan mereka merasa tindakan itu adalah menyenangkan. Pelarian? Tak salah juga kalau disebut demikian.

Dan ketahuilah, semakin mereka dikucilkan, semakin mereka berkembang ke arah yang tak mungkin bisa dikembalikan. Mereka yang malah tak diterima oleh masyarakat akan semakin solid dengan kelompok mereka dan menjadi lebih mudah terpengaruh oleh doktrin-doktrin yang salah. Teman sepenanggungan mereka bisa saja yang malah menjerumuskan mereka, tanpa mereka sadari.

Saya pribadi begitu miris mendengar salah satu taruhan mereka di ajang balap mereka adalah wanita. Begitu bobroknya perilaku mereka. Mereka sudah terlalu jauh mengambil jalan yang salah. Dan kalau hanya polisi memble yang bertindak, mereka bisa berlari lebih jauh.

Prioritas sekarang adalah menangkap dan memberikan efek jera. Mereka bisa melakukan itu semua sampai saat ini karena tak memiliki rasa takut terhadap aparat atau negara. Tak ada figur yang bisa menakuti mereka dalam melakukan aksinya. Dan ya memang demikian adanya. Ini sangat lucu jika melihat presiden kita merupakan pensiunan militer. 

Polisi yang suka mengumbar-umbar keberhasilan seharusnya juga tak boleh mengesampingkan kasus geng motor ini. Ini adalah salah satu saat yang tepat untuk mempertontonkan kredibilitas mereka kepada masyarakat dengan menumpas aksi tersebut. Bertindaklah tegas dan tangkap semua yang terlibat. Saya juga setuju pada saran untuk menarik semua SIM mereka. Jangan berikan ruang untuk mereka bisa bertindak anarkis lagi. Perketat penjagaan di malam hari dan jangan hanya saat berita sedang naik saja. 

Kesalahan polisi kita dalam semua jenis kejahatan adalah menangkap dan menghukum lebih utama dibandingkan mencegah. Harus saja ada korban terlebih dahulu baru mereka bertindak. Padahal seharusnya rasa aman diberikan tanpa harus terlebih dahulu ada ancaman. Polisi terlalu memberikan banyak ruang untuk perilaku kejahatan termasuk anarkisme geng motor ini. Cegah sebelum terjadi.

Tapi tentu saja ini adalah masalah kita bersama. Bangunlah kebersamaan yang baik dan bergaulah dengan harmonis. Keresahan ini adalah keresahan kita bersama dan tentu saja harus diperangi bersama. Perilaku apatis hanya akan membuat mereka kuat dan kita tak tahu siapa yang akan jadi korban berikutnya.

Untuk orangtua, bimbinglah anak-anak anda dengan cara yang bisa mereka terima, setidaknya berusahalah. memang tak jarang manusia sulit menunjukkan rasa kasih sayangnya dan malah memakai cara yang salah. Dekati anakmu bukan tampari anakmu.Untuk guru-guru, bimbing siswamu, bukan hanya berpikir untuk menghukum siswamu. Untuk para anak muda yang merasa bersyukur hidupnya baik-baik saja dan tak melenceng, cobalah mengerti dan pahami mereka yang kurang, bukan menjauhi dan mendiskreditkan mereka. Biarlah menghukum menjadi tugas polisi dan aparat lainnya. Kita sebagai rakyat biasa bertugas mengarahkan mereka.

Untuk saat ini sebisa mungkin turuti saja kata-kata yang dikeluarkan orangtua anda seperti yang saya tulis di awal tadi. Kita harus menghindari apa yang masih bisa kita hindari. Mereka memang ada di antara kita. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.

Minggu, 01 April 2012

Kekalahan yang Sesungguhnya

Kisruh BBM telah mendapatkan keputusan. Rapat Paripurna beberapa hari lalu telah menetapkan sebuah keputusan. Ditetapkanlah pasal 7 ayat 6A Rancangan Undang Undang tentang Perubahan Anggaran pendapatan dan Belanja Negara 2012. Rapat yang berjalan kekanak-kanakkan tersebut disiarkan ke seluruh pelosok negeri. Secara transparan masyarakat dapat melihat pertengkaran politik antara dua kubu yang bertolak belakang. Jika anda menonton tontonan tersebut, anda juga pasti melihat aksi walk out dua fraksi dari sidang tersebut.

Mahasiswa bercampur massa dari beragam latar belakang dalam beberapa hari berteriak-teriak di beberapa titik penting ibu kota. Bentrok dengan aparat keamanan bahkan tak dapat dielakkan. Mereka yang bahkan tak tahu alasan mereka berteriak-teriak ikut melempari aparat dan menghabiskan tenaga dan keringat mereka untuk melawan kenaikan BBM. Ya, inti dari semua yang mereka lakukan adalah menolak kenaikan harga BBM.

Para pakar banyak yang mengutarakan pendapatnya di media atau bahkan berdebat alot dan panas di televisi. Mereka tentu saja memegang pendapat mereka dan berusaha mengutarakannya kepada masyarakat. Tapi masalahnya, apakah rakyat benar-benar mengerti? Menurut saya rakyat kecil hanya berpikir satu, harga BBM naik berarti mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak. Harga barang-barang akan naik dan mereka merasa akan semakin sengsara. Jadi mereka tidak peduli apakah harga minyak kita memang sudah murah dibandingkan negara lain di dunia atau alasan-alasan yang dikeluarkan pemerintah. Yang mereka tahu, harga naik, berarti mereka makin sengsara.

Para mahasiswa dan rakyat kecil itu tak berhenti meneriakkan kepada pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM. Tidak menyerah. Kata tidak menyerah ini yang ingin saya garis bawahkan. 

Sekarang mari kita lihat mereka yang berjuang dan mengatakan mewakili aspirasi rakyat kecil di DPR kemarin itu. Ya, mereka memang melawan. Tapi apakah sampai akhir? Itu yang jadi masalah. Saya ingin menyoroti kepada mereka yang melakukan walk out. Saya merasa tindakan mereka tidak tepat. Jika memang mereka ingin berjuang sampai akhir, kenapa mereka harus keluar sidang? Kalau mereka memang tidak menyerah tunjukkanlah sampai akhir. 

Perjuangan mereka sangat kekanak-kanakkan. Mereka tidak memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat. Setiap perjuangan harus siap akan semua hasil yang didapatkan. Kalau mereka sebelum keluar ruangan meminta maaf kepada masyarakat dan mengatakan sudah berjuang semampunya, saya tidak menganggap itu hebat dan justru sebaliknya. Saya sangat salut dengan partai yang bertentangan dengan pemerintah seperti GERINDRA yang tetap stay di tempat sampai sidang selesai. Sikap mereka adalah sikap seorang pemimpin. Meski tahu mereka akan kalah tapi mereka tetap menunjukkan sikap sportif dan profesional sebagai wakil rakyat.

Apa yang dilakukan GERINDRA atau mungkin PKS sangat baik dan memberikan pelajaran kepada masyarakat. Tidak masalah apakah itu cara pencitraan dari mereka. Kalaupun memang demikian berarti citra mereka terbangun dengan baik. Karena mereka berjuang dengan cara yang seharusnya. Wakil rakyat seperti itulah yang kita butuhkan. Perbedaan pendapat itu adalah hal yang biasa dan juga merupakan akar dari demokrasi kita. 

Semoga saja ke depannya aksi walk out seperti itu tidak lagi ditampilkan. Dengan melakukan aksi walk out justru menunjukkan mereka telah kalah. Bukan karena hasil voting, namun karena mereka tak bisa menerima apa yang akan mereka dapati. 

Untuk apa semua bentrokan itu kalau ujung-ujungnya mereka menyudahi semuanya dengan keluar ruangan?  Justru tindakan mereka yang keluar itu seperti mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan lagi kepada masyarakat. Dan itu sangat tidak boleh ditunjukkan oleh para wakil rakyat. Kesempatan mereka untuk duduk di ruang itu seharusnya mereka gunakan dengan benar dan maksimal karena tidak semua orang bisa berada disana. Rakyat membutuhkan mereka yang bisa bertahan sampai akhir untuk menyampaikan aspirasi mereka dan mengatakan "masih ada harapan untuk kita". 

Aksi walk out hanyalah salah satu dari beberapa hal yang menurut saya memalukan dari sidang kemarin. Anda yang menontonnya pasti tahu bagaimana sidang itu tak ada bedanya seperti kumpulan anak kecil yang saling bertengkar dan tak tahu aturan.

Teriakan-teriakan rakyat seperti disudahi dengan hasil yang tak jelas. Memang harga BBM tidak naik sekarang, namun bukan berarti tidak akan naik karena pemerintah telah diberikan kewenangan untuk menyesuaikannya. Kita tinggal melihat saja ke depannya apakah memang harga akan naik atau tidak. Kalau memang pemerintah masih memiliki etiket baik maka seharusnya penghematan dan cara-cara lain bisa diusahakan. 

Sekali lagi, tak ada perjuangan yang sia-sia kalau memang dilakukan sampai batas terakhir. Apa pendapat anda? Bagaimanapun juga ini hanya opini saya. 

Kamis, 22 Maret 2012

Butuh Kenyamanan Hanya Alasan

Dalam posting kali ini saya ingin mengajak anda para pembaca sekalian untuk mengambil sesuatu dari foto yang saya ambil beberapa saat lalu ini. 

Cobalah dahulu perhatikan foto ini secara seksama. Lihatlah apa yang sedang dilakukan oleh anak kecil itu.

Foto ini saya ambil di sebuah jembatan penyebrangan atau jembatan halte busway. Saat itu sekitar pukul setengah delapan malam. Saya yang ingin pulang dengan menaiki transportasi busway mendapat pembelajaran berharga dengan menemui anak ini, atau paling tidak sekedar melihat dan berpapasan dengan anak ini.

Menurut anda, kira-kira apa yang sedang dilakukan bocah ini? Meminta-minta? Ya, tentu dapat langsung dilihat bahwa dia adalah salah satu anak jalanan yang harus meminta-minta di jembatan penyebrangan. Gelas plastik yang diletakkan di depannya adalah tempat orang untuk memberikan koin-koin rupiah mereka. Tak ada yang berbeda dengan kebanyakan anak jalanan pada umumnya. Namun ada perbedaan yang tidak pernah saya temui sebelumnya yang dilakukan oleh bocah ini. Anda dapat melihatnya, ia sedang belajar.

Saya juga terkejut ketika melihat anak ini. Saat saya sadar bahwa anak itu sedang belajar, saya langsung terpikir untuk mengabadikannya dengan foto tersebut. Karena terburu-buru dan tak enak dilihat orang, saya memfotonya dengan kamera ponsel saya dan melakukannya secara cepat, sehingga hasilnya mungkin tidak terlalu bagus.

Namun di luar kualitas foto itu, saya ingin mengajak anda belajar sesuatu dari isi foto itu.

Semangat untuk belajar. Tidak seperti anak lain yang juga meminta-minta tak jauh dari posisinya, ia tampak sibuk menjawab buku latihan soal yang ia gunakan. Saya memastikan terlebih dahulu apakah benar itu adalah buku latihan soal pelajaran dengan mendekatinya, dan benar demikian. Ia sibuk mencari-cari jawaban dari soal di bukunya ketimbang meminta-minta dari orang yang lalu-lalang di depannya. Gelas tempatnya mengumpulkan uang dibiarkan begitu saja.

Kita mungkin seringkali menjadikan ketidaknyamanan sebagai alasan kita malas atau tidak mau belajar. Kita seperti membutuhkan kenyamanan penuh agar kita mau dan bisa belajar atau mengerjakan pekerjaan kita. Tapi lihatlah anak itu. Kenyamanan apa? Ketenangan apa? Mejapun tak ada. Kebisingan tak perlu ditanya. Angin malam dan asap kendaraan menerpa-nerpa. Tapi ia bisa dan mau, untuk belajar.

Di antara banyak anak-anak jalanan yang tampak putus asa dan mulai meninggalkan yang namanya belajar, masih ada anak seperti itu. Mungkin saja banyak yang lain seperti dia di luar sana. Saya percaya masih banyak anak-anak bangsa yang lapar akan pendidikan. Bahkan rasa lapar yang melebihi lapar yang dirasakan perut mereka. Yang mereka butuhkan adalah perhatian dari negara. Dan negara itu termasuk kita kawan, mereka butuh perhatian dari kita semua.

Jika saat ini tak ada yang bisa kau lakukan untuk anak seperti ini, hargailah waktumu. Setidaknya hargailah kesempatan berharga yang anda punya, kenyamanan yang anda punya untuk menuntut ilmu jauh dibandingkan anak ini. Jangan sia-siakan kesempatan yang anda punya dengan rasa malas. Anda tidak perlu belajar sambil meminta-minta bukan? Anda tak perlu belajar di jembatan bukan? Jangan bilang anda tak beruntung. Belajarlah mensyukuri fasilitas yang orangtua anda berikan.

Posting kali ini memang lebih saya tujukan bagi anda para pemuda yang masih menuntut ilmu. Semoga saja foto dan kata-kata saya dapat setidaknya sedikit merubah perilaku anda. Kita bisa belajar dari sekeliling kita, termasuk dari orang yang kita kesampingkan dan anggap remeh. Bagaimanapun juga ini hanya opini saya.